PPKM Level IV, Penjualan Kuliner di Sikka Belum Normal

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Penjualan kuliner di Kota Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) belum normal akibat Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level IV sehingga belum banyak warga yang beraktivitas.

“Penjualan kuliner masih sepi, saya saja jual nasi kuning sehari laku paling banyak 20 bungkus,” kata Maria W. Parera, penjualan nasi kuning di Kota Maumere, Kabupaten Sikka,NTT, saat ditemui di Kelurahan Wairotang, Kota Maumere, Selasa (3/8/2021).

Pedagang nasi kuning di Kelurahan Wairotang, Kota Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Maria W. Parera saat ditemui di rumahnya, Selasa (3/8/2021). Foto: Ebed de Rosary

Maria mengatakan, nasi kuning dijual dengan harga Rp5 ribu per bungkus dengan lauk ikan atau tahu yang biasa dijual pedagang di pinggir jalan di Kota Maumere setiap pagi.

Ia mengakui, terkadang dalam sehari cuma laku 15 bungkus bahkan bisa mencapai 17 bungkus saja termasuk juga dengan pedagang lainnya.

“Tetangga saya yang berjualan nasi kuning pun paling hanya laku 15 bungkus saja. Belum banyak masyarakat yang beraktivitas di luar rumah sebab kasus Covid-19 meningkat dan ada pemberlakukan PPKM Level IV,” ucapnya.

Maria menambahkan, penjualan kuliner lain pun masih belum banyak laku terjual sehingga banyak penjual yang mengurangi porsi dagangan untuk sementara waktu.

Hal senada juga disampaikan pemilik kedai kopi Mokblek, Elisia Digma Dari, yang mengaku menutup sementara kedai kopi miliknya akibat sepinya pembeli selama pemberlakuan PPKM Level IV.

Elis sapaannya menyebutkan, banyak pelanggan yang memilih membatasi kegiatan di luar rumah akibat meningkatnya kasus Covid-19 apalagi adanya pemberlakuan PPKM Level IV.

“Penjualan pun belum banyak. Paling dalam sehari hanya beberapa pengunjung saja sehingga saya memilih menjual berbagai sayuran dan buah-buahan serta memilih menutup kedai kopi,” ungkapnya.

Elis mengaku, tetap berjualan dan menawarkan dagangan ke teman dan kenalan dengan mengantarkan langsung meskipun keuntungan yang didapat tidak seberapa.

Kondisi pandemi Covid-19 juga membuatnya lebih giat bekerja, mengingat situasi ekonomi yang kian sulit di mana masyarakat di Kabupaten Sikka lebih banyak mendapatkan pemasukan dari sektor pertanian juga ikut terpukul.

“Penjualan komoditi perkebunan seperti kakao, kemiri, vanili, cengkeh dan lainnya mengalami penurunan harga sehingga banyak petani yang biasanya memiliki penghasilan lumayan besar membatasi pengeluaran,” terangnya.

Lihat juga...