
KENDARI—Tujuh hari sesudah peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI, tepatnya tanggal 24 Agustus, diperingati sebagai hari jadi TVRI (Televisi Republik Indonesia). Sebagai televisi siaran Indonesia pertamakali, TVRI telah 53 tahun menyatukan Indonesia. Keberhasilan TVRI mengudara hingga ke pelosok negeri, tentu ditentukan oleh adanya TVRI Daerah, salah satunya Sulawesi Tenggara.
“TVRI Pusat, besok (Selasa, 24 Agustus 2015, genap berusia yang ke 53 tahun. Tetapi kalau TVRI Sulawesi Tenggara sendiri baru berusia 7 tahun,” jelas Akmal Tantu yang ditemui Cendana News pada hari Minggu (23/8/2015) di ruang kerjanya di kantor TVRI Sulawesi Tenggara Jl. Jend. A. Yani No.71 Wua-Wua, Kendari.
Ia menjelaskan pada awalnya TVRI Sulawesi Tenggara hanya berperan sebagai stasiun pemancar, dengan jumlah pemancar sebanyak 12 di seluruh Sulawesi Tenggara. Sebagai stasiun pemancar, TVRI Sulawesi Tenggara tidak bisa memproduksi apalagi menyiarkan, semua materi siaran dari TVRI Nasional. Lalu, berubah menjadi SPK (Siaran Produksi Keliling). Dengan naik peringkat sebagai SPK, TVRI Sulawesi Tenggara sudah bisa memproduksi tetapi belum bisa menyiarkan, jadi proses penyiaran masih dilakukan oleh TVRI Pusat.
![]() |
| Akmal Tantu |
“Baru pada tanggal 23 Juli 2007, TVRI Sulawesi Tenggara menjadi Stasiun Penyiaran. Sejak saat itu TVRI Sultra bisa memproduksi acara lokal sekaligus menyiarkan, jadi kalau ulang tahun TVRI Sulawesi Tenggara sendiri ya tanggal 23 Juli” lanjut lelaki yang menyebut dirinya sebagai Komandan Berita di TVRI Sultra ini.
Ia menceritakan aneka ragam perlombaan yang diadakan TVRI Sultra dalam menyamput hari jadi TVRI, diantaranya lomba balap karung dan volley “buta”, semua perlombaan yang diadakan hanya bisa diikuti oleh kalangan internal. “Penyerahan hadiah pemenang lomba akan diserahkan esok sesudah upacara peringatan HUT TVRI ke-53,” lanjutnya.
Akmal Tantu memulai karirnya di TVRI Sulawesi Selatan, ia dipindahkan ke Sulawesi Tenggara 4 tahun terakhir sebagai “Komandan Pemberitaan” yang memimpin 6 reporter, 6 kameramen dan 2 editor.
Dengan masa pengabdian lebih 30 tahun, ia tentu menjadi bagian dari perubahan demi perubahan yang ada dalam TVRI. Ketika ditanya tentang perbedaan paling mencolok antara masa lalu dan masa kini selama ia bertugas, ia menjelaskan, kalau dulu perlengkapan terbatas, dan sangat berat. Ia mencontohkan BCN (alat vtr) dan perlengkapan audio, Semua perlengkapan berat itu harus dibawa jika siaran ke pedalaman, jika sekarang, perlengkapan lebih praktis.
Selain masalah perlengkapan, ia juga menceritakan bahwa dulu, reporter TVRI jika tiba di satu lokasi, disambut bak pahlawan, diperlakukan dengan sangat luar biasa layaknya tamu istimewa oleh masyarakat, jika sekarang, karena sudah banyak stasiun televisi, hal itu sudah tidak terjadi lagi.
Sungguh pun demikian, menurut Akmal, TVRI tetaplah TVRI, tidak bisa disamakan dengan televisi lain, “setidaknya begitulah pengalaman saya di Sulawesi. Pernah terjadi di Sulsel, saat acara pelantikan pejabat, TVRI terlambat hadir di lokasi, pejabat tersebut minta acaranya diulang ketika tahu TVRI baru tiba,” jelasnya tanpa mau menyebut acara pelantikan yang dimaksud.
Akmal yakin, walaupun televisi swasta semakin banyak dan digemari, tetapi TVRI tetap memiliki penonton setia, karena TVRI tetap memiliki acara yang tidak dimiliki oleh stasiun televisi swasta, diantaranya acara lagu-lagu daerah. Dan yang pasti hanya ada satu “Sosoito” yaitu di TVRI Sulawesi Tenggara.
Setiap pembawa acara apapun di TVRI Sultra selalu menggunakan salam “Sosoito”, “Sosoito itu maksudnya cocok lah, atau oke lah, jadi TVRI Sultra Sosoito artinya TVRI Sultra Oke lah,” ujarnya sambil mencontohkan gaya mengucap sosoito gaya TVRI Sulawesi Tenggara.
MINGGU, 23 AGUSTUS 2015
Jurnalis : Gani Khair
Foto : Gani Khair
Editor : Gani Khair
