SENIN, 4 JANUARI 2016
Jurnalis: Rustam / Editor: Sari Puspita Ayu / Sumber foto: Rustam
KENDARI—Sumber Daya Manusia (SDM) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), sudah siap menghadapi persaingan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tahun 2016 apabila pemerintah daerah (Pemda) berpihak kepada tenaga SDM lokal. Demikian yang disampaikan Hasdar selaku Ketua Gabungan Tenaga Tehnik Indonesia (GATTINDO) Provinsi Sultra.
![]() |
| Hasdar, Ketua GATTINDO Sulawesi Tenggara |
“Banyaknya tenaga asing asal Tiongkok yang masuk untuk bekerja di sektor pertambangan di Sultra, sebenarnya SDM Sultra bukan kalah bersaing. Tapi kemauan dari pihak perusahaan, karena investasi asing,” kata Hasdar kepada Cendana News,, Senin (4/1/2016).
Ia juga menegaskann bahwa tenaga kerja asing yang masuk di Sultra belum diketahui pasti tingkat kemampuan dan keahliannya. karena mereka masuk tanpa dilakukan uji kompetensi keahlian dari lembaga resmi Indonesia.
Uji kompetensi seharusnya diberlakukan karena itu hal utama untuk mengetahui kualitas masing-masing tenaga kerja. Jika diberlakukan uji kompetensi, Hasar sangat yakin bahwa SDM lokal tidak kalah dari tenaga kerja asal Tionghoa tersebut bahkan menurut Hasdar, SDM lokal jauh lebih berkualitas sebagai tenaga kerja bidang tambang di Sultra.
Hasdar kembali menekankan bahwa sesungguhnya tenaga kerja asing sama sekali tidak perlu masuk ke Sultra karena SDM lokal sudah sangat siap mengisi kebutuhan ketenagakerjaan di Sulawesi Tenggara.
“Banyak tenaga ahli Indonesia yang sudah siap bersaing dengan tenaga kerja asing. Hanya memang perlu ada kesamaan visi antara pemerintah dengan tenaga kerja Indonesia dalam menyikapi persaingan MEA,” lanjutnya.
Dari sisi penguasaan tehnologi, diakui bahwa negara luar jauh lebih hebat dari Indonesia. Namun dari sisi penguasaan wilayah, tenaga kerja Indonesia jauh lebih unggul.
Keunggulan lain bila menggunakan tenaga kerja lokal, perputaran uang tidak dibawa keluar negeri. “Uang gaji tenaga kerja lokal tetap berputar di Sultra. Beda dengan tenaga asing, pasti gajinya dibawa pulang ke negaranya,” ujarnya.
Hal senada dikatakan Ari Polopadang, Ketua Asosiasi Rekanan Pengadaan Barang dan Jasa Indonesia (ARDIN) Kabupaten Bombana yang dihubungi Cendana News melalui telpon selulernya.
“Kalau dari sisi kemampuan, tenaga kerja Sultra tidak kalah dengan tenaga kerja luar,” tegasnya.
Ia menambahkan sebenarnya harus ada regulasi yang dilakukan pemerintah dalam menyikapi era persaingan MEA. Sehingga SDM lokal dapat mendapatkan kesempatan kerja dan mampu bekerja dengan baik.
“Jangan karena investasi asing, lalu pihak perusahaan seenaknya meng-import tenaga kerja. Padahal bidang pekerjaan yang mau dikerjakan mampu ditangani tenaga kerja Indonesia. Kecuali ada tehnologi yang belum dikuasai, baru bisa didatangkan,” jelasnya.
Tapi jika hanya operator alat berat, atau pekerjaan lain, Ari meyakini bahwa tenaga kerja lokal masih mampu melaksanakan dengan sangat baik.
Kelemahan lain, khususnya tenaga kerja asal Tiongkok, mereka tidak bisa berbahasa Inggris terlebih lagi bahasa Indonesia. Mereka hanya bisa berbahasa Mandarin, sehingga menyulitkan dalam berkomunikasi dengan orang pribumi dimana ini bisa jadi pemicu kesalahpahaman satu sama lain.