Desa miskin di Pemalang ini sekarang jadi Desa Eduwisata

Admin

JAWA TENGAH, Cendana News – Desa Bojongnangka, Kecamatan-Kabupaten Pemalang, dulu termasuk desa miskin.

Namun sekarang Desa Bojongnangka di Pemalang itu sudah berubah menjadi Desa Eduwisata sekaligus penghasil pupuk organik.

Menurut Kepala Desa Bojongnangka, Pemalang, Wahmu, perubahan menjadi Desa Eduwisata itu karena adanya pendampingan dari Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi Jawa Tengah.

Wahmu mengatakan, desa Bojongnangka menjadi binaan BKD Jawa Tengah sejak tahun 2020 hingga 2021.

“Kita ada pendampingan dari BKD karena di Pemalang ada beberapa desa miskin, di antaranya Desa Bojongnangka,” kata Wahmu dikutip dari laman jatengprov, Minggu (20/11/2022).

Dia menjelaskan, jumlah penduduk Desa Bojongnangka ada sekitar 9.600 jiwa lebih, dengan 3.500 kepala keluarga. Dan, 99 persennya bekerja sebagai petani dan buruh tani.

Karenanya, pengembangan potensi desa mengarah pada bidang pertanian.

Pada tahun 2019, Pemdes setempat berinisiasi untuk membangun rumah produksi pupuk organik.

Namun, karena keterbatasan anggaran sehingga hanya mampu membeli mesin pencacah sampah.

Saat pendampingan oleh BKD dimulai, rumah produksi sampah makin ditingkatkan, demikian pula dengan peralatan dan pengelolaannya.

Pada tahun 2020, BKD dan Bank Jateng memberikan bantuan alat pengayak sampah, bangunan rongga untuk fermentasi, dan tempat sampah, serta becak pengangkut sampah.

“Sejak itulah produksi pupuk organik bisa beroperasi,” kata Wahmu.

Sejauh ini, mesin pembuat pupuk organik tersebut mampu menghasilkan sekitar satu ton sebulan.

“Hasil pembuatan kompos tidak dijual belikan, tapi diberikan ke petani secara gratis,” ujar Wahmu.

Keberhasilan pengelolaan pupuk organik oleh warga kemudian dikembangkan menjadi eduwisata sawah.

Selain bisa belajar mengelola pertanian, wisatawan bisa belajar pembuatan pupuk organik. Mereka juga bisa menikmati kuliner khas desa dan berswafoto.

“Sekarang saya mengembangkan menjadi wisata edukasi sawah yang kita namakan Gatra Kencana. Beberapa daerah datang ke sini untuk studi banding seperti Brebes, Tegal, Pekalongan, dan Demak. Sejak dibuka Desember lalu, kini sudah mampu memberi pemasukan Rp500 juta,” jelasnya.

Ditambahkannya, saat proses pendampingan Pemprov Jawa Tengah juga memberikan bantuan pembangunan RTLH.

“Ada tiga rumah warga yang mendapat bantuan renovasi,” imbuhnya.

Terkait program pendampingan desa oleh OPD, sejak dicanangkan tahun 2019 saat ini sudah 172 desa di Jawa Tengah mendapat pendampingan.

Setidaknya ada 48 OPD yang terlibat dalam program tersebut yang memberikan pendampingan mulai dari pemberdayaan ekonomi, RTLH, jambanisasi, dan lainnya.

Lihat juga...