Mengenal Srikandi Baruna, Tim Dinas Kebakaran Kota Surabaya

JUMAT, 29 JANUARI 2016
Jurnalis : Charolin Pebrianti / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Charolin Pebrianti

SURABAYA—Tugas utama dari seorang petugas pemadam kebakaran yaitu memadamkan api, namun ternyata tugas mulia yang menantang maut tersebut tidak hanya untuk para pria saja, para wanita pun mampu menjadi petugas pemadam kebakaran. Seperti Srikandi Baruna yang dimiliki oleh Dinas Kebakaran Kota Surabaya. 

Anis Mulyati bersama Srikandi Baruna

Terbentuk sejak Mei 2012 dengan anggota hanya lima orang saja, kini Srikandi Baruna telah memiliki enam belas anggota. Ketua tim regu A, Anis Mulyati mengisahkan bagaimana pertama kali diterjunkan sebagai seorang Srikandi Baruna. Tugas awal yang menyambutnya yaitu pemadaman api di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Jalan Bung Tomo.
“Kami anggota Srikandi sampai berhari-hari memadamkan api disana, bahkan pernah pukul 07.00 WIB saya baru pulang untuk mandi terus ke kantor langsung ke TPA,” kenang wanita cantik ini.
Pengalaman itu tentu sangat berharga bagi Anis, pasalnya jika sebelum menjadi Srikandi ia bertugas sebagai staff administrasi di Dinas Kebakaran selama 10 tahun dan belum pernah turun ke lapangan sebagai tim penyerang (tim pemadam).
“Awalnya kami ragu, apakah kami bisa, apakah kami mampu. Tapi seiring berjalannya waktu kami bisa dan kami harus mampu menghadapi situasi apapun di lapangan,” terangnya.
Srikandi Baruna. Cantik, sigap, tangguh, dan cerdas
Sebelum menjadi seorang pemadam perempuan, anggota Srikandi Baruna ini pun ditempa dalam Diklat (Pendidikan dan Latihan) di Margomulyo selama dua minggu. Materi diklat mulai dari pelatihan pemadaman, bagaimana mengasi kejadian di lapangan dan masih banyak lagi. Selain itu hingga saat ini rutinitas latihan sebanyak 2-3 kali tiap satu bulan.
“Kami pun juga diajari Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD), jadi tidak hanya memadamkan juga menenangkan korban namun kami juga harus bisa memberikan pertolongan pertama pada korban,” ujarnya.
Dalam wilayah Ring 1 atau wilayah kebakaran yang bertugas pertama kali adalah tim pemadam kebakaran. Sehingga meski ada petugas Palang Merah Indonesia (PMI), petugas Dinas Kebakaran juga harus bisa memberikan pertolongan pertama.
“Kalau kami masuk Ring 1, kalau PMI masuknya kedalam Ring 2. Oleh karenanya kami juga harus bisa memberikan pertolongan kepada korban,” tegasnya.
Tugas dari seorang Srikandi Baruna dituntut untuk bisa menguasai apa saja, seperti menenangkan korban, membantu penyerangan (pemadaman), menyalurkan makanan dan minuman ke regu penyerang, dan memberikan PPGD kepada korban.
“Kami harus mengisi celah yang kosong saat kejadian kebakaran. Yang sering terjadi adalah kami harus menenangkan korban yang panik seperti ibu-ibu, wanita dan anak-anak, peran kami disitu sangat terpakai,” tandasnya.
Sebagai seorang Srikandi, pihaknya dituntut untuk terus mengembangkan potensi diri, kualifikasi khusus seperti keberanian, mental, keterampilan, tanggap, cepat dan cantik (pandai merawat diri) harus diutamakan.
“Kami bangga bisa menjadi pemadam kebakaran yang tidak hanya cantik tapi juga cerdas dan tanggap,” imbuhnya.
Kepala Dinas Kebakaran Pusat Kota Surabaya, Chandra Oratmangun menjelaskan keinginannya membentuk tim pemadam dari kaum perempuan karena banyaknya korban yang panik, cemas dan histeris didominasi oleh perempuan, anak dan ibu-ibu maka butuh sosok seorang perempuan untuk menenangkan mereka.
“Kalau bapak-bapak atau mas-mas yang menenangkan kan tidak pas, harus ada seorang perempuan yang menenangkan mereka,” cakap perempuan paruh baya ini.
Chandra menegaskan sebagai seorang Srikandi Baruna bukan ajang berkumpulnya perempuan di lokasi kebakaran tetapi ajang mengembangkan diri sebagai pejuang kemanusiaan. Semua anggota Srikandi Baruna harus memiliki komitmen yang kuat untuk menjalankan tugas sebagai pemadam kebakaran. Meski perempuan identik dengan lemah lembut, tetapi untuk menjadi Srikandi Baruna, modal lemah lembut saja tidak cukup, harus cekatan dalam bekerja karena anggota Srikandi Baruna menggabungkan kelembutan perempuan saat menolong korban dan memaksimalkan kecekatan dan kualitas fisik ketika harus berurusan langsung dengan selang air dan juga api. 
Lihat juga...