
LAMPUNG — Musim kemarau yang melanda tak membuat hasil pertanian di Lampung Barat Provinsi Lampung menurun drastis. Kontur alam yang berada di ketinggian membuat suhu udara di sebagian besar wilayah ini masih memungkinkan untuk menanam berbagai jenis sayuran dan tanaman palawija bahkan padi dari banyaknya sumber air di wilayah tersebut. Geliat masyarakat di wilayah Lampung Barat bahkan masih terlihat dari profesi yang sebagian besar merupakan petani pekebun diantaranya tanaman kopi serta sawah sawah yang masih menghijau.
Salah satu warga dari sekian warga yang masih terlihat menjual hasil bumi dari kebun miliknya adalah Ismaini, yang tinggal di Jalan Lintas Barat Kecamatan Batu Brak Lampung Barat. Ia merupakan salah satu warga yang tinggal di wilayah tersebut di rumah tinggal yang masih menjaga tradisi berupa rumah panggung terbuat dari kayu. Ia bahkan menjual beberapa hasil bumi yang sudah diolah menjadi kopi bubuk, keripik pisang, keripik singkong, jagung rebus serta beberapa hasil kebun diantaranya ubi rambat.
Saat Cendana News membeli jagung rebus miliknya, ia bahkan masih terlihat merebus dengan sebuah periuk di atas kayu bakar yang masih menyala, jagung yang direbusnya diakuinya merupakan hasil tanamannya sendiri. Selain itu jagung muda yang belum direbus masih disusun rapi di warung sederhana miliknya.
“Masih baru dipetik pak dari kebun kalau mau ada juga pisang serta ubi yang bisa direbus nanti di rumah bapak kalau mau oleh oleh kpi bubuk juga ada di sini nanti bisa diseduh di rumah,”ungkap Ismaini ramah sambil merebus jagung yang akan dibeli Cendana News, Sabtu (12/09/2015).
Ia mengaku berjualan jagung serta hasil bumi lainnya beberapa puluh tahun silam. berjualan jagung rebus, jagung bakar dilakoninya setiap hari sambil menunggu pelintas yang menggunakan sepeda motor maupun kendaraan roda empat untuk sekedar beristirahat dan melepas dahaga. Ia pun mengaku tak menyebut hasil dari jualan jagung serta berjualan hasil bumi yang sudah dilakukannya bertahun tahun yang pasti ia bisa mencukupi kebutuhan hidupnya dari berjualan hasil bumi miliknya.
Bahkan hal tersebut diakui oleh Hindar, yang sudah memebeli jagung rebus di warung milik wanita tersebut hampir sekitar 15 tahun lalu. Tanah yang subur dan suhu yang cocok untuk pertanian di Lampung Barat menjadikan daerah tersebut merupakan wilayah yang menyerupai daerah Bogor di Jawa Barat. Dingin saat pagi hari dan berkabut merupakan hal biasa di wilayah tersebut.
Kearifan lokal warga di wilayah tersebut bahkan masih terlihat dengan bertahannya sang penjual jagung rebus ditengah zaman yang masih modern. Barang dagangan yang dijual dengan cara digantung menjadi lokasi istirahat warga pendatang yang kebetulan melintas untuk menuju ke Liwa, ibukota Lampung Barat. Jagung rebus atau jagung bakar merupakan menu utama di tengah hawa dingin wilayah Lampung Barat.
“Sejak belasan tahun lalu saya selalu mampir di warung ibu ini untuk menikmati secangkir kopi yang dibuatnya sendiri serta jagung rebus dan ia masih berjualan hingga saat ini,”ungkap Hindar.
Menikmati Indahnya Kearifan Lokal
Selain bisa menikmati jagung rebus, jagung bakar serta membawa oleh oleh kopi Lampung Barat. Hal menarik dari wilayah Lampung Barat diantaranya rumah panggung yang terbuat dari kayu dan dibawahnya sengaja dikosongkan sebagai tempat menyimpan ternak dan hasil panen. Hindar yang berasal dari Jakarta mengaku sering melewati daerah tersebut dan sesuai penuturan warga rumah rumah tradisional di wilayah tersebut sudah berumur puluhan tahun bahkan ratusan tahun.
Berdasarkan pantauan, bentuk rumah tersebut dilihat di perkampungan pada beberapa Kecamatan, diantaranya Belalau, Lumbok Seminung, Sukau. Batu Brak dan Balik Bukit. Bentuk bentuk rumah yang masih asli dan unik tersebut sebagimana rumah milik warga Lampung yang masih mempertahankan keaslian sejak pertama dibangun. Jika sudah dimodifikasi biasanya terlihat bangunan dibentuk seperti bangunan asli meski dimodifikasi dengan bangunan dari semen. Tangga tangga kayu di sebelah kiri, kayu kayu berukir, bambu bambu yang berpadu dengan bangunan khas Lampung Barat tersebut masih terlihat kokoh meski dimakan zaman.
“Rumah rumah tradisional di sini memiliki bermacam bentuk dan menyesuaikan dengan kedudukan dan status ekonomi si pemilik rumah, seperti lamban Gedung yang merupakan tempat tinggal Raja,”ujar Hindar yang banyak belajar kehidupan masyarakat setempat.
Uniknya rumah rumah tersebut meskipun terbuat dari kayu, bambu masih bertahan hingga sekarang. Jajaran rumah yang tersusun rapi dengan jalan raya lintas Barat yang melintas membentang membuat jajaran rumah adat Lampung Barat terlihat tersusun rapi. Kerapian yang masih dipertahankan hingga kini dan menjadi contoh tata kota yang sangat rapi meskipun sudah berdiri sejak ratusan tahun lalu.
Kerapian rumah rumah adat serta masih bertahannya rumah adat di Lampung Barat ini menjadi daya tarik bagi para wisatawan terutama yang hendak mengunjungi Pantai pantai di Lampung Barat diantaranya pantai Tanjung Setia yang digunakan turis mancanegara untuk berselancar. Hindar mengaku beberapa wisatawan terkadang mengunjungi Kecamatan Batu Brak untuk melihat dari dekat rumah adat yang masih lestari tersebut.
Penjual jagung rebus yang jumlahnya masih tetap seperti sebelumnya dan kerapian rumah rumah adat kayu tersebut masih menjadi pesona bagi yang berkunjung ke Lampung Barat. Perbukitan dn gunung gunung di wilayah Lampung Barat bahkan masih menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung ke wilayah tersebut yang masih menjaga kearifan lokal dalam hal mempertahankan rumah adat.




SABTU, 12 September 2015
Jurnalis : Henk Widi
Foto : Henk Widi
Editor : ME. Bijo Dirajo