
LAMPUNG — Musim kemarau yang belum berakhir berdampak kepada sejumlah sumur konvensional milik warga, tak terkecuali sumur bor. Dampak tersebut berupa penyusutan debit air bersih meskipun masih bisa ditimba.
Salah seorang warga Kecamatan Sragi Lampung Selatan, Joni Iskandar (34) mengungkapkan, selama ini sumur bor miliknya dipergunakan untuk mengisi dua buah bak penampungan air. Drum plastik penampungan air yang dibuat tower tersebut rata rata bisa menampung air bersih sebanyak 1.500 liter air bersih namun kini setiap dilakukan pemompaan drum penampungan tersebut selalu tidak penuh.
“Saat musim hujan dipompa beberapa menit sudah mampu memenuhi drum di atas tower terkadang hingga tumpah tumpah namun sekarang harus menunggu air di sumur bor cukup untuk disedot,”ungkap Joni Iskandar kepada Cendana News, Kamis (17/9/2015).
Menyiasati hal tersebut, Joni bahkan terpaksa menggunakan jasa penggali untuk membuat sumur bor baru di lokasi yang diperkirakan lebih banyak air. Meski harus mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk biaya pemasangan serta jasa, ia mengaku tetap optimis sumur bor akan membantunya mengatasi dampak.
Joni bahkan mengeluarkan tak kurang dari Rp.8 juta untuk pembuatan sumur bor baru miliknya. Sumur bor pertama yang dibuatnya sekitar 4 tahun lalu masih kisaran Rp.6juta dan kini jasa pembuatan sumur bor bisa mencapai kisaran 7-15 juta rupiah tergantung lokasi dan tingkat kesulitan serta kondisi tanah. Meski mengeluarkan uang cukup banyak, pentingnya kebutuhan akan air membuat ia tetap membuat sumur bor baru.
“Kalau membeli air bersih terus menerus sama aja pengeluaran tinggi tapi kalau membuat sumur bor diharapkan bisa dipakai dalam jangka cukup lama dan lebih efesien,”ujar Joni.
Sementara itu, yang tak memiliki modal cukup untuk mengantisipasi penurunan debit air sumur, beberapa warga sudah melakukan penyuntikan dengan pemanjangan pipa pompa air sumur sekitar 2-3 meter. Kondisi air di sumur saat musim hujan milik warga Sragi bahkan bisa mencapai kedalaman hanya 4 meter, namun saat musim kemarau bisa mencapai 15 meter.
Tak hanya sumur bor yang dibor menggunakan alat khusus, sumur-sumur milik warga di Lampung Selatan yang selama ini dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mulai kering. Kondisi tersebut dimanfaatkan beberapa masyarakat untuk membuka bisnis penjualan air. Warga yang memiliki modal cukup membuat sumur bor dan menjual air bersih bagi warga lain.Tidak tanggung-tanggung pebisnis air ini terkadang menggali sumur bor hingga lima buah di sekitar rumahnya untuk keperluan menjual air ke warga-warga yang membutuhkan.
“Satu drum tedmond dengan kapasitas 1500 liter dijual dengan harga Rp 40-60 ribu. Tergantung jarak tempuh. Kami membeli dari tetangga sebanyak 1 tedmond Rp 40 ribu. Mungkin kalau lebih jauh lagi harganya lebih mahal,” ungkap Arman warga Sragi.
Menurut Arman, kondisi tersebut selalu terjadi setiap tahun. Kekurangan air akibat sumur mengalami kekeringan sehingga memaksa warga untuk membeli air. Kondisi tersebut juga membuat penjual air cukup banyak. Bahkan ada yang mengairi rumah warga seperti PDAM dengan bayaran Rp. 100-120 ribu per bulan atau membeli air dari perusahaan penyedia air swasta.
“Waktu mengalirnya juga tidak setiap waktu. Ada waktu-waktu tertentu seperti pagi dan sore. Rumah warga yang dilewati pipa-nya bersedia. Namun yang tidak sampai akan membeli air menggunakan tedmond,” katanya.
Lain halnya dengan Joni dan Arman, Kholil warga Sukarandeg Sragi mengungkapkan ia telah membuat bak penampungan besar di samping rumahnya yang digunakan untuk mengantisipasi kekurangan air saat musim kemarau.
Seperti saat ini kata dia, sebagian sumur warga mulai mengalami kekeringan karena kemarau sudah terjadi hampir satu bulan. Saat ini warga sudah mulai mengantisipasi kekurangan air dengan mengisi bak-bak penampungan. Selain itu kata dia, warga juga mulai melakukan penghematan penggunaan air.
“Kami berharap meski musim hujan masih diperkirakan lama namun kebutuhan akan air bersih masih tetap bisa dipenuhi menggunakan sumur bor atau sumur biasa,”ujar Kholil.
Penghematan air oleh warga disiasati dengan mandi di sungai yang airnya masih mengalir seperti sungai Way Pisang dan beberapa sunagi lain. Beberapa warga bahkan terpaksa membuat cekungan atau galian di dasar sungai untuk menangkap rembesan air sehingga memperoleh air bersih untuk mandi. Sementara air sumur yang terbatas digunakan hanya untuk memasak dan kebutuhan air minum.

KAMIS, 17 September 2015
Jurnalis : Henk Widi
Foto : Henk Widi
Editor : ME. Bijo Dirajo