Asyura di Indonesia: Sunni dan Syiah

Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 06/07/2025

 

 

Aktivis Wahabi sering menuding pelaku peringatan Asyura di Indonesia sebagai penganut Syiah. Generalisasi aktivitas budaya Suro-an/peringatan Muharram sebagai perilaku kaum Syiah. Padahal mayoritas muslim Indonesia beraliran Sunni. Bulan Muharram selalau ramai kegiatan ritual. Mulai bercorak nasional hingga tradisional.

Banyak umat Islam Indonesia menjalankan puasa sunah tanggal 9 (Tasu’a) dan 10 Muharram (Asyura). Momen Muharram sering diperingati dalam bentuk pawai, ceramah agama, zikir bersama, doa akhir dan awal tahun hijriah. Kegiatan ini berlaku nasional.

Di Aceh, Padang, Riau, Jambi, Kalimantan, Sulawesi, NTB, dan daerah lainnya, dikenal budaya “bubur Asyura”. Ialah membuat bubur untuk dibagikan ke tetangga atau orang yang memerlukan. Kegiatan ini dimaknai sebagai simbol kebersamaan, rasa syukur, dan spirit berbagi di bulan mulia.

Masing-masing daerah beragam corak dalam memilih bahan bubur. Di Bugis/Makassar, bubur Asyura dibuat dari beras, kelapa, kacang-kacangan, dan sayur-sayuran. Pada masyarakat Minang (Sumatera Barat), bubur dimasak di masjid dan dibagikan ke masyarakat umum.

 

Budaya santunan Anak Yatim berlaku secara nasional. Umumnya diselenggarakan di Pesantren atau komunitas-komunitas masyarakat. Bahkan instansi pemerintah. Bulan Muharram dijadikan sebagai Hari Raya Anak Yatim. Mereka menyantuni anak-anak yatim.

Muharram juga diselenggaralan Dzikir dan Doa Bersama / Khataman/Khotmil Quraán. Biasa dilakukan oleh masyarakat Jawa, Sumatra, Kalimantan. Biasanya dilakukan dzikir bersama, pembacaan doa awal dan akhir tahun Hijriah, tahlil, dan pembacaan surat-surat tertentu. Terkadang disertai ceramah, pembacaan sholawat, kisah Nabi atau atau Sayyidina Husain.

Pada masyarakat Jawa, Suroan sudah melekat sebagai tradisi. Khususnya pada masyarakat Jawa Tengah, Jawa Timur dan Yogyakarta. “Malam 1 Suro” (1 Muharram) diperingati dengan tirakat, ritual ruwatan, dan larungan. Tanggal 10 Muharram diisi dengan puasa, bubur suro, tumpengan, dan doa-doa. Di kraton Solo/Mangkunegaran dilakukan instrospeksi melalui “ritual jalan kaki keliling Benteng Kraton dengan diam”.

Ada budaya Tabut/Tabuik (Sumatera Barat). Biasanya diselenggarakan oleh masyarakat Bengkulu dan Pariaman (Minangkabau). Merupakan tradisi perayaan besar mengenang wafatnya Imam Husain bin Ali di Karbala. Konon kegiatan ini dibawa tentara India Syiah pada abad ke-19.

Pawai usungan “tabut/tabuik” besar, diiringi musik gandang tasa, dan pembacaan kisah tragedi Karbala. Diakhiri membuang tabut ke laut. Tradisi ini dibawa orang Syiah. Di Indonesia dimaknai lebih pada aspek budaya daripada akidah.

Untuk masyarakat selatan Jawa biasa dilakukan “Larungan Laut”. Terjadi pada masyaraat Pantai Selatan Jawa (Pacitan, Gunung Kidul, dll). Berupa tradisi melarung sesajen ke laut pada bulan Suro sebagai bentuk tolak bala. Merupakan campuran adat lokal dan Islam.

Bagaimana sebenarnya tradisi Suroan bisa dilacak dari teks-teks keagamaan?. Adakah justifkasi Syarínya. Atau sekedar budaya belaka?.

