Penyanderaan WNI Diduga Karena Sengketa Lahan Bisnis Kayu

ilustrasi [net]
JAYAPURA — Terkait penyanderaan dua warga negara Indonesia (WNI), Ketua Dewan Adat Keerom, Herman Yoku angkat suara. Dia menilai kejadian tersebut tidak terlepas dari masalah sengketa lahan dalam bisnis kayu.
Dikatakan, tidak adanya komunikasi yang baik serta koordinasi dari pengelolah lahan dan masyarakat adat menjadi salah satu pemicu terjadinya permasalahan yang memicu pihak pengelola menggunakan pihak ketiga.
“Tidak kordinasi diantara mereka, kemudian perijinan tidak ada keharmonisan antara warga itu, akhirnya bisa terjadi klaim mengklaim lahan. Pada akhirnya pihak yang merasa tidak puas terpaksa menggunakan pihak ketiga, yang sama sekali bukan warga negara PNG kampung Skouwyaho,” kata Yoku kepada Cendana News, Selasa (15/09/2015).
Pihak ketiga disini antara lain kelompok pelarian dari negara Indonesia, lanjutnya, kelompok itu mengatasnamakan Tentara Pembebasan Nasional (TPN) Organisasi Papua Merdeka (OPM) dan mereka itu kelompok garis keras, yang mana pemimpinnya diduga DPO polisi pada tahun 2006 lalu. 
Sementara itu terkait WNI yang diduga di sandera kelompok kriminal, saat ini pihaknya lebih fokus terhadap masyarakat Skopro, Distrik Arso Timur, Kabupaten Keerom, melalui tokoh-tokoh yang ada, diminta Dewan Adat untuk bertanggungjawab untuk negosiasi terhadap 2 WNI yang berstatus masyarakat batas yang sementara dalam posisi disandera pihak kelompok kriminal. Ia juga mengklaim WNI tersebut masih hidup, karena informasi yang didapatnya benar, bukan isu. 
“Saya tadi pagi baru pulang dari Skopro, Arso Timur. Saya sudah perintahkan kurir khusus dan kepala kampung Skopro untuk sampaikan masyarakat di kampung Skouyaho dan kampung Melben, Distrik Bewani, PNG agar segera dikembalikan dalam waktu 1 x 24 jam, batasnya siang ini. Sandera dikembalikan ke Konsulat RI di Vanimo, PNG. Saya berani bertanggungjawab info saya ini,” tegasnya.
Ditambahkan Yoku, tadi pagi tentara PNG sekitar 3 truk dari Vanimo menuju Distrik Bewani dengan sasaran tujuan kampung Merden dan kampung Skouwyau, mereka melakukan penyisiran disana.
“Infromasi terbaru dari anak buah saya yang dari sana, tadi pagi ada penyisiran yang dilakukan tentara PNG disana,” ujarnya.
SELASA, 15 September 2015
Jurnalis       : Indrayadi T Hatta
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...