X TIMOR LESTE DAN KOTA TIMOR BARU. KENAPA TIDAK ?

Oleh : Abdul Rohman

X warga Timor Timur yang tersebar di se-antero NTT kini terus dibelit dinamika. Walaupun tidak memperoleh panggung pemberitaan luas dari media-media nasional.

Dinamika itu terus bergemuruh. Tidak pernah padam.

Setelah lebih dua dekade Timor-Timur merdeka, pemerintah RI mulai menunjukkan kepedulian. PLBN (Pos Lintas Batas Negara) dengan Timor-Timur dibenahi. Sebagian X (eks) pejuang Timor Timur yang setia NKRI diangkat sebagai veteran dan memperoleh tunjangan.

Para warga X Timor Leste yang memilih setia dan kini tinggal di wilayah Indonesia dibangunkan rumah. Disiapkan lebih dari 2.000 unit rumah layak huni. Lebih bagus dibanding jatah rumah pada masa-masa sebelumnya.

Pemerintah Timor Leste juga melakukan pendekatan. Mengajak rekonsiliasi para pejuang X Timor Leste. Entah apa bentuk rekonsiliasi itu nanti. Tim mereka menemui Eurico Guteres di Kupang NTT. Guteres ini merupakan Wakil Panglima milisi Pro Indonesia di Timor Leste pada masa jajak pendapat dahulu.

Timor Leste sendiri, masih terjebak sebagai negara termiskin di Asia. Bahkan masuk kategori negara miskin di dunia. Setelah lepas dari NKRI. Lebih dua dekade merdeka dari Indonesia.

Ladang minyaknya sudah dikuras Australia melalui skema kerjasama. Cadangannya dikabarkan sudah mulai habis. Kini ia membangun kedekatan dengan Indonesia. Salah satunya untuk menyelamatkan ekonominya. Juga agar diterima sebagai anggota ASEAN.

Kasus Timor Leste adalah potret sempurna penanaman DNA kolonialis Eropa atas nusantara. Betapa satu suku (Suku Timor) dalam sebuah pulau yang tidak terlalu besar (Pulau Timor), terbelah menjadi dua identitas. Baik secara idiologi, politik, maupun budaya. Sebagaimana kasus serupa terjadi di semenanjung Korea.

Kelompok pertama memilih tetap menjadi bagian nusantara. Konsisten berpijak pada jatidirinya sendiri sebagai orang suku Timor. Memilih setia dengan Indonesia.

Kelompok kedua memilih berpisah. Memilih merdeka. Namun tumbuh dalam bayang-bayang budaya bekas penjajahnya. Portugis. Ratusan tahun wilayah Timor Leste ini memang dijajah oleh kolonialis eropa Portugis.

Penanaman DNA kolonialis itu melalui dua cara. Pertama, secara genetik. Perkawinan silang antara warga penjajah dengan penduduk jajahan melahirkan etnis campuran. Timor Portugis. Warga campuran ini memiliki ikatan psikologis dengan negara penjajahnya.

Para pimpinan pro kemerdekaan Timor Leste rata-rata berdarah campuran. Seperti Xanana Gusmao maupun Ramos Horta.

Kedua, doktrinasi secara idiologi, budaya, dan politik.

Secara idiologi, di Timor Leste dilakukan doktrinasi bahwa Indonesia merupakan negara penjajah. Sementara bekas penjajah yang sesungguhnya, Portugis, lebih diterima secara bersahabat.

Indonesia merupakan saudara se-nusantara. Wilayah terdekatnya. Pada tahun 1975, terjadi konflik internal di Timor-Timur, dan meminta integrasi dengan Indonesia.

Indonesia menerima integrasi masyarakat Timor Timur itu. Timor-Timur menjadi bagian provinsi Indonesia. Namun sikap Indonesia ini kemudian dimusuhi. Justru ditempatkan sebagai penjajah dalam memori historis rakyat Timor Leste.

Secara budaya, Timor Leste melakukan elaborasi budaya penjajahnya. Ialah dengan melestarikan arsitektur negara penjajahnya dan menjadikan bahasa Portugis sebagai bahasa kedua. Sebuah bahasa yang nyaris tidak kontributif dalam percaturan antar bangsa.

Berbeda dengan bahasa Inggris yang memang menjadi kebutuhan komunikasi internasional. Atau Bahasa Indonesia untuk jalinan Kerjasama regional. Khususnya dengan Indonesia sebagai negara terdekat.

Secara politik ditandai dengan penerimaan. Bahkan dengan sikap inferiorisme, terhadap negara bekas penjajah yang memenderitakannya. Pejabat dan rakyat Timor Leste tampak lebih respek dengan penjajahnya. Bangsa Portugis.

Ada sikap mental lebih welcome dengan Portugis. Dibanding dengan bangsa nusantara sendiri. Walaupun bangsa ini sudah hidup ribuan tahun sebelumya dalam satu pulau yang sama. Sebelum kolonialis Eropa itu datang.

Secara formal, Timor Timur memang merdeka. Namun secara mental masih menempatkan dirinya tersubordinasi. Oleh kemegahan, superioritas, dan kemudian memberikan apresiasi yang positif, terhadap negara bekas penjajahnya itu.

