Kepemimpinan tidak hanya bertumpu pada kapasitas personal. Melainkan berkelindan dengan akar penyangga kepemimpinan itu sendiri.
Apalagi dalam iklim demokrasi. Tidak ada figur pengambil keputusan tunggal layaknya era monarkhi. Atau era fasis seperti Hitlernya Nazi.
Demokrasi dicirikan adanya keterpencaran pengambilan keputusan. Eksekutif – legislatif – yudikatif memainkan peran masing-masing.
Ada pressure group, berupa kehadiran civil society. Begitu pula dengan dan pers. Semua mencoraki eksistensi kepemimpinan sebuah rezim.
Bagaimana gambaran corak idiologis penyangga kepemimpinan capres-cawapres 2024?.
Mari kita “ektraksi” satu persatu. Kita bahas sesuai nomer urut Capres-Cawapres.
Pasangan Anis Baswedan – Muhaimin Iskandar didukung oleh Partai Nasdem, PKS, PKB. Beserta elemen-elemen pressure group.
Nasdem (Nasional Demokrat) merupakan parpol bercorak pragmatis-pluralis. Fokus pada kerja-kerja politik menempatkan diri pada sisiran kekuasaan. Visi idiologisnya tidak mengemuka. Sulit untuk mengkategorikannya dalam kategori nasionalis atau religius.
“Restorasi Indonesia” sebagai tagline tidak menampakkan aura idiologis. Kecuali aspek teknis program dengan klaim mewujudkan kemajuan untuk Indonesia.
PKS (Partai Keadilan Sejahtera), bisa dikategorikan sebagai bercorak religius-transnasional. Taglinenya “berdakwah melalui politik”. Partai dakwah Itu menempatkannya sebagai bercorak religius.
Sedangkan corak transnasionalnya dilatari akar tumbunya dari gerakan Ikhwanul Muslimin. Solidaritas politiknya lebih concern pada isu-isu interasional dari gerakan sayap-sayap ikhwanul muslimin di dunia.
Tidak sedikit pertanyaan komitmen nasionalisme ditujukan pada partai ini. Antara kesungguhannya atas nasionalisme Indonesia. Atau “poligami idiologis”. Transnasionalisme dan nasionalisme sekaligus.
Penerimaan dan keikutsertaan terhadap sistem demokrasi di Indonesia tiada lain sebagai langkah taktis perlindungan aktivitas dakwahnya yang bersifat transnasional.
PKB, Partai Kebangkitan Bangsa. Bercorak religius-nasionalis. Corak religiusnya diwarnai sebagai konsekuensi salah satu alat pejuangan politik warga NU. Corak religius PKB diwarisi dari spirit perjuangan sosial kegamaan warga NU.
Begitu pula dengan corak nasionalisnya, diwarisi dari ormas NU. Melalui dialektika panjang, termasuk dalam perspektif fiqih peradaban, NU menganggap Pancasila dan NKRI sebagai bentuk final format penyelenggaraan bernegara. Sebagai zona (NKRI) sekaligus blue print (Pancasila) pembangunan peradaban bangsa ber Tuhan.
Berdasar pandangan keagamaannya, NU bisa dikatakan sebagai ormas keagamaan penjaga terdepan dari nasionalisme Indonesia. PKB bukan satu-satunya wadah perjuangan politik bagi warga NU. Maka spirit nasionalisme NU itu tersemai melalui kader-kadernya di banyak parpol. Otomatis tersemai pula melalui banyak capres-cawapres.
Selain Nasdem-PKS-PKB, capres urut 1 juga didukung oleh _pressure group_ keormasan keagamaan. Walau kini pergerakannya lebih mirip sebagai OTB (organisasi tanpa bentuk). Ialah eks FPI, Wahabi, dan HTI.
Dukungan itu terdeteksi dari pergeseran narasi jargon-jargon keagamaan untuk justifikasi politik. Ketiganya melekat pada figur atau komunitas yang bisa menjadi persemaiaan narasi keagamaan itu. Termasuk dalam politik.
Bagaimana karakter ketiganya?
FPI merupakan ormas keagamaan multifaset atau banyak wajah. Ada wajah dakwah, filantropi/aksi kemanusiaan dan pressure group politik. Dipimpin para habaib.
Bisa dikatakan merupakan wadah perjuangan politik (non parpol) para Habaib.
Jumlah massa riilnya masih kecil. Belum memungkinkan membentuk partai politik. Maka ia mencari kuda troya untuk bisa menjalankan misi politiknya. Khususnya melalui figur pimpinan puncak. Menempel pada tokoh-tokoh populer yang bisa mereka kendalikan.
