![]() |
| Panen di daerah transmigrasi |
CENDANANEWS (Lampung) – Nama nama daerah berupa desa atau dusun seperti Yogyakarta, Kediri, Kebumen, Klaten, Banyumas serta nama nama lain yang biasanya ada di wilayah Pulau Jawa pun ada di Kabupaten Lampung Selatan. Menurut salah satu warga yang ada di Desa Karangsari Kecamatan Penengahan, nama nama tersebut memang berasal dari nama desa yang ada di beberapa daerah di Jawa Timur atau Jawa Tengah yang kemudian digunakan untuk nama desa atau dusun di daerah tujuannya.
Menurut Sekretaris Desa Karangsari, Tukimin (50) saat disambangi Cendananews.com di rumahnya, secara khusus di Desa Karangsari memiliki beberapa dusun yang dalam sejarah awalnya merupakan daerah transmigrasi. Menurutnya pelaksanaan transmigrasi tersebut berlangsung sekitar tahun 1970 dan 1971.
Dari data desa, sebagai sekretaris desa Tukimin mencatat hingga tahun 2015 ini jumlah warga di Desa Karangsari meliputi 1.185 Kepala Keluarga, terdiri dari 10 dusun yang masing masing merupakan warga transmigran. Warga Trans Kediri terdiri dari 75 KK, Trans Blitar 50 KK, Trasn Cilacap 210 KK, Dusun I 110 KK, Dusun II 80 KK, Dusun III 50 KK, Dusun IV 80 KK, Dusun X 60 KK serta Dusun IX 90 KK. Data tersebut menurut Tukimin merupakan data global sebab banyak juga warganya yang bekerja di luar daerah seperti di daerah Jakarta.
Tukimin bahkan mengungkapkan seperti beberapa pola transmigrasi di Indonesia, demikian juga yang dilakukan oleh para transmigran di desa Karangsari.
Pelaksanaan transmigrasi di Indonesia dapat dibedakan menurutnya atas beberapa kategori, yaitu transmigrasi spontan, transmigrasi umum, transmigrasi keluarga, transmigrasi bedol desa, dan transmigrasi lokal.
“Kebetulan jika di desa kami rata rata transmigrasi spontan yang umumnya masih satu dusun atau satu desa yang terjadi akibat kondisi di daerah asalnya dulu,” ungkap Tukimin.
Tukimin bahkan menuturkan berdasarkan kisah para transmigran yang ada di Desa Karangsari, para warga transmigran tersebut datang ke Karangsari karena di daerah asalnya memang tidak memiliki lahan pertanian, kemiskinan di daerah asal sehingga saat ada program trasmigrasi dengan fasilitas yang diberikan pemerintah maka mereka berangkat.
Seperti di dusun Trans Kediri, dusun Trans Blitar, dusun Trans Cilacap, serta dusun Trans Banyuwangi. Rata rata saat awal transmigrasi sebanyak 50 orang datang secara bersama sama.


Menurut salah seorang warga dusun Trans Cilacap, Wagimin (55), ia mengaku ikut transmigrasi bersama sekitar 50 orang warga lain dari daerah Cilacap Jawa Tengah. Kala itu ia mengaku masih berangkat dari Tanjung Mas Semarang dan mendarat di Pelabuhan Srengsem Panjang, jauh sebelum ada Pelabuhan Bakauheni.
Ia mengaku program Presiden Soeharto tersebut melalui kementerian transmigrasi kali itu benar benar telah menyelamatkan ribuan orang termasuk dirinya. Bahkan ia mengingat karena jasa pak Harto tersebutlah ia kini bisa memiliki lahan perkebunan, pertanian dan bisa mengubah nasib di Sumatera.
“Dulu di Jawa kami tidak memiliki lahan untuk perkebunan bahkan untuk makan sehari hari kami kesulitan namun setelah mau ikut transmigrasi maka kami bisa seperti sekarang ini,” ungkap Wagimin.
Pada awal transmigrasi ia mengaku mendapat jatah lahan sebanyak 2,5 hektar, bibit jagung, alat alat pertanian, alat masak serta bahan makanan. Meskipun kala itu rumah masih papan namun saat ini ia bersama transmigran tersebut rata rata sudah memiliki rumah semi permanen dan banyak yang sudah memiliki rumah permanen.
