| Garuda Pancasila di Skouw Wutung, Perbatasan Papua – PNG |
JAYAPURA—Sebagai pelaku sejarah dalam penumpasan G.30.S/PKI, Soeharto tidak menginginkan tragedi tersebut terulang kembali di masa kepemimpinannya. Kegigihan PKI atau organisasi lain yang menyebarkan faham komunis untuk menggantikan Pancasila dengan ideologi komunis, bagi Soeharto adalah salah satu ancaman yang dihadapi oleh bangsa Indonesia.
Sadar akan ancaman tersebut, Soeharto menggerakkan pemasyarakatan P4, Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (Eka Prasetya Panca Karsa). Penataran P4 sekaligus merupakan bagian yang penting dari pembangunan bidang ideologi, khususnya pemantapan Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa.
“Kenapa P4 itu tidak bisa diteruskan pemerintahan saat ini, Supaya kita bisa selalu ingat Pancasila. Saya beberapa waktu lalu bertanya tentang Pancasila menurut Undang-Undang Dasar 1945, kepada mantan ketua KPU di salah satu daerah Papua, dia jawabnya salah,” ujar Yan, demikian sapaan akrabnya.
Menurutnya P4 sangat penting karena melalui gerakan P4 bisa dicetak calon pemimpin bangsa yang memahami nilai-nilai Pancasila, dan itu merupakan salah satu syarat penting untuk menjadi pemimpin negara Indonesia yang kepualauan dan memiliki keanekaragaman budaya, suku, ras dan agama.
“Sekarang sudah tidak ada P4, padahal P4 itu penting untuk mengingatkan kita semua kembali pada Pancasila dan UU Dasar 1945, kita bersatu dari Sabang sampai Merauke ini karena Pancasila sebagai pandangan hidup pemersatu bangsa. Pancasila jangan jadi catatan yang disimpan dalam lemari atau rak buku saja,” lanjutnya dengan nada tegas.
“Nasionalisme kita ini semakin suram, karena kepentingan-kepentingan lokal, semangat kedaerahan yang mengalahkan semangat nasional. Dulu tidak terjadi macam itu,” ujarnya.
Ia mencontohkan di daerah luar Papua ada gereja yang tidak boleh dibangun pada satu daerah tertentu. Menurutnya, hal itu tidak seharusnya dilarang, lantaran dasar negara Indonesia pada sila pertama Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Menurutnya, sila-sila yang ada dalam Pancasila itu diamalkan, bukan hanya difahal, tapi parahnya ada juga yang tidak hafal.
“Jangan nanti wilayah Aceh kalian makan malam, nanti giliran Papua makan berikutnya, atau di daerah Jawa makan pagi, habis kita tidak dapat makan, mereka saja yang kenyang, padahal Pancasila mengajarkan keadilan,” lanjutnya berapi-api.
Soeharto adalah pemimpin yang sangat memahami dan memaknai Pancasila dalam setiap kebijakannya, terutama kebijakan untuk masyarakat pedesaan. Soeharto mengajarkan bagaimana rakyat kecil hidup bergotong royong membangun desanya dan ia sebagai pemimpin mendukung dengan koperasi dan pelatihan bagi petani. Ia mengangkat harkat dan martabat rakyat kecil dengan pembekalan ilmu agar mandiri. Itu jelas pengamalam nilai-nilai Pancasila.
“Mengapa sekarang nilai-nilai itu luntur, ya karena sudah memudarnya semangat memahami dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Mengapa memudar? ya karena sudah tidak ada gerakan yang membangun pemahaman tentang ideologi bangsa, seperti P4,” tutupnya.
KAMIS, 1 OKTOBER 2015
Jurnalis : Indrayadi T. Hatta
Foto : Indrayadi T. Hatta
Editor : Sari Puspita Ayu