SENIN, 22 FEBRUARI 2016
Penulis: Ebed De Rosary / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Ebed De Rosary
CATATAN JURNALIS—Lekun bagi warga etnis Tana Ai bukan sekedar makanan biasa. Lekun hanya dijumpai saat digelar ritual adat kebun dan ritual menghantar belis. Pembuat Lekun wajib bersih diri dan mengunci mulut dari ucapan kata-kata bernada umpatan dan makian.Pantangan dilanggar, dalam sekejap Lekun akan basi dan tak bisa dikonsumsi. Kenapa hal ini bisa terjadi?
![]() |
| Perempuan etns Tana Tai sedang menumbuk beras di Nuhun (Lesung) memakai Alu untuk membuat Lekun. |
Warga Tana Ai khususnya kampung Wairbou Desa Nebe Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Minggu (21/2/16) menggelar ritual adat Segang. Ritual kali ini berlangsung di kebun Maria Dua Lodan (26) warga Wairbou. (Baca: Segang, Ritual Pendinginan di Kebun Baru oleh Etnis Tana Tai).
Sebuah pondok bambu di tengah kebun,mulai dipenuhi kerabat dan warga kampung yang mulai berdatangan.Jam menunjukan pukul 08.30 WITA, beberapa kerabat terlihat sedang bersantai menyeruput kopi saat Cendana News tiba.
Padi Sisa Ritual
Beberapa perempuan bersama lelaki secara bergantian menumbuk beras di dalam Lesung (Nuhun).Tiga buah Alu dipergunakan guna mempercepat proses penumbukan. Beras yang dipakai harus berasal dari padi sisa tanam saat ritual Pahe Uma Weru dan Uma Ramut yang sudah digelar bulan Desember 2015. Beras tumbuk ditapis dan diayak (Sisi) memakai nyiru (Lida) guna memisahkan bagian yang halusnya.
![]() |
| Markus Moro dan Erik (baju biru) sedang mengkukur kelapa yang akan dicampur beras untuk membuat Lekun. |
“Beras yang dipakai harus dari padi sisa tanam saat ritual awal Pahe Uma Weru. Kami masih ada satu karung padi sisa jadi itu yang kami tumbuk untuk membuat Lekun “ujar Dua Lodan.
Di sebelahnya, seorang lelaki dewasa dan remaja sedang mengupas kelapa. Buah kelapa dibelah dua. Kelapa ini diparut memakai Kukuran (Kukur alat memarut kelapa yang dipasang di ujung landasan kayu). Seraya duduk diatas landasannya tangan kedua lelaki ini lincah menggerakan batok kelapa di ujung Kukuran. Tak lebih sejam 10 buah kelapa selesai diparut.
Maria Severanda (59) sibuk mengaduk dan meremas beras tumbuk, kelapa dan gula merah yang dihaluskan. Dua buah nyiru beras tumbuk dan beberapa baskom ditempatkan di atas bale–bale bambu. Dalam adat Tana Ai Lekun harus dibuat oleh perempuan. Kerabat yang lainnya hanya membantu menyiapkan bahan dan tempat meletakan Lekun.
“Semua bahan diaduk sampai merata. Gula merah dipakai selain sebagai pemanis juga berfungsi membuat warna coklat. Gula pasir juga ditambahkan sedikit untuk memberi rasa manis“ jelas Severanda.
Hati Harus Bersih
Dalam membuat Lekun, orang yang membuatnya harus membersihkan diri terlebih dahulu. Dirinya tidak boleh bermusuhan dengan orang lain,tidak boleh ada dendam dan selama proses pembuatan dilarang mengeluarkan kata–kata kasar, membentak atau memaki. Jika pantangan ini dilanggar maka Lekun yang dibuat langsung basi.
![]() |
| Maria Severanda sedang mengaduk campuran bahan saat membuat Lekun. |
“Saat buat Lekun semua arwah leluhur yang sudah meninggal hadir dan ikut menyaksikan. Jadi kalau hati tidak bersih Lekun yang dibuat seketika akan basi “tutur Agnes Genu (71) isteri Sope, pembuat ritual adat.
Selain dimakan saat proses ritual adat,Lekun juga sebut Agnes,bagi masyarakat Tana Ai selalu diberikan kepada keluarga laki-laki saat hantaran belis.Lekun dipergunakan sebagai pembalasan adat dari perempuan kepada laki–laki. Lekun juga sambungnya diberikan kepada kerabat yang dimintai bantuan mengurus proses pernikahan.
“Lekun dibawa saudari perempuan sebagai bentuk penghargaan bagi kerabatnya. Misalnya anak saya mau urus nikah, saya undang saudari atau ipar perempuan saya, maka saya datang ke rumahnya dengan membawa Lekun “paparnya.
Saat ritual hantar belis, Lekun sebagai balasan dari pihak perempuan kepada lelaki dimasukan kedalam Sope, wadah bulat dari anyaman daun lontar yang diberi motif. Sope tersebut dimasukan lagi ke dalam Teli, wadah sejenis dengan ukuran lebih besar. Biasanya dalam hantaran pembalasan disiapkan 50 Sope yang dibawa oleh 50 orang gadis.
Dibakar
Lekun merupakan makanan tradisional masyarakat Kabupaten Sikka. Selain etnis Tana Ai yang mendiami wilayah timur Kabupaten Sikka, Lekun juga jadi makanan khusus etnis Iwan atau Krowe yang mendiami wilayah tengah Kabupaten Sikka yang tersebar di Kecamatan Kewapante,
![]() |
| Markus Moro dan Erik (baju biru) sedang mengkukur kelapa yang akan dicampur beras untuk membuat Lekun. |
Hewokloang, Kangae dan Bola. Jika etnis Tana Ai memakai beras putih,etnis Iwan membuatnya dari tepung beras ketan hitam (Lekun Saung). Kelapa parut, tepung beras ketan hitam dicampur gula pasir dan gula merah diaduk merata dan dimasukan ke dalam batang–batang bambu lalu dibakar.
Selain menjadi makanan pokok Lekun juga disajikan pula pada upacara-upacara adat, acara penerimaan tamu dan diberikan kepada keluarga lelaki unttuk dibawa pulang saat ritual hantaran belis. Saat disuguhkan, Lekun diiris berbentuk bulat dan disajikan bersama kopi dan teh.
Meski Lekun yang dibuat etnis Tana Ai tidak dibakar namun bisa bertahan sampai dua hari.Lekun orang Tana Ai sebelum ditumbuk, beras direndam memakai air dahulu papar Agnes sementara orang Iwan menambahkannnya dengan sedikit air sebelum dibakar.Bagi masyarakat Tana Ai, setelah selesai dibuat saat ritual adat, Lekun tersebut disimpan di bale-bale pondok dan tidak boleh dicicipi dahulu sebelum Sope (pembuat ritual adat) memakannya.
“Lekun bisa diartikan sebagai makanan perdamaian dan disuguhkan saat-aaat khusus saja seperti ada ritual adat. Lekun tidak dibuat setiap saat dan jadi makanan keseharian. Lekun juga bisa diidentikan dengan makanan adat “ pungkas Agnes.