Wagimin bahkan kini memiliki lahan perkebunan yang ditanaminya dengan tanaman Sengon, Jati yang dipergunakan untuk tabungan bagi anak anaknya yang sedang kuliah. Tak hanya perkebunan ia juga memelihara 7 ekor sapi jenis Limosin dan Sapi Ongole.
Mayoritas Warga Berprofesi Sebagai Petani, Pekebun
Sekdes Desa Karangsari Tukimin menjelaskan bahwa Desa yang dipimpin oleh Kepala Desa Sulityono tersebut mayoritas 90 persen warganya berprofesi sebagai petani dan pekebun sisanya 10 persen terdiri dari paar pegawa swats, wiraswasta. Ia mengungkapkan kontur tanah padas serta berbukit tersebut membuat warga rata rata bertanam jagung, kelapa, kelapa sawit serta tanaman perkebunan lainnya.
Sementara itu petani sawah hanya sebagai penggarap di daerah Tetaan yang berbatasan dengan Desa Karangsari. Lahan persawaahn tersebut rata rata milik warga Tetaan yang digarap dengan sistem bagi hasil.
Berkat keuletan para trasmigran tersebut, seperti halnya Tukimin, ia bahkan mampu menyekolahkan anaknya ke salah satu perguruan tinggi di kota Malang Jawa Timur. Sementara itu selain berkebun ia menekuni usaha peternakan sapi jenis Metal, budidaya ikan lele serta peternakan ayam pedaging.
“Daerah ini awalnya gersang, tapi berkat kerja keras dan usaha maka berkembang. Dulu tahun 80 an jarang rumah permanen kini rata rata sudah permanen sebagian besar rumah di sini,” ungkap Tukimin.


Tukimin dan Wagimin bahkan mengaku masih mengalami saat sekitar tahun 1989, tepatnya ia lupa bulan berapa, jalan yang kini sudah mulus dan bagus ke arah Trans Cilacap merupakan jalan yang dilalui oleh putera Presiden kedua HM Soeharto yakni Hutomo Mandala Putra untuk bermain rally mobil.
“Ini jalan di depan yang halus ini kan dulu dipakai oleh mas Tommy untuk main rally, kalau ga salah sudah ada dua kali ada lomba balapan rally di jalan ini mas, untung sampai sekarang jalannya bagus,” ungkap Tukimin.
Tukimin bahkan masih mengingat, kala itu olahraga mobil rally yang diikuti Tommy Soeharto menjadi tontonan menarik bagi ribuan orang di Kecamatan Penengahan karena jalan yang berkelok kelok, penuh tanjakan dan turunan.
Kini jalan aspal mulus tersebut merupakan jalan utama bagi warga di Trans Kediri, Trans Banyuwangi, Trans Cilacap, Trans Blitar untuk aktifitas seharai hari serta distribusi hasil pertanian, berupa jagung, kelapa sawit,kelapa serta hasil pertanian lain.
Desa Karangsari awalnya menjadi bagian dari Kecamatan Penengahan, setelah ada pemekaran desa tersebut menjadi bagian dari Kecamatan Ketapang. Beberapa fasilits sekolah dari tingkat TK hingga SMA bahkan sudah berdiri di Kecamatan Ketapang.
Tukimin mengungkapkan murid murid sekolah sekarang banyak memiliki pilihan untuk menentukan dimana akan bersekolah dengan adanya sekolah di wilayah tersebut. Ia bahkan mengungkapkan para trasmigran yang dulu tidak memiliki apa apa kini oleh pemerintah tekah diberikan infrastruktur jalan yang bagus, lahan serta mata pencaharian untuk kehidupan mereka.
“Itulah bagusnya program Pelita oleh presiden Soeharto mas,jadi ada perbaikan nasib melalui transmigrasi dan buktinya kini sudah lebih baik dengan memiliki lahan dan pekerjaan di sini,” ungkap Tukimin.
Sebagai aparat desa ia juga mengaku senang warganya sudah banyak yang memiliki rumah bagus, memiliki mobil atau kendaraan roda dua. Namun ia tak menjadikan ukuran tampilan fisik yang terlihat tersebut sebagai ukuran kesuksesan warga transmigran. Kesuksesan tersebut justru terlihat dengan semakin bagusnya infrastruktur di desanya serta generasi muda yang mengenyam pendidikan lebih tinggi dan bisa berkarya untuk desanya.
———————————————-
Selasa, 21 April 2015
Jurnalis : Henk Widi
Fotografer : Henk Widi
Editor : ME. Bijo Dirajo
———————————————-