Keberadaan Travel Liar Dinilai Mengganggu Kenyamanan di BIM

Pintu Masuk Bandar Udara Internasional Minangkabau
PADANG – Bandara Internasional Minangkabau (BIM)  yang menjadi bandara sentral di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) setalah bandara di Simpang Ampek, Kabupaten Pasaman Barat. Meski bandara yang saat ini melayani rute domestik hingga internasional, namun belum dikelola dengan maksimal.
Itu terbukti, dengan banyaknya jasa travel liar yang sering memaksa penumpang yang baru saja turun pesawat untuk memakai jasanya. Tepat di bibir pintu kedatangan, puluhan sopir dari travel yang tidak berizin tersebut memaksa bahkan tak jarang menarik barang bawaan penumpang yang baru datang.
“Ini sudah lebih dari tiga tahun, selama saya bolak-balik Jakarta-Padang hanya di BIM yang seperti ini sopir travel liarnya, sudah rahasia umumlah, di setiap bandara ada travel liarnya. Namun yang ada di Padang ini keterlaluan. Dalam setahun, setidaknya saya 10 kali bolak-balik Jakarta-Padang dan masih saja para travel liar itu mengganggu setiap balik ke Padang,” ujar Fauzi, seorang pengusaha tekstil di BIM, Kamis (11/6/2015) pagi.
Para sopir travel liar yang mengganggu ini, tak jarang menggunakan kata-kata kasar dalam bahasa minang. Dan tidak segan untuk menarik barang bawaan penumpang yang baru saja keluar dari pintu kedatangan. Mereka juga meminta bayaran diatas harga Normal, untuk ke Bukittinggi para sopir travel liar ini mematok harga Rp 50.000 hingga Rp 80.000. Padahal ongkos travel resminya hanya berkisar Rp 30.000 sampai Rp 40.000.
“Barang saya ditarik-tarik dan dipaksa untuk memakai jasa mereka padahal keluarga yang menjemput sudah berada didekat saya,” ujar Nevi, salah seorang mahasiswi yang pulang kampung ke Padang.
Ketidaknyamanan ini tidak ditanggapi pihak bandara, satpam yang berjaga seolah tidak melihat dan mendengar. Dari pantauan sejak pukul 08.00 WIB hingga pukul 11.00 WIB, setelah pesawat landing dan para sopir travel liar ini akan mengerubuni para penumpang yang baru keluar dari pintu bandara.
Sangat susah membedakan mereka dengan penunggu atau keluarga dan penjemput penumpang lainnya, karena mereka juga berpakain bebas dan berpencar.
“Triknya, orang tidak dikenal yang mendekati adalah travel liar dan kemungkinan penjahat, kalau kami sopir taksi tidak begitu, kami berseragam dan menunggu di tempat yang telah ditetapkan,” ujar Asda, salah seorang sopir taksi.

——————————————————-
Kamis, 11 Juni 2015
Jurnalis       : Muslim Abdul Rahmad
Fotografer : Muslim Abdul Rahmad
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...