Grup Seni Palito Nyalo Sumbar Pukau Para Kurator dari Amerika

Grup Seni Palito Nyalo sedang melakukan pertunjukan Randai

CENDANANEWS (Padang) – Grup kesenian Palito Nyalo, tampilkan cuplikan randai di hadapan dua direktur artistik dan dua peneliti asal Amerika. Dua direktur artistik tersebut berasal dari dua lembaga berbeda, Yayasan Kelola dan Asia Society. Sementara itu, untuk dua peneliti asal University North Carolina adalah Emil Kang dan Carl Ernst.
Penampilan kesenian yang tidak hanya randai itu, juga menampilkan tambua tasa dan kesenian lainnya. Pertunjukan yang dimulai dari pukul 20.00 WIB itu berakhir pada pukul 23.00 WIB.
Selama tiga jam tersebut, ke empat praktisi kesenian luar negeri tersebut tak henti-hentinya berdecak kagum.
“Sangat kental aroma spritualnya dipertunjukan ini, dalam pembukaan tambua tasa contohnya. Sebelum memukul tambua, para pemain berdoa dan bershalawat, disana pesan moralnya,” ujar Carl Ernst yang merupakan Professof Of Religion Studies Islam di University North Carolina, Kamis (29/4/2015) malam.
Berbeda dengan Carl, Emil Kang yang merupakan dosen musik di universitas yang sama. Cukup kesusahan dalam memahami isi cerita dan bahasa dalam setiap pertunjukan. Namun ia sangat terkesima dengan ritme dan melodi-melodi musik di setiap pertunjukannya.
“Saya memang tidak mengerti bahasa dalam setiap pertunjukan, tapi sudah di bantu untuk translatenya oleh Mak Katik (Sesepuh dari Grup Palito Nyalo). Namun bahasa musik adalah bahasa universal, saya sangat tertarik dan takjub dengan musik khas Minangkabau ini, sangat etnik, memiliki aura tersendiri, musiknya energik dan saya sangat suka,” ujar Emil Kang.
Para kurator seni ini tidak hanya menonton pertunjukan dari Grup Palito Nyalo, ada 14 pertunjukan lainnya yang akan mereka saksikan di seluruh Indonesia.
Dari semua kurator dan Direktur Artistik tersebut, Rachel Cooper dari Asia Society sangat tertarik dan akan mempelajari lebih dalam kesenian-kesenian yang ditampilkan Grup Palito Nyalo.
“Saya memang ditugaskan khusus untuk meneliti dan mencari kesenian yang masih mempertahankan tradisi tradisional mereka. Dan Palito Nyalo membuktikan bahwa teater paling tradisional asal Minangkabau, yaitu randai masih eksis. Saya akan mempelajarinya lebih dalam,” pungkas Rachel.

——————————————————-
Kamis, 30 April 2015
Jurnalis : Muslim Abdul Rahmad
Fotografi : Muslim Abdul Rahmad
Editor : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-

Lihat juga...