Sosok HM. Soeharto di Mata Prajurit TNI Kodam XVI Pattimura

Prajurit TNI AD Kodam XVI Pattimura, Serda Fajri B Yudha
LIPUTAN KHUSUS — Seorang tokoh, memiliki rentang waktu yang panjang untuk bersentuhan langsung dengan berbagai golongan, termasuk masyarakat tentunya meninggalkan pandangan tersendiri. Baik itu dalam segi positif hingga negatif.
Tidak terkecuali presiden ke-2 Negara Kesatuan Republik Indonesia, Almarhum Haji Muhammad Soeharto. Dimata prajurit tentunya juga akan berbeda dalam menilai seorang Jenderal Besar TNI (Purn.). Berikut wawancara singkat dengan seorang prajurit TNI AD lulusan Bintara tahun 2012  yang saat ini berdinas di Kodam XVI Pattimura, Sersan Dua (Serda) Fajri B. Yudha di Kota Ambon Provinsi Maluku, Sabtu (24/10/2015).
CDN: Sejauh mana anda mengenal figur Jenderal Besar Almarhum Soeharto?
Serda Fajri: Figur Soeharto mampu mempersatukan Indonesia.
CDN: Apa yang anda ketahui soal leadership dari seorang Almarhum Soeharto?
Serda Fajri: Setiap pemimpin bukan hanya di Indonesia, pasti memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Soeharto layak memimpin NKRI selama 32 tahun.
CDN: Apa landasannya? 
Serda Fajri: Ya jujur saja anda boleh amati Indonesia kekinian. Bukan saya membela Soeharto ya, tapi kondisi NKRI saat ini tidak seperti masa Jenderal HM. Soeharto. Saya lebih menitikberatkan kepada kepemimpinan Almarhum Soeharto yang mampu menciptakan kedamaian sejati di Indonesia.
Era Soeharto, ketenangan NKRI bisa dibanggakan seluruh rakyat. Alasannya, karena gangguan Kamtibmas sangat minim potensinya. Sekarang Indonesia lebih susah. Kita turut prihatin dimana-mana rakyat mengeluh. Karena kehidupan semakin sulit.
CDN: Rakyat susah?
Serda Fajri: Dulu kita pengekspor beras ke luar negeri. Anda boleh lihat sendiri bagaimana sekarang? Kita amati nasib negara ini di media massa hingga sosial media, rakyat menjerit karena persoalan ekonomi di negara kita tidak stabil.
CDN: Sejauh ini kepemimpinan Almarhum Soeharto dengan pemimpin setelahnya seperti apa yang anda rasakan?
Serda Fajri: Yang saya ketahui dan rasakan, soal hutang negara. Di zaman almarhum Soeharto, sangat minim kita berhutang ke Negara asing. Kita ketahui bersama, pemimpin setelah Soeharto, malah hutang negara kian menumpuk sampai sekarang. Dulu masa Soeharto jarang sekali negara berhutang ke pihak asing. Bahkan negara asing level asia banyak yang bergantung ke ekonomi Indonesia.
CDN: Menurut anda sisi negatif apa yang anda ketahui dari Kepemimpinan Almarhum Soeharto?
Serda Fajri: Saya akui, sebagian masyarakat Indonesia tentu tidak suka dengan gaya kepemimpinan almarhum. Mungkin dari sisi kebebasan. Maksud saya, kebebasan dalam menyampaikan aspirasi, bagi sebagian kalangan dinilai sangat bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. Tapi perlu disadari, ruang kebebasan yang terbuka lebar justru memberikan celah negatif terhadap keutuhan NKRI.
Era Soeharto soal pendidikan kebangsaan sangat utama, sehingga rakyat sadar betul. Walhasil, kecintaan rakyat itu, tetap mengutuhkan NKRI. Anda boleh saksikan moral bangsa saat ini. Generasi kita sangat minim pengetahuan kebangsaan. Saya bukan malaikat. Tapi, bisa kita lihat bersama dan rasakan jelas, kondisi saat ini kita selaku generasi muda Indonesia, soal moral sangat minim.
Memang sebagian masyarakat di Indonesia mengecam kepemimpinan Soeharto. Tapi, bagi prajurit TNI Kodam XVI Pattimura ini, menilai masih ada yang lupa terhadap kontribusi positif Jenderal Besar TNI AD tersebut.
Mari sama-sama kita kembali merenungi hal itu. Di negara mana saja, jika pemimpinnya tidak menstabilkan ekonomi, pasti ada gejolak di tengah rakyat. Saya perlu menggaris bawahi hal ini. Karena di era Soeharto, ekonomi Indonesia bisa beliau kendalikan. Dalam artian ada pihak asing yang bergantung ke Indonesia. Sehingga keamanan di NKRI tetap terkendali.
CDN: Harapan Anda untuk mengembalikan kejayaan Indonesia seperti era Soeharto, apa yang musti dilakukan?
Serda Fajri: Lagi-lagi saya harus sampaikan, lebih utama dibenahi adalah pembentukan karakter wawasan kebangsaan. Inu yang wajib ditanamkan sejak dini terhadap generasi muda penerus Bangsa.
Pendidikan kebangsaan semakin amburadul hingga moral bangsa kian merosot. Seharusnya pembentukan karakter generasi muda Indonesia, ditanamkan mulai di bangku SD hingga ke jenjang perguruan tinggi.
Secara pribadi, wawasan kebangsaan sudah luntur. Sehingga dimana-mana mudah kita temui moral atau mental anak bangsa utamanya kita generasi muda yang jauh dari kultur Ke Indonesiaan sendiri.
Saya juga berharap, soal penegakkan hukum di Indonesia tidak semestinya tebang pilih. Masalah hukum memang luas. Yang utama adalah proses penegakkan hukum di NKRI, jangan lagi seperti istilah trend kekiniaan, maling ayam cepat dihukum. Sedangkan penjahat kelas kakap, justeru terkesan hukum tunduk kepada mereka. Padahal, siapapun orangnya di mata hukum Indonesia adalah sama. Sehingga sudah saatnya penegakkan hukum di Indonesia wajib dikembalikan ke relnya.
Demikian beberapa wawancara singkat dengan Serda Fajri tentang sosok HM Soeharto. Meski hal tersebut tidak mewakili keseluruhan personil, namun hal tersebut menggambarkan selama 32 Tahun memimpin Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Soeharto bukan hanya condong mempertahankan Keutuhan NKRI. Tapi, dalam aspek ekonomi, Almarhum juga membuktikan Indonesia skala nasional, bahkan level asia, mampu membangun ekonomi kerakyatan. Sehingga NKRI dijuluki “macan asia”.
SABTU, 24 Oktober 2015
Jurnalis       : Samad Vanath Sallatalohy
Foto            : Samad Vanath Sallatalohy
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...