Demam Berdarah Renggut Empat Nyawa Warga Maluku

KAMIS, 11 FEBRUARI 2016
Jurnalis : Samad Vanath Sallatalohy / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto: Samad Vanath Sallatalohy 

AMBON — Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Provinsi Maluku, dr. Mielke Pontoh mengakui, empat orang dari tiga daerah menjadi korban meninggal dunia akibat Demam Berdarah Dengue (DBD), yakni Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Maluku Tenggara dan Kota Tual
Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Provinsi Maluku, dr. Mielke Pontoh
“Sampai sekarang, ada tiga daerah yang ditemukan kasus DBD. Untuk Kota Ambon hanya menerima pasien rujukan dari kabupaten Maluku Tenggara Barat ke RSUD Haulusy. Sedangkan pasien dari Kota Tual dirujuk ke RSUD Karel Sasuitubun Langgur untuk menjalani perawatan,” paparnya, di Ambon Kamis (11/2/2016).
Pontoh mengemukakan, mereka yang terserang DBD tidak serta-merta langsung mengalami gejala penurunan kesadaran, namun diawali dengan suhu tubuh yang sangat panas disertai demam. Sehingga terkadang orang tua menyangka hanya demam biasa dan tidak segera dibawa ke rumah sakit.
Disamping itu, posisi rumah yang jauh atau terpencil dengan rumah sakit atau puskesmas juga menjadi salah satu faktor penghambat pasien DBD mendapatkan perawatan medis yang cepat.
“Kendalanya saat gejala DBD tidak serta-merta langsung disertai penurunan kesadaran, namun hanya dengan demam dan keluarga menganggapnya hal biasa, ketika sampai ke RSU sudah dalam kondisi shock,” imbuhnya.
Untuk itu dr. Pontoh menganjurkan kepada semua masyarakat di Maluku, pencegahan awal DBD harus dilakukan sedini mungkin.
“Artinya, jangan sampai timbul genangan air yang dapat menyebabkan nyamuk berkembang biak. Saya kira, bukan upaya penyembuhan dan pengobatan yang diutamakan, tapi pencegahan agar jangan sampai timbul DBD seperti menguras bak mandi, menutup tempat penampungan air, mengubur tempat yang bisa jadi wadah berkembang nyamuk,” jelasnya.
Ditambahkan, aksi pengasapan (fogging) tidak menuntaskan dan hanya membunuh nyamuk dewasa, namun jentiknya tidak mati sehingga perlu ditindaklanjuti dengan proses abatesasi.
“Jika abatesasi ini hanya dilakukan di dalam rumah, sementara di pekarangan tidak dilakukan penyebaran bubuk abate pada botol atau ban bekas maka nyamuk tetap akan berkembang biak dengan mudah,” pungkasnya.
Sementara itu, kasus DBD yang merenggut korban jiwa juga pernah terjadi tahun pada 2015 dengan lima orang yang meninggal dunia karena terlambat dirujuk ke rumah sakit.
Saat ini ada tujuh sampai sembilan provinsi di Indonesia yang sudah ditetapkan Kementerian Kesehatan sebagai wilayah berstatus kejadian luar biasa (KLB) DBD, hanya saja Maluku tidak tergolong yang diidentifikasikan.
Lihat juga...