Miko, Atlet Renang Disabilitas yang Ingin Jadi Guru

MINGGU, 28 FEBRUARI 2016
Jurnalis: Zulfikar Husein / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber foto: Zulfikar Husein

ACEH — Sejak lahir, kondisi tubuhnya tidak normal seperti anak lainnya. Ia tidak memiliki kaki kiri dan tangan kiri yang cacat. Namun hal itu tidak membuatnya kehilangan asa. Kini, diusianya yang baru 17 tahun, ia menjadi salah satu atlet nasional berasal dari Provinsi Aceh.
Heriyan Tuah Miko, saat berbincang bersama Cendana News
Namanya, Heriyan Tuah Miko. Saat ini ia masih tercatat sebagai siswa kelas 3 Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMA LB) Bukesra, Banda Aceh, Provinsi Aceh. Tak lama lagi, Miko yang lahir di Desa Pondok, Kabupaten Bener Meriah tersebut baru akan mengikuti Ujian Nasional (UN) untuk kelulusannya.
Kondisi fisik yang tidak normal sempat membuatnya hampir putus asa. Namun, semangat dan dorongan ibunya yang bekerja sebagai petani di desa, meyakinkannya untuk menjadi lebih baik meski dengan serba kekurangan. 
“Sempat malu, tapi akhirnya karena ibu selalu memberi motivasi ya akhirnya saya berani dan untuk apa malu, karena ini juga pemberian Allah,” ujar Miko, kepada Cendana News, Minggu (27/2/2016).
Sejak dibangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), Miko sudah rajin mengikuti berbagai event. Baik event dibidang sain pendidikan maupun dibidang olah raga. Meski tidak memiliki kaki, namun Miko sangat hobi bermain sepak bola.
“Saya memainkan hampir semua olah raga, semuanya saya bisa. Tapi, yang paling saha suka itu main bola, meski nggak ada kaki, saya bisa main,” kata Miko.
Ia juga pernah mengikuti ajang Pekan Olah Raga Pelajar Nasional (Papernas) untuk katagori lari dan tolak peluru. Pafa ajang itu, ia berhasil menyabet medali emas untuk katagori lomba lari. Selain itu, ia juga pernah mengikuti lomba O2SN. Tahun ini, ia sedang berlatih dengan giat, jelang penyelenggaraan Pekan Olah Raga Nasional (PON). Nantinya, Miko akan mewakili Aceh di ajang bergensi tersebut di cabang olah raga renang untuk disabilitas.
Cita-cita anak Gayo, Bener Meriah ini sederhana, ia ingin sekali menjadi guru di sekolah disabilitas. Menurutnya, selain mengabdi kepada sesama penyandang disabilitas, menjadi guru tersebut nantinya juga dapat membantu perekonomian keluarganya yang miskin.
Buka tanpa alasan, Miko merupakan satu-satunya anak di keluarga mereka yang masih sekolah. Ia merupakan anak ke 5 dari 6 bersaudara, kakak dan adiknya tidak lagi bersekolah karena tidak memiliki biaya dan sudah bekerja.
 “Cuma saya yang masih sekolah, yang lain nggak ada yang cacat, semua normal, tapi nggak mau sekolah, termasuk adik saya, karena udah kerja, udah tahu cari uang, ya gitulah, karena sejak saya kecil, ayah saya sudah tiada, saya sama sekali nggak pernah liat beliau,” kata Miko.
Saat ini, Miko berjalan dibantu kaki palsu, sementara tangannya dibiarkan tanpa tangan palsu. Sebagai anak dengan kondisi disabilitas, Miko ingin sekali melihat anak-anak yang mengalami kondiai yang sama mau bersekolah. Menurutnya, selama banyak anak-anak disabilitas yang tidak mau bersekolah hanya karena malu, baik si anak dan juga orang tuanya.
“Harapan saya untuk ortu yang punya anak disabilitas, jangan malu sekolahkan anaknya, karena bisa kemungkinan anak itu yang memberi rejeki untuk orang tuanya itu. Karena anak-anak disabilitas itu titipan Allah yang istimewa bagi para orang tua,” ujar Miko.
Lihat juga...