Melihat Lebih Dekat Masjid Gede Kauman Yogyakarta

Masjid Gede

YOGYAKARTA – Saat Ramadhan seperti ini, momentum menguak jejak-jejak sejarah religi di berbagai tempat di nusantara sangatlah pas. Salah satunya di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta. Masjid yang berdiri di pusat kota ini menyajikan arsitek masa lalu yang sungguh indah. Berada di sebelah Barat, sisi depan Kraton Yogyakarta.
Masjid ini dibangun dengan arsitekturalnya yang kental dengan nuansa Kraton. Atap masjid menggunakan sistem atap tumpang tiga dengan mustaka yang mengilustrasikan daun kluwih dan gadha. Sistem ini bermakna kesempurnaan hidup melalui tiga tahapan kehidupan manusia yaitu, Syare’at, Makrifat dan Hakekat.
Masjid ini secara fisik berdiri di kampung Kauman.  Sedangkan untuk nama Kampung Kauman ini biasanya cukup di kenal, tidak hanya di Yogyakarta, namun juga dikenal di seluruh Jawa Tengah & Jawa Timur, bahkan sebagian di Jawa Barat. Ciri Khas Kampung Kauman sama, yaitu dihuni sebagian besar kaum muslimin yang aktif, bahkan tempat tinggal para ulama.
Kampung Kauman Yogyakarta sendiri, juga memiliki nilai historis antara lain :
1. Sengaja didirikan oleh Sultan HB I sekitar 1760-an, setelah Perjanjian Giyanti, dan setelah berdiri Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat dan Masjid Gedhe. Fungsinya sebagai Pejaga & Penegak Ruhaniyah Islamiyah Kraton sebagai kerajaan Islam, dan memakmurkan masjid.
2. Tempat tinggal Penghulu ( Pemimpin Keagamaan Islam ) Kraton Ngayogyakarta Hadinigrat, dan tempat tinggal para ulama kraton yang memakmurkan masjid dan upacara-upacara keagamaan.
3. Terjadi perkawinan Indogami Kampung yang menyebabkan satu kampung Kauman punya hubungan famili. Selain itu juga sebagai sentral perkawinan dengan kampung kampung santri lain dari sekitar Yogya, sampai Pekalongan, Jombang, Tuban, dan sebagainya.
4. Penggerak perjuangan perlawanan terhadap kolonial, baik sebelum Pro-
klamasi Kemerdekaan, maupun dalam perang mempertahankan kemerdeklaan. Sebagai Markas APS ( Asykar Perang Sabil), Hizbullah dan Sabilillah.
Untuk itulah kenapa Pembangunan masjid Gede ini tidak terlepas dari berdirinya Kasultanan Yogyakarta.
Tahun 1867 Bangunan masjid ini pernah di renovasi, karena gempa besar yang meruntuhkan bangunan asli serambi masjid. Lantai dasar masjid terbuat dari batu kali kemudian diganti marmer dari Italia. Pesona lainnya adalah pada pemasangan batu kali putih pada dinding masjid yang tidak menggunakan semen atau unsur perekat lain dan penggunaan kayu jati utuh (berusia lebih 200 tahun) sebagai penopang bangunan masjid tersebut.
Saat Ramadhan di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta ini, ada menu spesial untuk berbuka puasa selama Ramadhan. Setiap hari Kamis, masjid ini akan menjamu jamaahnya, berbuka dengan gulai kambing. 
Berbuka dengan gulai kambing ini telah berjalan selama puluhan tahun,menjadi sebuah tradisi . Tradisi ini dimulai sejak 1955 saat era kepemimpinan Sultan Hamengku Buwono IX. Seperti yang di utarakan salah satu pengurus masjid.
” Setiap hari Takjil bisa 1.000 an lebih bahkan sampai 1.400an. Yang spesial hari Kamis. Karena berbeda dengan hari biasanya, masakannya gulai kambing,” ujar pengurus masjid seksi konsumsi Takjil Masjid Gedhe Kauman Jujuk Haryadi.
Bahkan banyak donatur berebut untuk bisa menyumbangkan hidangan berbuka pada hari Kamis.
Kegiatan yang menyemarakan ramadhan digelar dengan berbagai acara seperti pengajian, tadarus, tarawih ,serta kajian-kajian agama lainya. Sebuah tradisi saat Ramadhan, yang masih ada, dan akan terkenang sepanjang jaman.

——————————————————-
JUMAT, 19 Juni 2015
Jurnalis       : Mohammad Natsir
Fotografer : Mohammad Natsir
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...