Itulah sebenarnya yang menjelaskan kenapa Timor-Timur merdeka melalui jejak pendapat tahun 1999. DNA nya sudah bukan murni nusantara lagi. Jiwa kenusantaraannya sudah merosot. Akibat kolonialisme.

Para kelompok pro kemerdekaan Timor Leste sebenarnya tidak murni memerdekakan dirinya sebagai sebuah bangsa independen. Sesuai jatidiri dan akar kebangsaannya sebagai bangsa Timor.

Ia menempatkan diri sebagai perpanjangan dari citarasa kebangsaan penjajahnya. Bangsa Portugis.

Kasus serupa terjadi pada Papua New Guinea. Secara politik masih mengakui sebagai bagian persemakmuran Inggris. Bukan tumbuh sebagai bangsa independen sebagai bangsa Papua. Budayanya lebih akomodatif terhadap budaya Eropa. Terlihat dari arsitektur bangunan yang dilestarikannya.

Agak berbeda dengan Brunei Darussalam dan Malaysia. Walau menjadi negara persemakmuran, secara budaya berpijak secara konsisten pada budaya Melayu.

Pengungsi x Timor Timur tentunya merupakan perkecualian. Mereka memiliki DNA Nusantara. Suara hatinya tidak mengijinkan berpisah dengan akar budayanya sendiri. Sebagai suku bangsa Timor.

Maka ia memilih eksodus dari Timor Timur. Bergabung dengan Indonesia. Melalui proses perjalanan panjang sebagai pengungsi. Terusir dari kampung halamannya.

X warga Timor Timur ini rela menderita lebih dari dua dekade di wilayah RI. Menunggu uluran tangan saudara-saudaranya dari satu bangsa. Bangsa Nusantara. NKRI.

Uluran tangan itu kini mulai terpenuhi. Walaupun sifatnya masih sektoral-sporadis.

Jika kita merujuk dinamika sebelum jajak pendapat tahun 1999. Pemerintah Presiden Habibie memberi opsi warga Timor Leste untuk dua hal. Pertama otonomi khusus. Kedua, menolak otonomi khusus. Artinya merdeka. Lepas dari NKRI.

Sebagaimana kita tahu, mayoritas rakyat Timor Leste menolak otonomi khusus (memilih merdeka). Sebagian saja bergabung ke Indonesia.

Maka konstruksi perlakuan terhadap X warga Timor Timur seyogyanya tidak bergeser dari dinamika itu. Bobot perlakuan kepada mereka (X Timor Timur) setidaknya setara dengan nilai Otonomi Khusus yang pernah ditawarkan oleh pemerintah.

Untuk itu perlu dipertimbangkan membangun sebuah kota baru bagi warga x Timor Timur. Bisa saja dinamakan sebagai “Kota Timor Baru”. Membedakan dengan Timor Leste dan Timor Barat.

Kota ini diperuntukkan bagi warga X Timor Leste yang tersebar di NTT dan belum memperoleh penghidupan layak. Agar secara bersama-sama menata kehidupannya secara lebih baik.

Didirikan di daerah perbatasan RI – Timor Leste. Terbagi dalam beberapa kecamatan. Dilengkapi pusat pemerintahan, fasilitas perekonomian, fasilitas umum dan permukiman.

Fasilitas perekonomian bisa diintegrasikan dengan permukiman sebagaimana konsep Transmigrasi. Setiap kepala keluarga diberi lahan untuk digarap sebagai usaha pertanian/perkebunan/peternakan.

Sedangkan fasilitas pemerintahan dan fasilitas umum lainnya (kesehatan dan Kesehatan) dibangun seperlunya. Para x Warga Timor Leste bisa mengurus pemerintahannya sendiri. Setidaknya sebagai anggota-anggota legislatif daerah.

Selain digerakkan oleh usaha pertanian dan perkebuan, ekonomi kota baru ini juga bisa digerakkan oleh wisata budaya. Perlu dibangun pusat budaya Timor. Untuk kegiatan festival tahunan. Melibatkan masyarakat adat atau Raja-Raja Timor dari Indonesia maupun Timor Leste.

Adanya festival bersama ini dengan sendirinya tercipta integrasi antara warga Timor Leste maupun Warga Timor yang ada di Indonesia. Festival budaya juga akan memicu dampak ekonomi bagi warga X Timor Timur di kota yang baru itu.

Peristiwa eksodus warga Timor Timur meninggalkan kampung halamannya ke Indonesia. Juga bisa dikemas sebagai wisata kreatif. Sebagai peringatan tahunan atas peristiwa bersejarah itu.

Selain untuk membangun masa depan warga X Timor-Timur, kota baru ini juga memiliki makna strategis bagi pemerintah RI. Merupakan zona pertahahan jika sewaktu-waktu terjadi dinamika di Timor Leste. Warga kota Timor Baru ini akan menjadi garda depan dalam membela NKRI di perbatasan.

Pembangunan kota ini secara anggaran dan teknologi bukan tantangan sulit bagi pemerintah RI. Apalagi keberadaannya bisa menjadi penyelesaian permanen bagi masalah warga X Timor-Timur.

Bagaimana pendapat anda ?

ARS, Jalan Bangka-Jaksel, 27-02-2002

Lihat juga...