Hisbut Tahrir Indonesia, merupakan gerakan politik transnasional. Mereka hanya bisa menerima sistem khilafah versinya. Menganggap sistem demokrasi, termasuk sistem politik di Indonesia sebagai toghut. Maka ia terus mencari kuda troya untuk tempat perlindungan persemaian gagasannya.
Sedangkan Wahabi, merupakan gerakan keagamaan dengan klaim pemurnian ajaran. Selain ajarannya sering dihukumi sebagai bid’ah. Dan setiap bi’ah itu sesat.
Pandangan ke-Islaman yang ada di Indonesia dihantamnya sebagai bid’ah dan harus di dekonstruksi.
Maka ia memerlukan kuda troya untuk memberi perlindungan dalam penyemaian gagasannya. Termasuk perlindungan akan eksistensi masa depannya.
Ketiga elemen ini menyelinap sebagai pendukung Prabowo pada pemilu 2014 dan 2019. Pada tahun 2024 ini, Prabowo tidak mau kembali sebagai kuda troya bagi ketiganya.
Maka paslon 01 sebagai tempat pelarian. Hal ini didukung fakta sepinya jargon-jargon keagamaan sebagai justifikasi kegiatan politik selain pada paslon 01.
Bagaimana dengan corak politik pendukung capres 02?. Terdiri dari Gerindra, Demokrat, Golkar, PAN.
Idiologi politik Gerindra dicoraki secara kuat oleh figur pimpinannya. Ialah Saptamargais-pluralis. Corak idilogi Saptamargais bisa dikatakan sebagai nasionalis religius. Merupakan doktrin untuk setia dan bangga pada idiologi Pancasila dan NKRI. Kesetiaan pada Pancasila berarti kesetiaan pada peradaban bangsa ber Tuhan. Maka ia bercorak pula religus selain nasionalis.
Partai Demokrat bercorak Saptamargais-Demokrat. Oleh keberadaan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono. Mengingat Saptamargais berarti pula nasionalis-religius, maka idiologi partai ini bercorak nasionalis-religius-demokrat.
Golkar lebih pada corak politik pragmatis-pluralis. Pada masa jayanya, era orde baru, golkar sangat nasionalis karena terbawa doktrin Saptamargais. Dalam format ABG (ABRI-Birokrat-Golkar). Pasca Orba, Golkar lebih pada corak pragmatis-pluralis.
Adapun PAN, lebih bercorak religius-pragmatis. Corak religiusnya sebagai konsekuensi historis keberadannya merupakan salah satu saluran politik warga Muhammadiyah. Walau seperti NU, tidak semua warga Muhammadiyah bernaung secara politik di PAN.
Bagaimana dengan paslon 3?. Didukung PDIP dan PPP.
PDIP lebih bercorak kiri-liberal. Hal ini tercermin pada dua dekade sebagai pemenang pemilu. Gagasan nasionalis atau Soekarnoisme tenggelam oleh romantisisme dan glorifikasi kebesaran Presiden Soekarno. Selebihnya diwarnai gagasan-gagasan kiri-liberal. Seperti rehabilitasi politik gerakan kaum kiri, penggunaan idiom-idiom kiri seperti diksi “petugas partai” maupun akomodasi terhadap gagasan-gagasan liberal.
Sedangkan PPP lebih pada religius-nasionalis sebagaimana PKB. Namun kini eksistensinya melemah sehinga sulit menjadi pencorak dominan.
Corak politik ini akan mengalami pergeseran dan berpadu-kelindan ketika pilpres berlangsung dua putaran oleh konsekuensi koalisi. Jika paslon 01 dan 03 berkoalisi, maka corak baru akan terbentuk merupakan perpaduan beragam Idiologi. Mengingat PDIP merupakan partai dengan jumlah besar parlemen, maka ekssistensinya akan tetap kuat sebagai penyangga koalisi. Walaupun paslon 01 menang, maka corak kiri-liberal tidak akan hilang.
Atas realitas itu, jargon “pilih yang lebih baik agamanya” menjadi tidak sepenuhnya akurat. Keputusan pimpinan puncak akan dicoraki oleh kekuatan-kekuatan politik penyangganya.
Capres mana yang bisa melindungi dan membangun eksisitensi peradaban bangsa ber-Tuhan. Nasionalis-Religius (Saptamargais), atau kiri-liberal-transnasional ?. Semua dikembaikan ijtihad masing-masing rakyat Indonesia.
ARS (rohmanfth@gmail.com), 21-01-2024