Kenaikan Omzet Jasa Angkutan di Bakauheni Tak Signifikan

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG, Cendana News – Meningkatnya jumlah pemudik tujuan Sumatera saat arus Lebaran 2022 tidak signifikan mendongkrak kenaikan omzet jasa angkutan penumpang di Bakauheni.

Hendra, pengemudi travel jurusan Bakauheni-Rajabasa, Bandar Lampung, mengatakan kenaikan hanya sekitar 50 persen dari hari biasa.

Menurut Hendra,  dibandingkan dua tahun sebelum Covid-19 omzet tidak naik signifikan.

Hal itu karena banyaknya pemudik tahun ini yang menggunakan moda transportasi bus, travel, ojek, angkutan pedesaan hingga jemputan kendaraan pribadi.

“Mudik lebaran tahun ini memang meningkat dari sisi jumlah penumpang, namun dari pulau Jawa sudah memakai fasilitas bus mudik gratis, motor, dan travel langsung dan bus langsung ke sejumlah tujuan di Lampung dan Sumatera,” terang Hendra, saat ditemui Cendana News di Terminal Bakauheni, Kamis (5/5/2022).

Hendra bilang, harapan pelaku usaha jasa angkutan ada pada pemudik pejalan kaki.

Pemudik dari Pelabuhan Merak yang turun di Bakauheni memilih berbagai moda transportasi.

Ia menyebut, tarif dari Bakauheni ke Rajabasa dan sejumlah rute di Jalinsum bisa mencapai Rp50.000 hingga Rp70.000.

Pemudik memilih moda angkutan pedesaan (angdes). Meski terpantau ramai pemudik, ia menyebut pembagian (sharing) penumpang menyesuaikan tujuan.

Sebab, trayek dari Bakauheni terbagi ke Jalan Lintas Timur menuju ke Lampung Timur hingga ke Menggala.

Sebagian kendaraan melayani trayek ke Jalan Lintas Sumatera tujuan Bandar Lampung, Pesawaran, Lampung Tengah.

“Butuh waktu sekitar satu hingga dua jam travel penuh, karena setiap bongkaran kapal tidak semua penumpang memiliki tujuan yang sama,” ungkapnya.

Secara blak-blakan Hendra mengaku biaya operasional kendaraan tidak tertutupi. Selain harus membayar setoran ke perusahaan jasa travel, ia juga harus mengisi bahan bakar, biaya perawatan hingga jasa pencari penumpang.

Hendra bilang, sesuai hitungan kasar omzet pada angkutan Lebaran 2018 hingga 2019 lebih menjanjikan.

Memasuki masa Covid-19, adanya larangan mudik berimbas omzet anjlok signifikan.

Jika sebelumnya satu trip bisa mendapat hasil Rp500 ribu, tahun ini penghasilan hanya berkisar Rp300 ribu.

“Hasil jasa travel jika dibanding dua tahun lalu anjlok, namun dibanding dua tahun selama Covid, masih lumayan,” katanya.

Selain Hendra, salah satu pengemudi bus antar kota dalam provinsi (AKDP), Marjuki juga mengaku penghasilannya menurun.

Menurutnya, banyak faktor penyebab penumpang berkurang memakai moda transportasi bus.

Penggunaan motor, travel langsung, carter kendaraan pribadi hingga mudik gratis memicu jasa bus AKDP kekurangan penumpang.

Antisipasi oleh Dinas Perhubungan, Organda untuk lonjakan penumpang arus mudik tidak sesuai prediksi.

Lima tahun sebelumnya, di terminal Bakauheni kerap terjadi kekurangan armada bus, travel imbas membludaknya penumpang asal Merak.

“Tahun ini justru pelaku jasa kendaraan kekurangan penumpang karena telah beralih ke moda transportasi lain,” bebernya.

Sementara itu Sopian Sarif, pemudik asal Serang, Banten tujuan Lampung Timur memilih dijemput keluarga.

Sebab, ia harus berganti kendaraan travel, lalu jasa ojek. Ia memilih memberi uang jasa kepada kerabat sekaligus lebih cepat tiba di rumah.

Menunggu kendaraan berangkat atau ngetem menjadi pengalaman buruk baginya pada mudik beberapa tahun sebelumnya, sehingga jemputan kerabat memakai motor menjadi pilihan.

Data Posko Mudik ASDP Cabang Bakauheni, jumlah pemudik terus meningkat. Hingga Rabu (4/5) malam jumlah pemudik pejalan kaki dari Merak mencapai 2.333 orang. Sementara dari Bakauheni ke Merak 4.317 orang.

Jumlah kendaraan roda dua dari Bakauheni tercatat 3.775 unit, dari Merak 1.527 unit.

Kendaraan bus dari Bakauheni 88 unit, bus dari Merak 157 unit. Truk dari Bakauheni sebanyak 192 unit, truk dari Merak sebanyak 219 unit.

Kementerian Perhubungan memprediksi puncak arus balik Lebaran bakal terjadi pada 6-8 Mei mendatang atau saat akhir pekan.

Lihat juga...