MINGGU, 14 FEBRUARI 2016
Jurnalis: Henk Widi / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Henk Widi
LAMPUNG—Curah hujan tinggi akibatkan beberapa sungai di Kabupaten Lampung Selatan mengalami kenaikan debit air. Beberapa sungai yang berpotensi mengakibatkan banjir di Kabupaten Lampung Selatan khususnya di Kecamatan Penengahan, Kecamatan Palas, Kecamatan Sragi diantaranya Sungai Way Pisang dan Sungai Way Asahan. Antisipasi meluapnya sungai beberapa langkah dilakukan oleh UPT Pekerjaan Umum di Palas, Balai Besar Wilayah Sungai Mesuji Sekampung (BBWS-MS) Wilayah Provinsi Lampung dengan melakukan normalisasi Sungai Way Pisang.

Proyek normalisasi Sungai Way Pisang sepanjang 2.000 meter yang melintasi 5 desa di Kecamatan Palas telah dilakukan dengan pembuatan tanggul penahan untuk mencegah air meluap hingga ke pemukiman warga. Proses normalisasi dilakukan dengan menggunakan alat berat yang merupakan proyek dari BBWS-MS untuk mencegah banjir.
Salah satu warga yang juga sekligus pengawas proyek mengungkapkan 5 desa yang dilintasi Sungai Way Pisang dan terkena dampak normalisasi sungai antaranya meliputi Desa Sukabakti, Sukaraja, Sukamulya, Pematangbaru, dan Bangunan.
Wilayah sepanjang aliran Sungai Way Pisang merupakan bagian dari Direktorat Jenderal Sumberdaya Air Balai Besar wilayah Sungai Mesuji Sekampung. Sebagian besar air dimanfaatkan warga untuk pengairan ratusan hektar sawah terutama di Kecamatan Palas.

“Awalnya sungai Way Pisang sudah cukup sempit karena saat musim penghujan banjir dan material menimbun bantaran sungai maka dilakukan pelebaran dan pengerukan badan sungai serta meninggikan tanggul dan saat musim hujan ini cukup memantu air tak masuk ke pemukiman warga,”ungkap salah satu warga Dusun Rantau Makmur,Sukamdio (45) kepada Cendana News, Minggu (14/2/2016).
Selama ini ungkap Sukamdio sebelum dilakukan normalisasi aliran Way Pisang, air yang mengalir saat musim penghujan mengakibatkan banjir dan meluap ke rumah warga. Rumahnya yang berada di dekat jembatan dan bantaran sungai bahkan pernah tergenang air setinggi setengah meter akibat luapan air sungai Way Sekampung. Air Sungai tersebut terhalang oleh sampah sampah yang menumpuk di jembatan yang terlalu rendah sehingga menjadikan jembatan tersebut menjadi bendungan.
“Warga di sini menyambut baik langkah pemerintah untuk melakukan perbaikan di aliran Way Pisang dan membuat tanggul yang lebih tinggi agar pemukiman warga tidak tergenang banjir lagi,” ungkap Sukamdio.

Selain normalisasi aliran Sungai Way Pisang yang melintasi tiga kecamatan di Kabupaten Lampung Selatan, upaya mencegah meluapnya sungai Way Asahan juga dilakukan oleh Unit Pelaksana Tekhnis (UPT) Dinas Pekerjaan Umum Kecamatan Penengahan. Upaya pembersihan pintu air di bendungan Sungai Way Asahan dilakukan dengan cara manual dengan pembersihan sampah sampah di pintu air bendungan tersebut.
“Banyak material sampah yang terbawa arus saat hujan sekarang kita bersihkan selagi intensitas hujan belum tinggi namun kemarin sempat meluap sungai Way Asahan dan merendam beberapa petak sawah,”ujar salah satu petugas dari dinas PU, Purwanto.
Selain membersihkan material sampah berupa batang batang pohon, sampah plastik, Purwanto mengungkapkan mereka mendapatkan intruksi langsung dari atasannya untuk membersihkan tumbuhan liar, seperti eceng gondok dan kangkung air. Pembersihan aliran sungai dilakukan untuk memperlancar aliran sungai menuju ke Way Pisang yang berasal dari Sungai Way Asahan.

Ia dan beberapa petugas lain mengungkapkan tumbuhan liar serta sampah yang menumpuk di pitu air dan sepanjang aliran sungai akan sangat membahayakan jika tidak dibersihkan. Selama ini pintu air bendungan Way Asahan dan beberapa bendungan di aliran Sungai Way Pisang menggunakan besi ulir yang bisa diangkat saat air meluap namun jika tak cepat dibersihkan proeses pengangkatan akan sulit karena tertutup sampah.
“Bendungan Sungai Way Asahan tersebut sudah dipenuhi tumbuhan liar yang dikhawatirkan akan menyumbat aliran air sehingga akan menimbulkan banjir. Sedangkan, kondisi cuaca saat ini sudah sering hujan deras,” ungkapnya.
Bendungan Way Asahan merupakan salah satu bendungan cukup vital bagi masyarakat sekitar terutama di Desa Klaten, Desa Pasuruan, Desa Kuripan yang menjadi sumber pasokan bagi lahan pertanian di wilayah tersebut. Bendungan yang dibangun pada masa presiden Soeharto tersebut hingga kini masih bertahan dan dimanfaatkan petani.