SELASA, 5 JANUARI 2016
Jurnalis: Turmuzi / Editor: Sari Puspita Ayu / Foto: Turmuzi
LOMBOK–Salah satu persoalan yang seringkali dihadapi petani di Nusa Tenggara Barat (NTB), khususnya petani di Pulau Lombok bagian selatan setiap memasuki musim kemarau adalah sering dilanda kekeringan, baik kekeringan irigasi untuk tanaman pertanian maupun kekeringan air bersih untuk kebutuhan konsumsi.

Padahal memasuki musim kemarau biasanya dimanfaatkan petani Pulau Lombok bagian selatan untuk menanam tembakau, semangka dan buah melon. Karena itu mengantisipasi krisis air untuk kebutuhan menanam, warga membuat embung besar sebagai penampung air hujan.
“Embung besar kita buat sebagai penampung air saat musim hujan tiba, sehingga saat musim kemarau nanti petani tidak mengalami krisis air untuk kebutuhan menanam tembakau, semangka maupun melon,” kata Atmaja, petani Desa Pengembur, Kabupaten Lombok Tengah, Senin (5/1/2016)
Atmaja menjelaskan, embung penampung air hujan yang dibuat mampu menampung air untuk mengairi lahan pertanian hingga puluhan are, karena dibuat berukuran besar dan mendalam
Abdul Gani, petani Desa Banyu Urip mengatakan, untuk embung penampung air yang dibuat warga, kedalaman bisa mencapai lima sampai tujuh meter dengan panjang empat sampai lima meter, bahkan lebih, sementara lebar antara dua sampai tiga meter
“Pembuatan embung sendiri menggunakan alat berat yang biasa dipakai mengerjakan jalan, supaya proses pengerukan lebih cepat dan dalam, dimana pembayarannya dihitung perjam, satu jam dibayar enam ratus ribu,” jelasnya.
Lebih lanjut Gani berharap dengan membangun embung besar penampung air tersebut, krisis air saat musim kemarau dan musim tanam tembakau tiba tidak terjadi lagi dan pertumbuhan tanaman tembakau, semangka maupun melon yang ditanam warga bisa berhasil sukses