Persipura Jayapura Tolak Liga Indonesia dibawah Tim Transisi

Sekretaris Umum Persipura  Jayapura, Rocky Bebena

CENDANANEWS (Jayapura) – Managemen Persipura Jayapura menolak, apabila kompetisi sepakbola Indonesia berjalan dibawah kendali tim transisi bentukan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), lantaran tidak sesuai aturan FIFA sebagai induk persepakbolaan tertinggi.
“Kami menolak jika liga dijalankan oleh tim transisi. Karena hal itu bertentangan dengan aturan yang berlaku di FIFA,” kata Sekretaris Umum Persipura, Rocky Bebena di Kota Jayapura, Papua, Minggu (03/05/2015).
Berdasarkan pertemuan 18 klub bersama operator liga dengan Kemenpora pada 27 April di Jakarta, dijelaskan Rocky, ada beberapa hal telah ditawarkan oleh tim dari Kemenpora termasuk membentuk tim transisi.
“Tapi sebelum kita beragumen dan pandangan lebih jauh, hanya satu hal yang kita pikirkan bahwa statuta PSSI diadopsi dari statuta FIFA, yang dalam pasal 4 ayat 3, berbunyi bahwa semua bentuk kompetisi diselenggarakan oleh FIFA, AFC dan PSSI,” jelasnya.
Rocky menambahkan, PSSI telah berikan perpanjangan tangan kepada operator liga untuk menjalankan kompetisi. Jikalau, sekarang tim transisi dibentuk untuk kepanjangan tangan dari PT Liga Indonesia sebagai operator liga.
“Hal yang nonsen untuk sebuah hasil kompetisi diakui oleh AFC dan FIFA karena tidak ada dalam status atau aturan,” lanjutnya.
Menurut Rocky, kompetisi sepak bola di Indonesia diatur oleh PSSI yang direstui oleh FIFA dan dijalankan oleh operator yang ditunjuk, bukan dari tim transisi.
“Kalau dipertahankan, kami Persipura jelas rugi dong. Jika kami mengikuti bentukan tim transisi dari Kemenpora tetapi akhir dari kompetisi tidak ada kouta untuk kami. Dan tidak diakui oleh AFC dan FIFA, itu sama saja dengan pertandingan antar kampung,” tuturnya.
Persipura, menurutnya, tidak ingin lagi menjadi korban dualisme kepengurusan induk organisasi sepak bola di tanah air. Karena, lanjutnya, hal itu sudah mutlak keputusan dalam aturan, baik itu di Law Of Game yang kita lakukan maupun di regulasi kompetisi PSSI dan AFC.
“Karena itu sebaiknya kami tidak ingin Persipura jadi korban kedua kalinya terjadi dualisme federasi dalam PSSI,” ujarnya.
Masih kata Rocky, apa yang diinginkan oleh Menpora Imam Nahrawi sangat baik untuk perbaikan sepak bola di Indonesia. Ada baiknya tidak menyangkal keabsahan dan keberadaan PSSI yang telah direstui oleh FIFA.
“Apa yang disampaikan oleh Menpora pada prinsipnya adalah baik, tapi untuk menyangkal keberadaan PSSI dalam Negara ini itu adalah sesuatu yang naif dan mustahil. Kenapa demikian? Karena tidak ada dalam aturan FIFA, pemerintah ikut campur tangan mengatur dalam PSSI, kalaupun terjadi maka suspen itu pasti akan jatuh,” katanya.
Seandainya liga tetap dipaksakan pada 9 Mei 2015, menurutnya, itu tidak mungkin terjadi karena ada sejumlah hal yang belum diselesaikan oleh Kemenpora.
“Nah, ini kan tidak mungkin karena Menpora masih bekukan kepada PSSI dan belum dicabut, lalu Menpora telah meminta Kapolri untuk tidak berikan izin pertandingan,” imbuhnya.

——————————————————-
Minggu, 3 Mei 2015
Jurnalis :  Indrayadi T Hatta
Fotografi :  Indrayadi T Hatta
Editor : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-

Lihat juga...