Kronologi Terjadinya SU 1 Maret 1949, Ada Perintah Siasat Jenderal Soedirman, Apa Itu?
Editor: Koko Triarko
Kemudian, Komandan Wehrkreise memiliki kewenangan atas wilayahnya dalam menggerakkan semua potensi perjuangan untuk mengamankan wilayah.
Menurut Abdul Rohman, Letkol Soeharto sebagai Komandan Wehrkreise tidak bisa disepadankan dengan Komandan Korem saat ini.
“Komandan Wehrkreise memiliki kewenangan sendiri dalam menggerakkan semua potensi perjuangan untuk mengamankan wilayah,” ujarnya.
Menurut Abdul Rohman, Panglima Soedirman menempatkan Letkol Soeharto di Ibu Kota Yogyakarta juga bukan tanpa sebab.
“Kecemerlangan Letkol Soeharto mengamankan lambung pasukan Induk Panglima Soedirman dalam Pertempuran Lima Hari di Semarang menjadi pertimbangan,” katanya.
Sementara itu isi konsolidasi keempat adalah memperluas perlawanan dengan menugaskan Divisi Siliwangi melakukan ‘Aksi Wingate’.
Aksi ‘Wingate’ itu adalah kembali ke daerah asal dengan melakukan infiltrasi jarak jauh, menyusup ke daerah yang diduduki Belanda, dan membentuk wehrkreise-wehrkreise dan melancarkan gerilya.
Agresi Militer Belanda
Seperti yang telah diprediksi oleh Pangsar Jenderal Soedirman, pada tanggal 19 Desember 1948 terjadilah Agresi Militer II Belanda.
Saat itu, pasukan Letkol Soeharto, Brigade X Yogyakarta, ditempatkan di Purworejo untuk menghadang laju sekutu yang diprediksi akan melalui Gombong-Kebumen-Purworejo-Wates-Yogyakarta.
Tetapi, ternyata Belanda menyerang menggunakan airbone operation langsung ke Lapter Maguwo, sehingga bisa melewati perlawanan darat Brigade X.
Karena tidak ada pasukan, satu kompi pengawal Letnan Kolonel Soeharto hanya mampu mnghambat laju Belanda di luar kota pukul dua atau tiga siang.
Sementara itu, pasukan CPM berceceran mengawal Jenderal Soedirman bergerilya beserta Presiden-Wakil Presiden.
Komando Kota Yogyakarta adalah Komando Militer Kota (KMK) di bawah kendali MBAD, dengan kekuatan satu kompi pimpinan Latif Hendraningrat.
Alhasil, Belanda leluasa memasuki kota dan para pimpinan pemerintahan RI menjadi tahanan politik.
Tanggal 20 Desember 1948
Pada saat tembak-menembak dengan Belanda di kampung Nyutran, pinggiran tenggara Kota Yogyakarta, Letkol Soeharto bertemu Kapten Widodo, komandan kompi Batalyon Sardjono.
Dia kemudian memerintahkan Widodo menemui komandan dan pasukannya di Purworejo, untuk segera ditarik ke Yogyakarta dan membentuk Sektor Selatan.
Pada pukul satu atau dua malam hari tanggal 20 Desember 1948, Letkol Soeharto bergerak ke barat bersama kurang dari 10 pasukan pengawal.
Letkol Soeharto kemudian menemukan pasukan yang tidak mau wingate dan menunjuk Mayor Ventje Sumual sebagai komandan sektor barat, Yogyakarta-Purworejo, Yogya-Magelang.
Letkol Soeharto lalu melanjutkan bergerak ke utara dan menemukan pasukan Akademi Militer pimpinan Kolonel Jatikusumo.
Karena Kolonel Jatikusumo pangkatnya lebih tinggi, Soeharto meminta Kepala Stafnya, Mayor Kusno untuk memimpin sektor utara.
Letnan Kolonel Soeharto melanjutkan bergerak ke timur dan menunjuk Mayor Sardjono dari batalyonnya sendiri untuk memimpin sektor timur.
Dia juga menetapkan Letnan Marsudi (pimpinan) dan Letnan Amir Murtono (wakil) sebagai komandan sektor kota.
Tanggal 27 Desember 1948
Letkol Soeharto membentuk lima sektor pertempuran. Selama seminggu Letkol Soeharto melakukan perjalanan untuk membentuk sektor-sektor pertempuran menyerang Yogyakarta.
Tanggal 27 Desember 1948
Letkol Soeharto membentuk lima sektor pertempuran, yaitu barat, timur, selatan, utara dan kota.
Tanggal 30-31 Desember 1948, Serangan Umum I
Letkol Soeharto memerintahkan Serangan Umum malam hari sebagai hadiah tahun baru bagi tentara Belanda.
Dalam peristiwa ini, pasukan Letkol Soeharto hampir terjepit oleh pasukan Belanda di Bantul.
Tanggal 9 Januari 1949, Serangan Umum II
Letkol Soeharto memerintahkan Serangan Umum II dan Serangan Umum III pada tanggal 16 Januari 1949.
Tanggal 4 Februari 1949, Serangan Umum IV
Letkol Soeharto memerintahkan Serangan Umum IV dan dalam rapat DK PBB, ia mengetahui Belanda menyatakan telah menduduki Yogyakarta.
Pemerintah tidak ada, pemimpin telah ditangkap dan RI sudah tidak lagi memiliki kekuatan militer. Masalah tersebut diketahui melalui berita radio.
Akhir Februari 1949, Serangan Pendahuluan
Dengan kekuatan dua kompi, Letkol Soeharto memimpin langsung serangan terhadap Belanda di luar kota, untuk memancingnya keluar kota.
1 Maret 1949, Serangan Umum V
Letkol Soeharto memimpin serangan umum terhadap Belanda di Ibu kota Yogyakarta, menggunakan sandi Janur Kuning.
Selama enam jam, pasukannya bisa menguasai Kota Yogyakarta dan pasukan Belanda ‘mati suri’.