Debit Air Menyusut, Warga dan Kendaraan Langsung Seberangi Sungai

LAMPUNG — Menyusutnya debit air akibat musim kemarau, warga yang menggunakan jembatan gantung lebih memilih berjalan di bantaran sungai yang lebarnya mencapai 15-20 meter tersebut dan di beberapa bisa mencapai 30 meter.
Tidak hanya itu, Debit air sungai yang menyusut pada musim kemarau dimanfaatkan oleh warga setempat untuk melakukan aktifitas mengumpulkan batu kali dan warga pun bisa beraktifitas ke pasar tanpa harus melewati jembatan gantung.
Seperti yang dilakukan oleh pelajar yang setiap harinya melewati jembatan gantung dan berjalan beberapa kilo untuk ke sekolah memamfaatkan menyusutnya debit air untuk menyeberangi sungai tanpa melalui jembatan meski harus membuka sepatu.
Salah seorang warga, Tono Suratno mengungkapkan, saat musim kemarau warga dan siswa yang bersekolah bisa melintasi sungai yang membentang di dua kabupaten yakni kabupaten Lampung Barat dan Kabupaten Pesisir Barat. Bahkan beberapa siswa yang menggunakan sepeda motor terlihat menyeberangi sungai meski harus melepas sepatu yang dikenakan. 
Sungai Way Haru mulai mengalami pendangkalan semenjak tiga tahun belakangan akibat semakin banyak bukit yang gundul akibat penebangan hutan. Kondisi tersebut bahkan membuat sungai yang biasanya memiliki kedalaman sekitar 2 hingga 3 meter hanya sebatas mata kaki dan bisa dilalui oleh kendaraan bermotor bahkan mobil.
“Saat musim hujan sungai ini tidak bisa diseberangi oleh siswa sekolah maupun warga sehingga warga dan siswa sekolah terpaksa menggunakan jembatan ganung yang panjangnya mencapai 20 meter,”ungkap Tono.
Sementara itu, Doni, salah satu siswa Sekolah Menengah Pertama di SMP Bandar Negeri Suoh mengaku sejak SD ia sudah terbiasa melintasi SUngai Way Haru untuk bersekolah. Saat kondisi hujan ia pun bahkan terpaksa melewati jembatan gantung yang licin serta bergoyang saat dilintasi namun saat musim kemarau ia bisa melewati sungai dengan berjalan kaki. Ia mengaku di jalur jalan desa yang dilalui oleh masyarakat di wilayah tersebut belum ada jembatan permanen sehingga warga masih menggunakan jembatan gantung.
“Kalau sekolah pernah kami harus mengantri untuk melewati jembatan gantung karena saat pagi hari semua menggunakan jembatan gantung tapi ada yang masih melewati sungai meski harus mengangkat sepatunya terlebih dahulu,”ujar Doni yang duduk di kelas IX tersebut.
Kondisi jalan desa yang masih jalan tanah bahkan memaksa Toni harus melepas sepatunya dan memakainya di sekolah pada saat musim hujan. Ia berharap jembatan permanen bisa dibangun untuk penghubung di atas sungai Way Haru yang bisa dilintasi oleh warga untuk beraktifitas sehari hari.
JUMAT, 11 September 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...