![]() |
| Pedagang di pasar loak Kebayoran |
JAKARTA — Dari Terminal Blok M naik Metromini nomor 74 trayek Blok M-Rempoa, dan Metromini nomor 611 trayek Blok M-Lebakbulus, atau bisa juga dari stasiun Tanah Abang naik commuter line jurusan Serpong, turun di Stasiun Kebayoran kemudian berjalan kaki menyusuri Jalan Masjid Al-Huda kearah fly-over kebayoran akan membawa kita melintasi deretan Pedagang Kaki Lima (PKL) Pasar Loak Kebayoran yang terbentang luas mulai pintu keluar stasiun sampai fly-over Kebayoran.
Sejatinya, PKL pasar loak kebayoran hanya menerima barang-barang dari para pedagang barang bekas keliling yang membeli langsung dari rumah-rumah warga. Namun terkadang ada saatnya mereka menerima masyarakat yang datang langsung untuk menjual barang bekasnya ke pasar loak Kebayoran.
Oleh para pedagang barang-barang tersebut akan diolah kembali menjadi serupa barang baru atau minimal 80-90% layak untuk dijual kembali dengan keuntungan yang lumayan.
Walaupun hanya pasar loak, namun ada saja barang-barang unik dan menarik yang dapat dijumpai di pasar loak kebayoran. Mulai dari piano, lukisan bekas, patung peraga busana wanita, bahkan sampai ada seorang pedagang bernama Dayat tidak tahu nama serta kegunaan salah satu barang dagangannya.
” Dibagian bawah ada travo, lalu didepan ada tombol on-off, akan tetapi saya tidak tahu nama dan kegunaannya. Tadi sempat ada yang menawar lima puluh ribu namun tidak saya lepas karena dia tidak mau memberi tahu saya kegunaan barang tersebut,” jelas Dayat sambil terus mengamati barang dagangan “misterius” miliknya tersebut.
Akan tetapi, nampaknya keunikan serta kepolosan-kepolosan murni seperti itu tidak akan bisa kita jumpai lagi karena ada selentingan kabar tidak enak beredar diantara komunitas pedagang pasar loak kebayoran, yaitu relokasi atau pembongkaran pasar loak kebayoran pasca revitalisasi jalan sekaligus penyempurnaan fly-over kebayoran rampung dilaksanakan.
Seorang pedagang elektronik bekas bernama Sudrajat menjelaskan ada dua komunitas pedagang di kawasan pasar loak kebayoran, yaitu pedagang yang menyewa toko dengan pedagang yang menempati trotoar.
” Kami yang punya toko tidak ada ikatan komunitas, namun buat mereka yang menempati trotoar punya paguyuban. Mungkin untuk merapatkan barisan karena besar dugaan kami jika revitalisasi jalan serta penyempurnaan fly-over selesai maka akan ada operasi penertiban terhadap PKL pasar loak kebayoran, ” urai Sudrajat yang sudah kurang lebih dua puluh tahun berdagang di pasar loak kebayoran.
Kekhawatiran senada juga diutarakan Kopral, pedagang lampion, sparepart kipas angin dan patung peraga busana, yang sudah sejak tahun 1990 berdagang di pasar loak kebayoran.
” Sedih juga jika memang terjadi penertiban. Saya sudah puluhan tahun berdagang disini. Hanya pekerjaan ini andalan saya, ” ujar Kopral singkat.
Harapan para pedagang kedepannya jika sekiranya memang akan ada penertiban maka harus dipikirkan juga solusi bagi mereka selanjutnya. Karena biar bagaimanapun mereka sudah puluhan tahun berdagang di pasar loak kebayoran.
![]() |
| Piano di Pasar Loak |

RABU, 23 September 2015
Jurnalis : Miechell Koagouw
Foto : Miechell Koagouw
Editor : ME. Bijo Dirajo
