Pelepah pinang bisa dibuat jadi piring dan mangkuk, unik
Admin
JAKARTA, Cendana News – Pelepah daun pinang ternyata bisa dibuat menjadi piring dan mangkuk ramah lingkungan.
Kerajinan piring dan mangkok berbahan daun pinang ini ada di Sinar Wajo dan Sungai Beras, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi.
Perajin piring dan mangkuk dari pelepah pinang di dua desa itu tergabung dalam Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Lojo Kleppa dan Kodopi Mitra Madani.
Kerajinan unik bernilai jual tinggi tersebut bermula dari anjloknya harga komoditas pinang di desa itu.
Seperti diketahui, desa Sinar Wajo dan Sungai Beras merupakan sentra produsen utama komoditas pinang di Indonesia.
Menurut data Badan Pusat Statistik 2018, luas perkebunannya mencapai 21.531 hektare.
Perkebunan Areca catechu di Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur mendominasi, dengan luas lahan masing-masing 8.760 hektare dan 6.716 hektare.
Namun ketika harga pinang anjlok, banyak pelepah pinang berserakan.
Kemudian, Komunitas Konservasi Indonesia-Warung Informasi Konservasi atau KKI-Warsi, mengajari warga dua desa itu untuk mengelola pelepah pinang menjadi kerajinan piring dan mangkuk.
Mereka kemudian menggandeng Rumah Jambee, sebuah wadah usaha mikro, kecil, menengah (UMKM). Wadah ini didirikan oleh empat peneliti dari Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Jambi.
Keempatnya pada tahun 2017 pernah meneliti manfaat ekonomi dari pelepah pinang.
Fasilitator Komunitas dan Kabupaten KKI-Warsi, Ayu Shafira mengatakan inovasi piranti makan dari pelepah pinang menguntungkan petani.
Mereka tidak harus membersihkan area perkebunan dari pelepah yang setiap hari berjatuhan.
Perajin boleh mengambil dan memanfaatkan limbah pelepah itu sebagai bahan baku, tanpa harus membayar sedikit pun.
“Jadi, bahan baku yang begitu berlimpah bisa didapatkan secara gratis,” kata Ayu dikutip dari laman infopublik, Selasa (25/10/2022).
Pelepah dari pohon pinang terkenal kuat dan tak mudah patah saat sudah kering.
Salah satu sisi permukaan pelepah punya pelapis lilin alami. Untuk kebutuhan bahan baku piranti makan adalah pelepah baru 1-2 hari jatuh dari pohonnya.
Kemudian pelepah dicuci dengan sabun pencuci piring, dan dijemur di sinar matahari langsung selama sekitar 3-4 jam.
Pelepah kemudian siap untuk masuk ke mesin cetak bernama moulding hot press.
Mesin itu digerakkan oleh tenaga tabung gas dan menghasilkan panas bersuhu 120 derajat Celcius. Proses pencetakan memakan waktu sekitar satu menit.
Ayu menjelaskan, piring pelepah pinang tahan lama dan tidak berjamur jika disimpan di dalam lemari tertutup.
Hal itu karena saat proses penjemuran, pelepah harus dipastikan dalam kondisi benar-benar kering.
Sementara itu, setiap pelepah dapat menghasilkan dua piranti makan, baik piring ataupun mangkuk berukuran panjang 24 cm dan lebar 16 cm.
Pelepah pinang punya aroma harum yang khas dan lebih ramah lingkungan. Dan, piranti makan unik ini bisa dipakai berulang hingga delapan kali.
Sedangkan corak alami dari pelepah pinang menjadi nilai lebih dari piranti makan dari Tanjung Jabung ini.
Bahkan dari segi warna, piranti makan ini diklasifikasikan menjadi grade A, B, dan C, bergantung dari banyaknya motif warna.
Produk piranti makan ini pun sudah dijual di berbagai platform lokadagang dalam aneka ukuran dan bentuk.
Piranti makan dari pelepah pinang ini jug punya banyak kelebihan. Selain bebas kimia dan ramah lingkungan, juga mampu menekan pemakaian produk sejenis berbahan plastik dan styrofoam yang lebih sulit didaur oleh alam.