
LAMPUNG — Masyarakat agama Hindu Bali di Kecamatan Candipuro Lampung Selatan melangsungkan upacara Pitra Yadnya di Desa Trimomukti dan dilangsungkan di tempat yang sudah disiapkan sebelumnya.
Panitia Upacara Pitra Yadnya, I Made Sudi mengatakan, Upacara Pitra Yadnya merupakan upacara persembahan suci yang tulus ikhlas bagi manusia yang telah meninggal dan pengabenan secara massal yang dilakukan masyarakat setempat dalam kurun waktu lima tahun sekali.
Acara ngaben massal dilakukan untuk meringankan beban masyarakat yang kurang mampu karena jika dilakukan sendiri-sendiri membutuhkan dana yang cukup besar mencapai ratusan juta rupiah. Selain itu prosesi ini merupakan ritual suci umat Hindu turun temurun yang harus dilestarikan sebagai keberagaman tradisi di Lampung Selatan.
“Jika dilakukan secara massal mungkin keluarga yang mengikuti hanya mengeluarkan dana Rp.6 juta, sehingga ini semacam gotong royong dalam melakukan pengabenan dan semua biaya dipikul secara bersama oleh masyarakat,”ungkap I Made Sudi kepada Cendana News, Minggu (23/8/2015).
Pada acara tersebut kata dia, terdapat 108 jasad yang dingabenkan, terdiri atas 37 sawe (jasad orang dewasa) dan 71 ngelungah (jasad anak-anak) yang diharapkan ruhnya akan mendapat tempat suci di khayangan (surga).
“Namun prosesi ngaben ini bukan jasad secara fisik, namun ruh orang yang telah meninggal agar kembali kepada sang pencipta,” tambah dia.
Salah satu warga lain, Made Subawe (35) mengungkapkan, dari kegiatan tersebut dia merasa terbantu, sebab ia mengaku bisa mengabenkan jasad anaknya yang meninggal karena sakit. Ia bersyukur bisa memenuhi kewajibannya sebagai umat Hindu dan tetap bisa menjaga kebersamaan dengan warga lainnya.
Menurutnya, acara seperti ini membawa kultur agama dan tradisi masyarakat sehingga sangat perlu mendapat perhatian agar tetap dilestarikan di daerah itu. Upacara ngaben massal tersebut selain menjadi upacara suci, namun kegiatan tersebut menjadi tontonan menarik bagi warga lainnya bahkan dari luar Kecamatan Candipuro yang ingin melihat dari dekat prosesi ngaben massal tersebut.
“Saya belum pernah melihat ngaben massal seperti ini sehingga sewaktu diajak kawan saya melihat untuk mengetahui prosesnya,”ujar Budi, salah satu warga Bandung yang sedang berlibur di rumah salah satu kawannya di Candipuro.
Dari pantauan, kaum wanita yang mengikuti prosesi Pitra Yadnya tersebut membawa persembahan persembahan yang diletakkan di atas kepala mereka, sementara kaum laki laki mengenakan ikat kepala (udeng) khas yang dipergunakan untuk persembahyangan dan bertugas mengangkat sawe dan ngelungah yang disiapkan dalam tempat khusus.
Puluhan Sawe dan ngelungah yang sudah disembahyangkan secara bersama-sama selanjutnya dilangsungkan pengabenan diiringi doa doa khusuk para anggota keluarga yang turut serta dalam pitra yadnya tersebut.
MINGGU, 23 Agustus 2015
Jurnalis : Henk Widi
Foto : Henk Widi
Editor : ME. Bijo Dirajo