![]() |
| Warung Pecel Lele di Jalan Lintas Sumatera |
CENDANANEWS (Lampung) – Sepanjang Jalan Lintas Sumatera Lampung Selatan, Provinsi Lampung merupakan jalan nasional penghubung Pelabuhan Bakauheni ke beberapa kota di Sumatera. Jalan Lintas Sumatera yang tak pernah sepi bahkan nyaris 24 jam selalu dilintasi berbagai jenis kendaraan menjadikan usaha kuliner menjadi usaha yang banyak digeluti oleh warga, salah satunya warung pecel lele.
Warung pecel lele adalah sebuah warung makan yang hanya buka pada malam hari sementara warung warung yang buka pada siang hari justru rata rata tidak menjual menu pecel lele. Peluang usaha ini membuat beberapa warga membuat warung pecel lele di sepanjang Jalan Lintas Sumatera.
Dari pantauan media ini, beberapa warung pecel lele rata rata menggunakan warung tenda. Tenda tenda tersebut dibuat dengan sistem bongkar pasang yang berdiri sejak sore hari hingga malam. Sementara di pagi hari hingga siang nyaris warung warung tersebut tidak nampak. Ciri khas warung pecel lele yang hampir ada di beberapa wilayah di Indonesia pun mulai menjamur di Lampung.
Jalur transportasi yang lancar membuat Jalinsum tak pernah sepi dan selalu “hidup” bahkan saat malam hari. Menurut salah seorang pemilik warung “Tenda Biru” Suratmi (35) ia mengaku membuka warung pecel lele di depan Polsek Penengahan Lampung Selatan sejak 4 tahun lalu.
“Awalnya saya buka karena ada toko waralaba yang buka 24 jam di sini, selain itu karena tepat berada di depan kantor polisi dan di pinggir jalan yang selalu ramai maka suami saya mengajak membuka warung pecel lele,” ungkap Suratmi kepada Media CND Jumat malam (15/5/2015).
Ciri khas gambar ayam, bebek, lele selalu menjadi penarik bagi pembeli yang melintas. Suratmi mengaku pelanggannya selain warga lokal di Kecamatan Penengahan juga para sopir travel, penumpang travel serta pengguna kendaraan roda dua yang melintas.
Lokasi strategis serta berada tepat di depan Polsek Penengahan, dekat dengan toko waralaba menjadikan lokasi berjualan pecel lele Suratmi cukup strategis. Biasanya sopir travel sengaja berhenti di depan warungnya selain untuk istirahat juga memberi kesempatan para penumpang untuk membeli makanan, minuman ringan di toko waralaba yang ada di tepi Jalinsum tersebut.
Suratmi mengaku menyajikan menu yang beragam pilihan, mulai dari tempe goreng ,ayam goreng , lele goreng, bebek goreng, sayur asem, nasi goreng serta beberapa menu lain yang menggugah selera. Tak mengherankan para pengendara biasanya berhenti untuk mengganjal perut dengan membeli pecel lele di tempat tersebut.


Selain menunya yang beragam, masakannya juga enak, meskipun menurut banyak kalangan mengatakan enak itu relatif sesuai selera, namun pada kenyataanya banyak pelanggan yang setia membeli di warung pecel lele tersebut.
Pembeli yang beragam tak hanya para pelintas di Jalinsum, beberapa warung bahkan sudah tutup sekitar pukul 24:00 WIB karena sudah habis bahan baku berupa ikan, ayam, lele karena laris.
Suratmi mengaku dalam sehari menyiapkan sekitar beberapa puluh ekor ikan lele, beberapa ekor ayam, nasi beberapa wadah. Dalam semalam ia mengaku mendapatkan omzet rata rata di atas Rp500ribu dan kadang kadang saat sedang ramai bahkan bisa lebih dari Rp600ribu.
“Susahnya kalau lagi hujan, pas tidak ada orang keluar rumah dan kadang justru sedikit yang beli, tapi kalau pas musim liburan ya lumayan,”ungkap Suratmi.
Selain Suratmi rupanya beberapa warung pecel denga menggunakan tenda pun berdiri tak jauh dari warung pecel “Tenda Biru” milik Suratmi. Beberapa nama diantaranya warung pecel lele “Gadis”, pecel lele “Kang Mat” serta beberapa warung pecel. Selain warung pecel bahkan juga warung bakso, sate serta beberapa penjual mie tek tek berada di sekitar ruas Jalan Lintas Sumatera KM 79 Lampung Selatan tersebut.
Salah seorang warga Jhoni(37) mengaku kehadiran para pelaku bisnis kuliner yang ada di daerahnya menandakan geliat perekonomian dan juga rasa nyaman yang ada di lokasi tersebut. Bahkan ia mengungkapkan kehadiran warung pecel lele serta beberapa usaha kuliner tersebut memberi dampak positif bagi para pelaku usaha tersebut serta bagi para pembeli yang ingin menikmati makanan tradisional merakyat tersebut.
“Adanya usaha kuliner di sini membuat kota Kecamatan Penengahan ini menjadi tidak sepi apalagi ada toko waralaba yang buka 24 jam tepat di Jalan Lintas Sumatera ini,” ungkap Jhoni.
Meskipun usaha kecil tersebut terbilang sederhana, bahkan Camat Kecamatan Penengahan, Lukman Hakim mengaku mendukung dengan bermunculannya usaha warung pecel lele atau usaha sejenis dengan catatan memperhatikan kebersihan menu makanan, kebersihan setelah berjualan dan tentunya memperhatikan aspek keselamatan pengendara.
“Lokasi parkir yang berada di tepi jalan harus diperhatikan sehingga tidak mengganggu pengguna jalan lain dan jangan menjadi sumber sampah setelah berjualan,” ungkap Lukman Hakim.

Camat Kecamatan Penengahan tersebut juga mengapreasiasi para pelaku usaha kecil tersebut sebab menjadi magnet bagi perhentian kendaraan yang melintas selama 24 jam. Selain menjadi penanda geliat ekonomi warganya, Lukman Hakim melihat bermunculannya warung warung tenda tersebut memiliki sisi positif pelintas merasa nyaman saat makan di lokasi warung pecel lele yang hanay sekitar 100 meter dari kantor kecamatan Penengahan tersebut.
———————————————————-
Sabtu, 16 Mei 2015
Jurnalis : Henk Widi
Fotografer : Henk Widi
Editor : ME. Bijo Dirajo
———————————————————-