Sukamulya Kampung Pembuat Genteng dari Generasi Ke Genereasi

Penjemuran Genteng yang siap diolah sebelum dibakar
CENDANANEWS(Lampung)– Kampung atau Desa Sukamulya Kecamatan Palas menjadi satu daerah yang rata ata warganya menjadi pengrajin batu bata, genteng. Bahkan secara khusus di Dusun Blora yang terdiri dari sekitar 200 Kepala Keluarga hanya sekiyar 16 warganya yang berprofesi lain diantaranya sebagai pedagang dan wiraswastawan.
Demikian diungkapkan oleh Sarji (41) salah seorang warga Dusun Blora yang mengaku pernah mendata jumlah pengrajin usaha batu bata dan genteng di daerah tersebut. Dua diantara ratusan pengrajin genteng yang masih terus berproduksi adalah Sarji dan Kasimun (65) sang ayah.
Kasimun sang ayah mengaku sudah menjadi pengrajin pembuatan genteng sejak masih berada di daerah asalnya di Kediri Jawa Timur. Setelah sang ayah yang tinggal di kediri menekuni usaha pembuatan genteng ia pun membantu sang ayah membuat genteng sehingga sampai dirinya sudah berkeluarga ia pun melanjutkan usaha sang ayah.
“Memang sejak dari Kediri kami memiliki usaha pembuatan genteng sehingga akhirnya kami pindah ke Sumatera di Lampung ini kami masih melanjutkan usah tersebut,”ungkap Kasimun kepada media ini Rabu (13/5/2015).
Selain karena sudah memiliki keahlian pembuatan genteng, Kasimun mengaku dirinya pindah ke Lampung dan menempati lahan yang kini menjadi tempat tinggalnya sekitar tahun 1982. Saat itu lahan yang ada di daerah Sukamulya merupakan lahan tanah putih padas, beberapa diantaranya bukit bukit berstruktur tanah liat.
“Bahan baku pembuatan tanah liat tersedia cukup banyak sehingga saya pun akhirnya membuat genteng dengan pembuatan secara manual,” ungkap Kasimun.
Diakuinya sejak tahun 1982 ia bahkan sudah membuat genteng jenis genteng cepek yang belum menggunakan alat cetak modern. Saat itu harga perseribu genteng masih seharga Rp15ribu. Sementara saat pergantian tahun hingga kini harga genteng mencapai Rp700ribu perseribu genteng.
Kasimun juga akhirnya menurunkan usaha pembuatan genteng tersebut kepada sang anak sehingga anak anaknya pun memiliki usaha sama, menekuni pembuatan genteng. Meski zaman sudah modern namun pembuatan genteng yang dilakukan dengan sistem pencetakan masih dilakukan secara manual.
“Kini warga di sini rata rata sudah beralih dari pembuatan genteng jenis ceper ke genteng jenis mantili,”ungkap Kasimun.
Seiring makin susah mencari bahan baku di Kecamatan Palas sehingga akhirnya warga mulai mendatangkan dan membeli bahan baku berupa tanah liat dari daerah lain. Kasimun dan Sarji mengaku membeli bahan baku jenis tanah liat permobil 110ribu dan bisa diolah menjadi sekitar 1.000 genteng.

Bahan baku tanah liat tersebut setelah diolah dan dicetak menjadi genteng selanjutnya menurut Kasimun akan diangin anginkan atau dijemur di terik sinar matahari hingga kering. Jika sudah kering dan belum akan dibakar genteng tersebut akan disimpan di “Berak” yang merupakan rumah khusus pembuatan dan penyimpanan genteng sebelum dibakar.
Jika jumhal sudah cukup banyak dan pemesan siap membeli genteng maka genteng yang sudah kering akan dibakar di tempat khusus yang bernama “tobong”. Proses pembakaran tersebut dilakukan selama sekitar sehari jika dikerjakan secara upahan.
Sarji, anak Kasimun mengaku mengupah sekitar Rp75ribu untuk sekali proses pembakaran yang memakan waktu selam asehari. Sementara jika dikerjakan sendiri maka akan dilakukan selama tiga hari.
Harga genteng yang sudah dibakar tersebut ke pembeli langsung menurut Sarji mencapai Rp700ribu perseribu genteng dan ongkos muat serta bongkar serta kendaraan belum termasuk.
Sarji mengaku selain kendala permodalan dirinya mengaku kondisi cuaca juga berpengaruh pada produktifitas pembuatan genteng miliknya. Jika musim hujan maka proses pengeringan dengan sinar matahari akan semakin lama dan biaya produksi akan menjadi lebih banyak.
Sementara biaya operasional mulai dari membeli bahan baku, membeli kayu bakar seharga Rp350ribu per mobil sudah cukup besar. Hasil yang diperoleh dari penjualan genteng tersebut dipergunakan untuk membeli bahan baku dan sisanya dipergunakan untuk kebutuhan sehari hari keluarganya.
Sarji mengaku akan terus menekuni usaha turun temurun yang diwariskan oleh keluarganya tersebut. Bahkan Kasimun sang ayah terus memberi suport kepada sang anak untuk tetap menekuni usaha ini meskipun kendala modal dan juga kesulitan lain menghalanginya.
“Pembuatan genteng menjadi usaha keluarga kami dan telah menghidupi kami selama bertahun tahun, ini merupakan berkat sehingga kami akan bersyukur atas hasil berapapun yang kami peroleh,” ungkap Sarji.
Sang ayah,Kasimun mengaku akan membakar sebanyak 7.000 genteng untuk dijual kepada pemesan yang sudah seminggu lalu memesan genteng kepadanya. Ia berharap genteng buatannya masih diminati oleh para pembuat rumah karena kualitas yang bagus dan selama ini belum ada konsumen yang komplain terkait genteng buatannya.
Genteng yang sudah dibakar, siap dipasarkan
————————————————-
Rabu, 13 Mei 2015
Jurnalis : Henk Widi
Foto     : Henk Widi
Editor   : ME. Bijo Dirajo
————————————————-
Lihat juga...