Bersama Koperasi, Usaha Kerajinan Pelepah Pisang Ini Berkembang
Editor: Koko Triarko
YOGYAKARTA, Cendana News – Program ‘Modal Kita’ koperasi binaan Yayasan Damandiri turut menopang keberlangsungan usaha kerajinan keranjang berbahan serat alami di Bantul.
Pinjaman ‘Modal Kita’ dari koperasi binaan Yayasan Damandiri menopang keberlangsungan usaha kecil di desa Trirenggo, Bantul.
Dan, ‘Modal Kita’ menjadi salah satu tumpuan bagi pelaku usaha kecil untuk memenuhi kebutuhan modal.
Salah satunya bagi pelaku usaha kerajinan keranjang berbahan pelepah pisang milik Subaryanti Ningsih (53).
Ibu dua anak warga dusun Dowaluh, Cepoko, Trirenggo, Bantul, tersebut sudah belasan tahun merintis usaha sendiri.
Dia mengatakan sudah menggeluti usaha kerajinan serat alami sejak tahun 2007.
Dan, selama hampir 15 tahun terakhir ini dia juga bekerja sebagai karyawan di perusahaan eksportir kerajinan.
Selain bekerja di perusahaan tersebut sebagai Quality Control, Subaryanti juga merintis usaha kerajinan serupa di rumahnya.
Dia memberdayakan ibu-ibu rumah tangga di sekitarnya untuk membuat kerajinan.
“Mereka saya ajari membuat kerajinan dari nol,” katanya.
Untuk menjalankan usahanya itu, Subaryanti rutin mendapatkan suplai bahan baku pelepah pisang dari tempatnya bekerja.
Bersama suami dan perajin binaannya, dia memproses pelepah pisang menjadi beberapa produk kerajinan.
Sejak tiga bulan terakhir pada Februari hingga Mei ini, dia mendapat pesanan 850 set keranjang pelepah pisang.
Satu set berisi 2-3 peice kerangjang. Rata-rata dari 1 set keranjang itu dia mendapatkan omzet sekitar Rp57 ribu.
“Dan, keuntungannya sekitar Rp17 ribu per piece,” ungkapnya.
Saat ini, Subaryanti memiliki sekitar 40 perajin yang tersebar di sejumlah daerah di Bantul.
Khusus di wilayah sekitar tempat tinggalnya, yakni padukuhan Cepoko, ada kurang lebih 16 orang.
Dia membayar perajin binaannya dengan sistem borongan. Untuk satu keranjang mentah sebesar Rp20 ribu.
Kalau sampai jadi/ finishing bisa Rp40 ribu per piece. Namun kalau hanya menyulam benang, upahnya Rp10 ribu.
“Jadi, bayaran tergantung kemampuan masing-masing,” jelasnya.
Di tengah kesuksesannya itu, Subaryanti mengakui adanya peran besar Koperasi Gemah Ripah Trirenggo.
Melalui koperasi binaan Yayasan Damandiri itu dia bisa memenuhi kebutuhan modal usaha.
Dia bergabung sebagai anggota koperasi sejak awal program Yayasan Damandiri di desanya berjalan sejak tahun 2017.
Awalnya dia meminjam modal usaha sebesar Rp3 juta, kemudian naik menjadi Rp5 juta.
“Sampai sekarang saya masih rutin meminjam di koperasi,” akunya.
Wanita paruh baya ini menilai, keberadaan program pinjaman ‘Modal Kita’ dari Yayasan Damandiri sangat bermanfaat.
Lewat pinjaman modal tanpa agunan itu, dia bisa menjalankan usaha kerajinan hingga berkembang seperti saat ini.
“Mudah-mudahan program ini bisa terus berjalan, dan tidak berhenti begitu saja,” pungkas Subaryanti, berharap.