![]() |
| Pembudidaya lebah Lanceng |
LAMPUNG — Potensi hutan kemasyarakatan (Hkm) di Kecamatan Merbau Mataram Lampung Selatan dimanfaatkan warga untuk berbagai keperluan. Selain menjaga ketersediaan air, ketersediaan oksigen, penahan longsor serta ketersediaan hasil hutan masih menjadi penopang ekonomi kerakyatan, masyarakat juga memanfaatkan tanaman hutan yang potensial untuk sumber pakan bagi budidaya perlebahan.
Pembudidaya lebah, Ramlan (56) menyebutkan, setelah mendapatkan pelatihan dari pembudidayaan lainnya serta memanfaatkan potensi yang ada, dirinya melakukan budidaya lebah jenis lanceng yang mudah ditemuinya.
“Lebah lanceng terkadang ada di kandang kerbau milik saya terutama di lubang lubang kayu serta bambu sehingga dari situ saya kemudian mengembangkannya dengan cara memindahkan ke stuf atau tempat untuk lebah,”ungkapnya kepada Cendana News., Sabtu (07/11/2015).
Ia mengungkapkan, selain karena hutan di daerahnya masih cukup terjaga, ia pun mengaku mendapat pelatihan dari seorang pemberdaya kehutanan asal Solo Jawa Tengah, Idi Bantara yang memberinya pelatihan pengelolaan hutan kemasyarakatan. Pelatihan dilakukan dalam bentuk tata cara pembudidayaan, penanganan paska panen serta pemasaran lebah madu jenis lanceng.
Ia mengaku madu dari jenis lebah Lanceng (Apis Trigona sp) memiliki rasa yang khas karena hampir semua madu yang dihasilkan rasanya manis keasaman. Madu lanceng tergolong mahal, lebih mahal dari madu lebah biasa hingga tiga sampai empat kali lipat. Hal ini dikarenakan lebah lanceng hanya mampu memproduksi madu dalam jumlah sedikit dan kental, setiap koloni lebah lanceng hanya menghasilkan 1 sd 2 kilogram per tahunnya.
“Harga jual yang cukup mahal dibandingkan dengan madu lebah jenis lain serta perawatan yang mudah membuat pembudidayaan lebah lanceng ini solusi untuk menambah penghasilan,”ungkapnya.
Ia bahkan menambahkan, niatnya membudidayakan lebah lanceng karena sampai saat ini masih sangat jarang orang yang membudidayakanya. Namun demikian madu ini banyak di buru mengingat kasiatnya yang semakin waktu banyak peminat dan dipercaya sangat baik untuk kesehatan.
Disebutkan, cara pemanenan dilakukan setelah terbentuk bulir bulir madu yang menempel pada dinding sarang. Yaitu dengan cara menyisir atau mengerik dengan sendok secara hati hati kemudian di kumpulkan pada wadah kaca yang bersih. Untuk memisahkan kotoran dapat dilakukan penyaringan dengan menggunakan kain kasa yang halus. Setelah madu disaring, sebelum dikemas pada botol kaca bersih dapat diturunkan kadar airnya hingga diperoleh kadar air madu sekitar 18-20% (madu layak simpan).
Selain madu, hasil lain yang dapat dirasakan langsung adalah Bee Pollen (tepung sari), diambil langsung dari sel lebah berupa tepung berwarna kekuningan, juga Propolis, yang diambil langsung dari penutup/rumah madu lanceng. Lembaran coklat penutup madu lanceng hampir keseluruhan adalah propolis.
Ramlan mengungkapkan, saat ini produksi madu lanceng yang sudah dikembangkannya selama hampir tiga tahun memang belum cukup banyak. Ia bahkan mengaku meski masih swadaya kecil kecilan di kebun miliknya yang berbatasan dengan hutan kemasyarakatan, ia memiliki sebanyak 10 stup (kotak) yang akan dikembangkan lagi saat musim berbunga pohon pohon tertentu.
Ramlan juga mengaku selain memiliki beberapa stuf lebah lanceng, ia memiliki sekitar beberapa stuf madu jenis glodok. Pemeliharaan dua jenis lebah tersebut dilakukan mengingat produktifitas madu lanceng terbilang minim dengan hasil rata rata setahun sebanyak 1,5 liter jauh berbeda dengan madu lebah glodok atau dikenal dengan jenis aphis cerana yang mencapai sekitar 6 liter setahun satu stuf.
“Sebagai pelengkap tapi tetap menghasilkan karena dengan adanya berbagai tanaman buah buahan di sini diantaranya durian, kelengkeng serta tanaman hutan lain menjadi sumber makanan bagi lebah,”terangnya.
Pangsa pasar madu lebah jenis lanceng ungkapnya masih terbatas di jual ke peminat madu lanceng yang dijual seharga Rp100ribu, berbeda dengan madu lebah glodok yang hanya mencapai kisaran Rp70ribu. Sementara jika dijual di apotek bisa mencapai harga Rp150ribu madu lebah lanceng ini.
“Cukup lumayan jika mampu memanfaatkan hutan kemasyarakatan terutama untuk budidaya beberapa jenis lebah meskipun untuk pembidiayaan ini saya menggunakan modal sendiri dan belum mendapat dukungan dari pemerintah daerah,”tegasnya.
Ia mengaku mendapat pesanan dari warga sekitar madu yang diperolehnya dari budidaya lanceng serta budidaya lebah jenis glodok. Meskipun demikian musim kemarau diakuinya menghambat serta berdampak pada berkurangnya produktifitas madu akibat kurangnya pasokan bahan baku berupa pohon pohon yang berbunga.



JURNALIS : HENK WIDI
Bergabung dengan Cendana News pada bulan November 2014. Dengan latar belakang sebagai Jurnalis lepas di beberapa media dan backpacker, diawal bergabung dengan Cendana News, Henk Widi fokus pada pemberitaan wisata dan kearifan lokal di wilayah Lampung dan sekitarnya.
Twitter: @Henk_Widi