Prof Nidom Tepis Isu Terkait Vaksin Nusantara

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

Ketua Tim Riset Corona & Formulasi Vaksin, Prof. Dr. drh. C.A.Nidom MS, menepis beberapa isu terkait vaksin Nusantara, saat dihubungi, Rabu (11/8/2021) - Foto Ranny Supusepa

JAKARTA — Ketua Tim Riset Corona & Formulasi Vaksin, Prof. Dr. drh. C.A.Nidom MS, menyebutkan, pengembangan vaksin nusantara tidaklah mahal dan hasil yang didapatkan paska pemantauan, memiliki performance yang baik dan tidak menimbulkan keluhan apa pun pada relawan.

“Ilustrasinya begini. Dimisalkan harga antigen per paketnya Rp10 miliar. Kalau yang menggunakannya hanya satu orang jelas mahal. Tapi kalau untuk digunakan 1 juta orang, biaya per orangnya kan hanya Rp10 ribu. Jadi silahkan nilai sendiri, apakah vaksin nusantara ini mahal atau murah,” kata Prof Nidom saat dihubungi oleh Cendana News, Rabu (11/8/2021).

Ia menjelaskan, proses yang dibutuhkan untuk penerapan vaksinasi pun tak lama, hanya 7-8 hari sejak pengambilan darah.

“Setelah 40ml darah diambil, langsung dilakukan pemilahan untuk diambil sel dendritiknya. Sel ini ditumbuhkan dalam inkubator selama lima hari, lalu dipisahkan antara sel muda dan tua. Sel yang digunakan hanya yang muda untuk dipapar dengan Antigen Protein Spike Virus Covid. Jumlah antigennya tergantung Valen dari Virus. Kalau trivalen maka ada tiga macam antigen yang dipergunakan,” urainya.

Setelah dua hari pemaparan atau aktivasi, sisa cairan yang berupa media tumbuh sel dan antigen Spike akan dibuang.

“Ini sekaligus untuk meluruskan informasi, bahwa di vaksin nusantara tidak ada sisa antigen yang dimasukkan. Berbeda dengan vaksin konvensional,” urainya lebih lanjut.

Sel Deindritik yang sudah membawa memori antigen S, dilarutkan dengan serum yang didapat delapan hari yang lalu, baru setelah itu disuntikkan.

“Kalau ada virus baru yang lebih ganas, maka tinggal dibuat protein S dari virus varian baru tersebut, yang prosesnya sekitar 40 hari. Lalu tinggal disuntikkan setelah melewati proses yang seperti diuraikan sebelumnya,” kata Prof Nidom.

Ia menyatakan mahalnya Antigen Protein Spike ini disebabkan karena masih menjadi paten salah satu institusi di luar negeri.

“Karena itu, PNF (Professor Nidom Foundation) sedang menyusun disertasi S3 tentang protein S ini. Diperkirakan akan rampung pada September tahun ini. Jika sudah selesai maka masalah teknis dan finansial bisa dipecahkan dan akhirnya vaksin ini betul-betul bermerk nusantara,” tutur Guru Besar Biologi Molekuler Universitas Airlangga ini.

Dari hasil pemantauan terkait uji titer respon imun yakni antibodi dan daya protektif, Prof Nidom menyebutkan vaksin nusantara memiliki performance sangat baik dan bertahan sangat lama.

“Pada satu kelompok terpantau lebih dari enam bulan dan tidak menunjukkan keluhan apapun. Sehingga, jika Indonesia atau dunia ingin masalah pandemi ini selesai maka penggunaan teknologi vaksin berbasis sel dendritik ini adalah pilihannya,” pungkasnya.

Lihat juga...