Meskipun Rugi, Petani di Probolinggo Tetap Tanam Bawang Merah

SELASA, 2 FEBRUARI 2016
Jurnalis: Agus Nurchaliq / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Agus Nurchaliq

PROBOLINGGO—Selama ini Kabupaten Probolinggo terkenal sebagai penghasil bawang merah terbesar kedua setelah Kabupaten Brebes. Oleh karena itu walaupun kini sudah memasuki musim penghujan, beberapa petani di Desa Mranggon Lawang Kecamatan Dringu Kabupaten Probolinggo tetap nekat menanam Bawang merah.

Tolahmad, petani bawang merah 

Tolahmad salah satu petani mengaku, setelah panennya kali ini ia tetap akan menanam bawang merah di musim penghujan meskipun nanti hasil panennya menurun. Ia beralasan, dengan menggunakan obat-obatan kemungkinan besar tanaman bawang merah miliknya bisa bertahan hingga panen meskipun hasilnya tentu tidak sebaik saat musim kemarau.
Menurutnya, banyaknya penyakit dan jamur yang menyerang tanaman bawang merah di musim penghujan menyebabkan sebagian petani bawang merah gagal panen.
“Jamur biasanya menyerang bagian daun bawang yang menyebabkan umbi tidak bisa tumbuh dengan baik, busuk dan akhirnya mati,”jelasnya saat di temui Cendana News di lahannya, Senin (1/2/2016). 
Tolahmad mengatakan untuk menjadi seorang petani harus siap untung dan rugi karena semuanya tergantung kondisi alam dan harga di pasaran.
Ia mengaku untuk hasil panennya kali ini kemungkinan besar dirinya merugi. Dari 15 juta rupiah modal yang ia keluarkan untuk membeli bibit, membayar upah tenaga kerja dan obat-obatan, Tolahmad memprediksi dirinya hanya akan memperoleh 12 juta rupiah dari hasil panennya kali ini.
“Bagaimana tidak merugi, harga bawang merah dipasaran sekarang sedang turun, dari yang awalnya mencapai 1,5-2 juta Rupiah per Kwintal, sekarang hanya dihargai 800 ribu per kwintal. Ditambah lagi hasil panen yang menurun saat musim penghujan” ujarnya disela-sela memanen bawang merahnya bersama beberapa pekerja. Ia menambahkan, dari keseluruhan biaya yang dia kluarkan untuk menanam bawang merah, biaya untuk pembelian obat-obatanlah yang paling mahal.
“Menanam bawang merah ini mahal di biaya obat-obatannya,”imbuhnya.
Meskipun Tolahmad mengalami kerugian dari panennya kali ini, ia mengaku tidak kapok dan tetap akan menanam bawang merah dilahan yang dia sewa seluas 500 meter persegi ini.
Menurutnya, di musim penghujan seperti sekarang ini banyak petani bawang merah yang beralih menanam padi. Oleh karena itu dengan tetap menanam bawang merah di musim penghujan ia berharap nanti pada saat panen selanjutnya harga bawang merah bisa tinggi karena ketersediaan bawang merah dipasaran sedikit, ucapnya.
Ia juga berharap agar pemerintah tidak mengimpor bawang merah dari luar negeri.
Lihat juga...