![]() |
| Pengantin wanita nampak tersenyum saat acara nyongkolan, yang merupakan tradisi mengantarkan mempelai wanita dan pria ke rumah mempelai wanita, usai acara pesta di Kabupaten Lombok Tengah NTB |
CENDANANEWS (Lombok Tengah) – Musim panen tidak hanya memberikan berkah tersendiri kepada petani di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Tetapi juga memberikan harapan besar kepada pasangan muda mudi yang ingin melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan.
Pernikahan pasca musim panen sudah menjadi tradisi pada sebagian besar masyarakat suku Sasak, terutama masyarakat yang hidup dan tinggal di daerah pedesaan dan pinggiran. Hasil panen padi tersebut menjadi tempat menggantungkan segala biaya pernikahan, mulai dari akad nikah, uang pengantar kepada keluarga mempelai wanita, begawe (pesta) sampai acara nyongkolan yaitu kedua mempelai bertandang ke rumah mempelai wanita menggunakan pakaian adat Sasak Lombok, diringi musik tradisional dan lagu-lagu bertemakan cinta khas suku Sasak.
Tidak heran ketika musim panen telah selesai, para muda-muda di pedesaan seakan berlomba-lomba merariq (menikah). Dalam satu bulan pasca panen padi saja, di satu desa jumlah muda mudi yang menikah bisa mencapai tujuh sampai sebelas orang dan kesempatan semacam ini paling ditunggu-tunggu muda mudi lain untuk berpesta dan bersenang-senang, sambil mencari pasangan melalui acara begawe yang berlansung selama tiga hari tiga malam.
Hamidi Atmaja, pemuda asal Desa Pengembur mengatakan merariq pasca musim panen padi bagi sebagian masyarakat pedesaan memang seakan sudah demikian mentradisi dan biasa dilakukan, dimana kalangan muda – mudi pada ramai-ramai merariq, karena hasil penjualan padi yang sudah dipanen itulah, segala biaya pernikahan sampai begawe (pesta) digantungkan.
“Bagi muda-mudi pedesaan, musim panen padi itu paling ditunggu-tunggu untuk merariq, makanya jangan heran kalau dalam satu desa jumlah orang merariq dan begawe dalam satuwaktu bisa mencapai belasan pasangan, karena memang musimnya orang menikah di desa” kata Atmaja, di Lombok Tengah, Senin (18/5/2015).

Zainudin, salah satu tokoh masyarakat mengatakan, merariq bagi anak muda setelah musim panen memang sejak zaman dulu biasa dilakukan, tapi terkadang musim panen tidak selalu membawa keberuntungan dengan hasil kurang memuaskan, sehingga padi hasil panen menjadi sedikit dan cukup hanya untuk makan.
Disitulah sebenarnya kita orang tua mengharapkan kepada anak-anak muda di desa ikut memikirkan, jangan hanya asal ingin menikah saja, tanpa melihat keadaan prekonomian keluarga, kalau hasil panen melimpah tidak masalah, kalau gagal panen bagaimana.
“Harus difikirkan, karena menikah di desa biayanya tidak main-main, mulai dari maskawin, uang pengantar kepada pihak mempelai wanita terkadang bisa mencapai puluhan juta, belum lagi biaya pesta dan acara nyongkolah ke rumah mempelai wanita, dengan menyewa musik tradisional gendang beleq,” katanya.
—————————————————–
Senin, 18 Mei 2015
Jurnalis : Turmuzi
Fotografer : Turmuzi
Editor : ME. Bijo Dirajo
—————————————————-