Pertempuran Dahsyat Soeharto, dari Zaman Belanda Hingga PKI 1965
Editor: Koko Triarko
Operasi Penumpasan Pemberontakan Andi Aziz dan Pengamanan Kota Makassar
Pada 5 April 1950, terjadi pemberontakan Andi Aziz. Pemberontakan ini dilakukan di bawah pimpinan Kapten Andi Aziz, seorang mantan perwira tentara KNIL yang baru saja bergabung ke APRIS (Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat).
Andi Azis melakukan pemberontakan karena menolak masuknya pasukan APRIS ke Makassar. Andi Azis ingin mempertahankan keutuhan Negara Indonesia Timur.
Pada 5 April 1950, Andi Azis dan Pasukan Bebasnya menyerang markas APRIS di Makassar.
Selain menyandera sejumlah perwira APRIS, mereka juga menyerang dan menduduki tempat-tempat vital di Makassar.
Pada tanggal 8 April 1950, pemerintah mengeluarkan ultimatum yang memerintahkan agar Andi Azis segera melapor. Dan, mempertanggungjawabkan tindakannya ke Jakarta.
Namun, Andi Azis tidak mengindahkan perintah tersebut. Kemudian, pemerintah mengirim pasukan berkekuatan satu divisi di bawah Kolonel Alex Kawilarang.
Di bawah kepemimpinan Kolonel Alex Kawilarang, Soeharto yang saat itu berpangkat Letkol turut serta menjalankan misi penumpasan.
Dia datang ke Makassar untuk memimpin pasukan Brigade Garuda Mataram/Divisi III Jawa Tengah.
Selain pasukan pimpinan Letkol Soeharto, turut pula sejumlah pasukan lain dari beberapa brigade. Baik ari Divisi Jawa Barat maupun Jawa Timur.
Dengan panji bergambar Burung Garuda, pasukan Letkol Soeharto yang terdiri dari 2 batalyon penggempur, saat itu dianggap paling siap menjalankan operasi militer.
Namun sebelum operasi dilancarkan, ternyata pada tanggal 15 April 1950, Andi Azis bersedia datang ke Jakarta.
Setelah itu, Letkol Soeharto langsung ditunjuk sebagai Komadan APRIS Sektor Kota Makassar. Tugasnya mengamankan kota dari gangguan eks KNIL/KL, bekas pasukan Andi Azis.
Sementara itu, Andi Aziz ditahan dan diadili pada tahun 1952, dan dijatuhi hukuman penjara selama 14 tahun.