JUMAT, 29 JANUARI 2016 Jurnalis: Henk Widi / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Henk Widi
LAMPUNG—Warga Desa Tamansari Kecamatan Ketapang Kabupaten Lampung Selatan memanfaatkan limbah kotoran ternak sapi untuk penggunaan bio gas. Salah satu warga yang memanfaatkan limbah kotoran sapi untuk penggunaan bio gas diantaranya adalah Sutardjo (46) yang memiliki empat ekor sapi.
Ia mengaku ide untuk memanfaatkan limbah kotoran sapi diawali dengan membuat instalasi bio gas dengan modal sebesar Rp3,5 juta. Uang sebanyak itu belum termasuk pemeliharaan dan pembuatan kandang untuk ternak sapi yang menghasilkan kotoran sapi dan merupakan sumber bahan baku bio gas.
“Sebelum menerapkan pembuatan bio gas di rumah, saya mendapatkan pelatihan dari daerah lain yang sudah menggunakan bio gas sebagai bahan bakar untuk keperluan rumah tangga,”ungkap Sutardjo kepada Cendana News di Desa Tamansari.
Instalasi bio gas tersebut dibuat secara mandiri olehnya mulai dari kandang dengan membuat saluran terbuat dari semen. Saluran tersebut mengalirkan kotoran sapi, air seni sapi yang ditampung dalam tabung kotoran terbuat dari semen dengan diameter sekitar 165 centimeter.
Sutardjo mengungkapkan biogas kotoran sapi didapat dari proses kimiawi yang menghasilkan gas dengan bantuan bakteri mikroorganisme.
Pembuatan biogas dari kotoran sapi mesti dalam situasi tertutup dari angin bebas untuk membuahkan gas yang beberapa besar yaitu berbentuk gas metan (yang mempunyai karakter gampang terbakar) serta karbon dioksida, gas inilah yang dimaksud biogas.
“Mudahnya sistem biogas ini awalnya saya gunakan dua kubik kotoran dan diisi dengan air dan didiamkan selama tiga hari dan sudah bisa digunakan,”ungkap Sutardjo.
Sistem fermentasi untuk pembentukan biogas optimal pada suhu 30-55 C, di mana pada suhu itu mikroorganisme dapat merombak bahan bahan organik dengan cara maksimal.
Bak Penampungan Sementara terbuat dari kotak dengan ukuran 0, 5 m x 0, 5 m x 0, 5 m bermanfaat untuk tempat mengencerkan kotoran sapi. Selanjutnya ada bangunan yang disebut digester dan merupakan bangunan utama dari instalasi biogas yaitu digester. Digester berperan untuk menyimpan gas metan hasil perombakan bahan bahan organik oleh bakteri.
Tipe digester yang paling banyak dipakai yaitu jenis pengisian bahan organiknya dikerjakan dengan cara kontinu tiap-tiap hari. Besar kecilnya digester bergantung pada kotoran ternak yamg dihasilkan serta banyak biogas yang di idamkan. Untuk pembuatan digester dibutuhkan bahan bangunan seperti semen, pasir, bebatuan, batu bata merah, besi, cat serta pipa prolon.
Plastik penampungan gas
terbuat berbahan plastik tidak tipis berupa tabung yang bermanfaat untuk menyimpan gas methane yang dihasilkan dari digester. Gas metan lalu disalurkan ke kompor gas.
Berperan untuk alat untuk membakar gas metan untuk membuahkan api. Api inilah yang dipakai untuk memasak.
Bak penampungan kompos
berupa bak menurut Sutardo ini bisa di buat lewat cara mengali lobang ukuran 2 m x 3 m dengan kedalaman 1 m untuk tempat penampungan kompos yang dihasilkan dari digester.
Sesudah peralatan digester tersebut ungkap Sutardjo usai dipasang maka setelah itu yaitu bagian pembuatan biogas dari kotoran sampi lewat cara berikut:
Agar Menghasilkan Biogas Kotoran sapi digabung dengan air sampai terbentuk lumpur dengan perbandingan 1 : 1 pada bak penampung sesaat. Pada waktu pengadukan sampah di buang dari bak penampungan. Pengadukan dikerjakan sampai terbentuk lumpur dari kotoran sapi.
Lumpur dari bak penampungan sesaat lalu di alirkan ke digester. Pada pengisian pertama digester mesti di isi hingga penuh.
Ia mengaku hasil biogas ini tak berbau seperti bau kotoran sapi sehingga bisa digunakan untuk memasak. Digester selalu diisi lumpur kotoran sapi dengan cara kontinu hingga dihasilkan biogas yang maksimal.
Selama penggunaan bio gas untuk memasak serta lampu warga bisa menghemat pemakaian gas elpiji yang dalam sebulan menghabiskan sebanyak 4 tabung ukuran 3kg dengan nilau uang sebanyak Rp80ribu dan sekitar Rp920ribu pertahun.
“Secara ekonomis sangat membantu dan terutama membuat kotoran sapi yang selama ini berserakan di sekitar kandang akhirnya bisa bersih dan bermanfaat untuk energi terbarukan,”ungkapnya.
Pembuatan bio gas secara mandiri tersebut menurut Sutardjo ke depan akan dibuat di beberapa rumah yang ada desa tersebut mengingat peternak sapi di desa tersebut belum memanfaatkan sistem bio gas. Sutardjo mengungkapkan berdasarkan data saat pelatihan saat ini di Kabupaten Lampung Selatan sudah ada sekitar 10 desa dengan 14 titik pemakai bio gas.
Sutardjo berencana akan memberikan pelatihan kepada warga lain pemanfaatan bio gas tersebut yang dinilai mahal saat pembuatan instalasi awal padahal saat perhitungan merupakan sarana untuk penghematan dalam penggunaan energi yang selama ini harus membeli.