7 Sastrawan Indonesia yang Pernah Kuliah di Jogja

CENDANANEWS – “Sastrawan dilahirkan, bukan diciptakan,” begitu kata orang. Jogja memang kota “lahir”-nya para sastrawan. Di kota yang dijuluki Kota Kasur Tua oleh Rendra inilah banyak sastrawan besar Indonesia dilahirkan. Salah satu cara untuk mengenal Jogja, adalah dengan mengenal para sastrawannya.
Jikalau harus menyebut semua sastrawan yang berasal, atau pernah tinggal di Jogja, daftarnya tentu akan terlalu panjang. Dalam daftar ini, hanya para sastrawan yang pernah kuliah di salah satu universitas di Jogja saja yang disebutkan. Dan tentu juga tidak semuanya. Inilah, Sastrawan Indonesia yang pernah kuliah di Jogja, seperti yang ditulis oleh Jogjastudent :
1. Rendra
Mahasiswa mana yang tak kena Rendra? Namanya seolah menjadi ikon sastra Indonesia. Menyebut Rendra seperti menyebut Khairil Anwar lah, kira-kira. Rendra adalah seorang penyair sekaligus dramawan. Beberapa puisinya dilabeli puisi pamflet, karena isinya yang berupa kritik-kritik sosial Ada salahsatu bait puisi Rendra yang sering dikutip, namun tetap menarik.
Kesedaran adalah matahari.
Kesabaran adalah bumi.
Keberanian menjadi cakerawala.
Dan perjuangan
adalah perlaksanaan kata-kata.
(Paman Doblang, Depok, 22 April 1984)
Penyair yang dijuluki sang Buruk Merak ini adalah alumnus jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra UGM. Kumpulan puisinya antara lain Balada Orang-orang Tercinta, Blues untuk Bonnie, Empat Kumpulan Sajak, dan Sajak-sajak Sepatu Tua.
yang terhitung sangat berani. Film yang dibintanginya, Yang Muda Yang Bercinta
2. Putu Wijaya
Putu Wijaya dulunya juga mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, angkatan 1969. Putu Wijaya terkenal dengan cerpen-cerpennya yang cerdas, serta seringkali menampilkan aspek kejutan bagi pembacanya. Dia sering sekali menggunakan satu kata untuk judul cerpennya, misalnya, Dor! , Gerr, Aum, dan lain-lain. Selain menulis cerpen, ia juga dramawan, sekaligus penulis naskah drama, penulis skenario, juga novelis
Putu Wijaya sudah menulis kurang lebih 30 novel, 40 naskah drama, sekitar seribu cerpen, ratusan esei, artikel lepas, dan kritik drama. Saya sendiri suka salahsatu kutipan dalam novel Putri, karya beliau, begini kutipannya. “Seperti rumah, yang menjadi semakin rumah ketika ditinggalkan, begitulah cinta, menjadi semakin cinta sesudah hilang.” Boleh dicontek untuk satu twit galau kalian. Hehe.
3. Sapardi Djoko Damono
Mahasiswa romantis mana yang tidak kenal bait puisi ini. “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu; Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.”
Beliau memang jago dalam meracik kata-kata, terlebih yang lirih dan romantis. Karya-karyanya di antaranya Hujan Bulan Juni (1994), Duka-Mu Abadi (1969), Perahu Kertas (1983), Sihir Hujan (1984), dan Ayat-ayat Api (2000)
4. Kuntowijoyo
Nah, kalau pak Kuntowijoyo ini adalah sastrawan yang juga sejarawan dan ilmuwan sosial ternama. Beliau adalah guru besar Ilmu Sejarah di Fakultas Ilmu Budaya UGM. Pak Kunto menggondol gelar sarjana Sejarah pada 1969. Pak Kunto adalah salahsatu sastrawan yang mampu menghadirkan budaya Jawa dengan apik dan mendalam, tanpa harus melodramatik. Maklum, beliau bisa adalah sejarawan yang dituntuk untuk detail sekaligus objektif. Karya-karya beliau pun kebanyakan bernuansa religius nan halus. Simak salahsatu penggalan puisi beliau berjudul Tangga ke Langit. “Bagi yang merindukan, Tuhan menyediakan kereta cahaya ke langit.”
