Aktivis Sosial Maluku: Jangan Maknai Demokrasi itu Hanya Prosedural

SELASA 5 JANUARI 2016
Jurnalis : Samad V. Sallatalohy / Editor: Gani Khair / Sumber Foto : Samad V.  Sallatalohy

AMBON—Aktivis Sosial Kemasyarakatan Maluku, Hasan Sanaky kepada Cendana News di Ambon, Selasa (5/1/2016) menyatakan, seluruh pihak harus mengembalikan demokrasi pada porsinya. Menurutnya, perlu dibedakan antara demokrasi prosedural dan substansial.

Hasan Sanaky

“Jangan ada penafsiran atau kesimpulan bahwa demokrasi itu sebatas prosedural semata,” ujarnya.
Dikatakannya, merujuk pada serangkaian pemikiran kekiniaan, banyak yang menafsir demokrasi itu hanya prosedural. 
“Dimana masyarakat hanya berkutat pada hiruk-pikuk atas imbas kebijakan alam demokrasi. Mulai dari terbukanya akses demokrasi langsung baik lewat pemilu maupun penyebaran dan akses informasi yang lebih merata di ruang publik, serta sikap kritis lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan dalam menganalisa tindakan penyelenggara negara,” ulasnya.
Dia menggaris bawahi, demokrasi itu sendiri memerlukan sebuah sikap kerelaan untuk berkorban dan mengedepankan kepentingan bersama maupun kepentingan kelompok. 
Dikemukakan, memang bukan persoalan mudah untuk mewujudkan demokrasi yang bersifat subtansial, dengan tujuan-tujuan mulia yang dikandungnya.
“Negara dan rakyat adalah dua penopang utama yang saling mengawal sikap satu sama lain. Jika kita lelah dengan kehidupan demokrasi yang cenderung lambat dan memakan korban, maka kita pun lebih lelah dengan kehidupan otoriter yang tidak sekedar mengancam kehidupan kita, namun juga generasi-generasi masa depan Maluku dan Indonesia pada umumnya,” tandasnya.
Lihat juga...