Jejak Langkah Pak Harto 23 September 1967 – 23 September 1975

JAKARTA, Cendana News – Presiden kedua Republik Indonesia, Jenderal Besar HM Soeharto banyak mengukir sejarah penting selama kepemimpinannya. Menjabat sejak 12 Maret 1967 hingga 21 Mei 1998, Pak Harto fokus dalam berbagai bidang, terutama yang berhubungan kesejahteraan rakyat Indonesia. Mulai dari pembangunan sekolah Inpres, Wajib Belajar, Puskesmas, Waduk, Infrastruktur Nasional, Hingga membangun 999 Masjid yang tersebar di berbagai pelosok Nusantara.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenal sejarah dan inilah sejumlah peristiwa yang terjadi pada tanggal 23 September di masa Pemerintahan Presiden HM Soeharto.

Sabtu, 23 September 1967
Pejabat Presiden Jenderal Soeharto, dalam amanatnya dihadapan peserta peringatan Hari Bahari, mengatakan bahwa wawasan nusantara adalah integrasi yang bulat dan serasi daripada wawasan pertiwi, wawasan bahari, dan wawasan dirgantara.

Senin, 23 September 1968
Presiden Soeharto mengadakan pertemuan dengan pimpinan MPRS, DPR-GR, dan DPA yang didampingi oleh Menteri Negara Penghubung Lembaga-Lembaga dan Pemerintah, Mintaredja SH, di Istana Merdeka.

Pada pertemuan ini, Presiden telah meminta pertimbangan para pimpinan lembaga tersebut tentang pelaksanaan hukuman mati dan seumur hidup yang telah dijatuhkan oleh Mahkamah Militer Luar Biasa atas diri 26 orang terhukum.

Presiden Soeharto menyatakan bahwa dalam meminta pertimbangan ini bukanlah hendak mengelak tanggungjawab, karena Presiden mempunyai hak prerogatif, melainkan untuk memantapkan keputusan yang telah diambil oleh Mahkamah dan di samping itu untuk mempercepat proses pelaksanaanya.

Seluruh pembicara mempercayakan sepenuhnya kepada Presiden dan menyatakan bahwa hal itu seluruhnya adalah tanggungjawab Presiden dan tergantung pada Presiden, sesuai dengan UUD 1945.

Kamis, 23 September 1971
Ketika menerima Gubernur Asnawi Mangkualam di Bina Graha pagi ini, Presiden Soeharto menganjurkan agar segera menghidupkan kembali pertanian tebu rakyat di daerah Sumatera Selatan.

Presiden meminta agar usaha pertanian tebu rakyat ini dapat diusahakan secara intensif dan mendapat bimbingan dari tenaga-tenaga ahli pertanian yang berpengalaman.

Menurut Jenderal Soeharto, hasil pertanian tebu ini akan dapat di olah rakyat menjadi gula merah, sedangkan sisanya ditampung oleh pabrik gula. Gubernur Sumatera Selatan menghadap Presiden untuk melaporkan tentang penyelenggaraan PON IX baru-baru ini di Palembang. Disamping itu ia juga melaporkan tentang rencana pembangunan sebuah pelabuhan samudera di muara Sungai Musi.

Selasa, 23 September 1975
Presiden Soeharto pagi ini di Bina Graha memimpin sidang kabinet terbatas bidang Kesra. Dalam sidang tersebut Kepala Negara antara lain telah menginstruksikan Menteri Sosial untuk meneliti lembaga-lembaga sosial swasta yang bergerah di bidang pengelolaan panti-panti asuhan dan kegiatan-kegiatan sosial lainnya.

Dari penelitian itu diharapkan adanya masukan yang berguna untuk meningkatkan pelayanan sosial, selain berguna untuk penyusunan aturan-aturan hukum.

Pada kesempatan itu pula Presiden memberitahukan tentang pembentukan Yayasan Dharma Bakti Sosial, yang disingkat Yayasan Dharmais, yang bertujuan untuk membantu meringankan beban golongan yang lemah.

Sumber : Buku Jejak Langkah Pak Harto Jilid 1-6

Lihat juga...