Salah satu sumber otentiknya adalah hadist Shahih Bukhari (2004) dan Shahih Muslim (1130). Hadits itu menyatakan:

“Ketika Nabi SAW datang ke Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Maka beliau bertanya: ‘Hari apa ini?’ Mereka menjawab: ‘Ini adalah hari yang agung, di mana Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya dan menenggelamkan Firaun dan kaumnya, maka Musa berpuasa pada hari ini sebagai rasa syukur kepada Allah.’ Maka Nabi bersabda: ‘Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian,’ lalu beliau pun berpuasa dan memerintahkan umat Islam untuk berpuasa.”

 

Ada kisah lain bahwa Hari Asyura merupakan hari diciptakan langit, bumi dan makhluk lainnya. Nabi Nuh turun dari bahtera. Nabi Ibrahim selamat dari api Namrud. Akan tetapi haditsnya lemah. Tidak bisa dijadikan pegangan.

Terdapat peristiwa historis. terbunuhnya Al-Husain bin Ali (cucu Rasulullah) di Karbala. Pada 10 Muharram tahun 61 H, cucu Nabi, Al-Husain bin Ali, dibunuh secara tragis di Karbala oleh pasukan Yazid bin Muawiyah.

Sementara itu HR. Muslim (1162) – Rasulullah ﷺ bersabda:

“Puasa pada hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar dapat menghapus dosa-dosa setahun sebelumnya”.

HR. Muslim (1134) – Rasulullah ﷺ bersabda:

“Jika aku masih hidup sampai tahun depan, aku akan berpuasa tanggal 9 (Tasua) juga.”

Berdasar keterangan-keterangan itu, Puasa Tasua dan Asyura memang disyariatkan. Selebihnya merupakan kreasi budaya. Memperingati peristiwa bersejarah melalui kegiatan-kegiatan positif dan bernilai ibadah.

Perayaan Asyura (10 Muharram) memiliki makna yang sangat berbeda antara Sunni dan Syiah, baik dari sisi teologis, ritual, maupun emosional.  Bagi kaum Sunni, Asyura merupakan hari penuh kemuliaan. Allah menyelamatkan Nabi Musa dan Bani Israil dari kejaran Firaun. Mengikuti ajaran Rasulullah, menghormati bulan ini dengan puasa.

Praktik umum kalangan sunni melakukan puasa Asyura (10 Muharram) dan Tasu’a (9 Muharram). Melakukan dzikir, doa, dan santunan anak yatim (meskipun tidak ada dalil khusus soal ini). Tidak ada ratapan atau perayaan yang bersifat sedih berlebihan

Sikap terhadap peristiwa Karbala: sangat berduka atas terbunuhnya Sayyidina Husain bin Ali. Tetapi tidak memperingatinya dengan ratapan. Tidak mencaci-maki atau membenci sahabat, bahkan menghormati semua sahabat empat. Tidak menjadikan tragedi tersebut sebagai ritual tahunan yang emosional.

Sementara kaum Syiah, menjadikan Asyura sebagai hari duka mendalam (mourning) atas wafatnya Imam Husain bin Ali. Cucu Nabi, yang dibantai di Karbala pada 10 Muharram 61 H oleh pasukan Yazid bin Muawiyah. Husain dianggap sebagai syahid terbesar dan simbol perlawanan terhadap kezaliman.

Praktik Umum (Syiah Itsna Asyariah – Iran, Iraq, Lebanon) ialah memperingati dengan cara Ma’tam: Prosesi berkabung, menangis, meratap. Latmiyah: Memukul dada sambil melantunkan puisi duka. Zanjir Zani: (beberapa Syiah) memukul diri dengan rantai besi, bahkan berdarah (kontroversial). Drama Karbala: Pementasan kisah tragis Karbala. Ziarah ke Karbala: Jika memungkinkan, berkunjung ke makam Imam Husain. Membaca Ziarah Asyura (doa khusus kepada Imam Husain).

Perbedaan ini berakar pada teologi, bukan sekadar budaya. Bagi Syiah, Imam Husain adalah tokoh sentral dalam iman mereka. Sementara Sunni tetap memuliakan Sayyidina Husain, namun tidak berlebihan secara ritual atau emosional, sesuai prinsip: “Janganlah berlebihan dalam mencintai siapa pun, sebagaimana kaum Nasrani berlebihan terhadap Isa.”— (Makna hadits riwayat Ahmad).

Itulah perbedaan tradisi Asyura kaum Syiah dan Sunni. Juga budaya Asyura di Indonesia.

 

ARS – Jakarta (rohmanfth@gmail.com)

Lihat juga...