Karya sastra beliau di antaranya Pasar, Isyarat (kumpulan puisi, 1976), Dilarang Mencintai Bunga-bunga, Mantra Penjinak Ular dan Khotbah di Atas Bukit. Selain produktif dalam menulis sastra, beliau tentu saja sangat banyak menulis tentang ilmu sejarah.
5. Umar Kayam.
Karya lulusan Fakultas Pedagogi UGM 1955 (sekarang Fakultas Ilmu Pendidikan UNY) ini yang paling terkenal adalah cerpennya, Seribu Kunang-Kunang di Manhattan, Para Priyayi dan Jalan Menikung. Beliau pun menulis kolom reguler untuk koran Kedaulatan Rakyat yang dibukukan menjadi Mangan Ora Mangan Kumpul. Umar Kayam adalah seorang sosiolog, novelis, cerpenis, dan budayawan juga seorang guru besar di Fakultas Sastra Universitas Gadjah
6. Emha Ainun Najib
Kalau penyair dan budayawan satu ini memang dari sono-nya tidak betah belajar di institusi formal yang namanya sekolah, apalagi kampus. Bakat puisinya terasah dalam Persada Studi Klub Malioboro, tempat nongkrongnya para sastrawan waktu itu, yang digawangi oleh Umbu Landu Paranggi. Namun, Cak Nun pernah mengecap bangku kuliah di Fakultas Ekonomi UGM selama satu semester. Iya, satu semester saja.Karya-karya Emha Ainun Najib amat banyak mulai dari cerpen, puisi sampai naskah drama. Salahsatu naskah dramanya yang fenomena adalah Lautan Jilbab yang dipentaskan bareng Jamaah Shalahuddin UGM. Ia juga menggagas diadakannya acara jagongan bulanan bernama Mocopat Syafaat setiap tanggal 17 malam. Acara ini bertempat di rumahnya di desa Kasihan, Bantul
7. Soebagio Sastrowardoyo
Soebagio Sastrowardoyo adalah lulusan Fakultas Sastra UGM selesai tahun 1958. Beliau seorang dosen, penyair, penulis cerita pendek dan esei, sekaligus kritikus sastra. Karya-karya seringkali bercorak filosofis. Duh, piye kuwi? Begini misalnya, tulis beliau dalam puisinya yang berjudul Kata:
Asal mula adalah kata
Jagat tersusun dari kata
Di balik itu hanya
ruang kosong dan angin pagi
Kita takut kepada momok karena kata
Kita cinta kepada bumi karena kata
Kita percaya kepada Tuhan karena kata
Nasib terperangkap dalam kata
Karena itu aku
bersembunyi di belakang kata
Dan menenggelamkan
diri tanpa sisa
Karya-karya beliau antara lain Simphoni (1957), Daerah Perbatasan (1970), Keroncong Motinggo (1975), Buku Harian (1979), Hari dan Hara (1982), Kematian Makin Akrab (1995).
Masih banyak lagi tentu sastrawan kaliber nasional yang pernah kuliah di kampus-kampus di Jogja, seperti Abdul Hadi WM dan Danarto. Atau dari generasi yang lebih muda misalnya Eka Kurniawan dan Puthut EA.
7 Sastrawan yang pernah kuliah di Jogja ini tentu tidak berniat untuk mewakili apalagi memberikan peringkat. Tujuannya hanya agar yang sudah tahu, berkeinginan lebih tahu. Yang belum tahu, mari segera mencari tahu.
———————————————————- 
Senin, 9 Maret 2015
Jurnalis : Mohammad Natsir/Jogjastudent
Editor   : ME. Bijo Dirajo
———————————————————-
Lihat juga...