KPA Manggarai Berharap Ada Perluasan Layanan VCT Hingga Puskesmas

FLORES — Upaya Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Manggarai, Flores, NTT menangani masalah penyakit Human Immunodeficiency Virus and Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) disadari belum menjangkaui semua sasaran. 
Ketua Pengelola Program KPA Kabupaten Manggarai, Boni Mardianus meyakini, jumlah penderita HIV/AIDS yang berhasil didatai pihaknya sejauh ini belum bisa menjadi gambaran kondisi riil di daerah tersebut.
Mardianus
“Masalah HIV/AIDS di wilayah kita ini ibarat fenomena gunung es. Yang muncul ke permukaan memang seperti yang terdata. Tapi saya sangat yakin, masih banyak sebenarnya yang belum terungkap di kampung-kampung. Mereka ‘kan tidak tahu selagi tidak ada pemeriksaan,” kata Mardianus kepada Cendana News di ruang kerjanya, Selasa (15/09/2015).
Angka yang benar-benar representatif, kata Mardianus, bisa diperoleh apabila jaringan klinik Voluntary Counseling and Testing (VCT) diperluas ke puskesmas-puskesmas. “Karena tenaga untuk itu ‘kan sudah ada di masing-masing puskesmas. Juga ada dari biara, LSM. Kita sudah beri mereka pelatihan. Jadi, tinggal saja pemerintah perlu bangun klinik VCT,” tuturnya.
Mardianus mengakui, layanan klinik VCT di Kabupaten Manggarai sejauh ini masih terpusat pada satu tempat. “VCT yang ada sekarang hanya di RSUD Ruteng. Hanya satu. Ini ‘kan tidak cukup efektif untuk tangani masalah HIV/AIDS di seluruh Manggarai. Itu yang menyebabkan banyak penderita HIV/AIDS itu belum sungguh-sungguh terdeteksi,” ujar  Mardianus.
VCT merupakan metode efektif untuk mendeteksi dan melakukan pencegahan terhadap HIV/AIDS. Metode ini meliputi proses konseling pra-testing, testing HIV/AIDS dan konseling post-testing. Seluruh proses ini bersifat sukarela dan bertujuan untuk menurunkan risiko infeksi dan penyebaran HIV.
Berdasarkan data yang dikeluarkan KPA Manggarai menyebutkan, angka komulatif kasus HIV/AIDS untuk Kabupaten Manggarai sejak tahun 2008-Juni 2009 mencapai 100 kasus. Angka komulatif tertinggi terjadi pada kelompok usia 21-30 tahun, sebanyak 44 kasus. Urutan kedua ditempati oleh kelompok usia 31-40 tahun. Ada pula dari kelompok usia 41-50 tahun, sebanyak 8 kasus. Juga dari kelompok usia 11-20 tahun dan 10 tahun kebawah masing-masing sejumlah 3 kasus.
SELASA, 15 September 2015
Jurnalis       : Fonsi Econg
Foto            : Fonsi Econg
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...