Candi Sari dan Kalasan Resmi Dibuka Selama Libur Lebaran
Redaktur: Muhsin Efri Yanto
YOGYAKARTA Cendana News – Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) DIY bersama Dinas Pariwisata Sleman sepakat untuk membuka 2 candi di wilayah Sleman yakni Candi Sari serta Candi Kalasan selama masa libur lebaran tahun ini.
Pembukaan ini menyusul tiga candi lainnya yang sebelumnya telah dibuka untuk wisatawan yakni Candi Sambisari, Ijo, dan Banyunibo.
“Pada Hari ke 2 libur Hari Raya atau Selasa tanggal 3 Mei kami mengoperasionalkan 2 candi lagi yang mempunyai nilai historis yang sangat menarik dan saling berkait satu sama lain. Keduanya merupakan Candi Budha yaitu Kalasan dan Sari,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Sleman Suparmono, Kamis (28/04/2022).
Suparmono menjelaskan kebijakan ini dilakukan mengingat secara lokasi, kedua candi ini sangat strategis untuk dikunjungi wisatawan, karena terletak tidak jauh dari ruas Jalan Raya Solo Jogja atau hanya sekitar 2 Km sebelah barat Prambanan.
“Candi Kalasan mulai dibuka tahun ini setelah berkoordinasi dengan Balai BPCB dan telah dinyatakan selesai proses pemugarannya. Harapannya, kemegahan situs, nilai cerita sejarah, dan juga letaknya yang strategis dapat menjadi tujuan alternatif bagi wisatawan yang berkunjung ke DIY,” imbuhnya.
Lebih lanjut Suparmono menjelaskan para pengunjung saat ini sudah dapat masuk ke dalam bangunan candi, tetapi karena masih masa pandemi, jumlah orang yang masuk dibatasi dan bergantian. Khusus untuk Candi Kalasan pengunjung belum diperbolehkan masuk ke dalam bangunan candi karena masalah teknis perlindungan situs.
“Sebenarnya Candi Barong juga ingin kita buka, tetapi karena masih proses pemugaran belum dapat kami buka tahun ini,” bebernya.
Secara terpisah Zaimul Azzah Kepala Balai BPCB DIY membenarkan bahwa Candi Kalasan telah selesai proses pemugarannya dan dapat dikunjungi untuk penelitian maupun berwisata.
Lebih lanjut Azza menjelaskan bahwa Candi Kalasan mempunyai keistimewaan yang tidak dimiliki oleh seluruh candi di Indonesia, yaitu adanya sebuah batu berbentuk setengah lingkaran tepat di depan tangga sisi timur.
“Ini sebagai moonstone (batu bulan), yang lazim terdapat di kuil-kuil Buddha India Selatan,” katanya.
Keistimewaan lainnya adalah bagian dinding luar candi dilapisi lepa yang disebut bajralepa yang diartikan sebagai diamond cement sebagai lapisan seperti acian di jaman sekarang, dan juga berfungsi sebagai pencerah warna batu andesit yang hitam keabuan menjadi putih bersinar.
Candi Kalasan yang diperkiraan oleh para peneliti lebih tua dari Candi Prambanan tersebut merupakan sebuah vihara untuk memuja Dewi Tara yang didirikan sekitar tahun 778 M yang pada perkembangan penelitiannya para arkeolog menghubungkan pendirian vihara dengan Candi Sari sebagai semacam asrama atau tempat tinggal para biksu yang terletak di sisi timur Candi Kalasan dengan jarak ± 500 m.
Keberadaan kata “sari” berarti cantik atau elok. Penamaan tersebut kemungkinan didasari atas kenyataan bahwa Candi Sari memiliki hiasan serta corak gaya bangunan yang indah.
Selain itu di dalam tubuh candi juga terdapat tiga bilik (ruangan) yang berjajaran yang dihubungkan dengan pintu yang ada pada tembok pemisah. Diperkirakan Candi Sari mempunyai 2 lantai yang disekat menggunakan kayu. Hal itu diketahui dari adanya lubang-lubang untuk meletakkan ujung balok pada bagian dindingnya.
“Candi Kalasan dan Candi Prambanan yang terpaut tidak begitu lama pendirianya menunjukkan bahwa sudah ada tatanan pemerintahan dan sistem sosial kemasyarakatan yang baik, yang terlihat adanya kerukunan beragama dan hidup berdampingan antara penganut agama Buddha dan Hindu pada masa itu,” pungkasnya.