Pentingnya Menjaga Kesehatan Mata Anak
Redaktur: Muhsin Efri Yanto
JAKARTA — Tatapan mata Rasya Alvian Syah (14) terfokus pada layar handphone yang dipegang tangannya. Dia sedang mengikuti proses belajar daring sekolah di tengah pandemi Covid-19 yang sudah hampir dua tahun dijalaninya.

Sesekali tangan kanan Rasya mengusap matanya, lalu memegang pundaknya dan memijatnya dengan pelan.
“Mata rada perih ini, pundak juga pegal. Tiap hari belajar daring, zoom dan google classroom silih berganti, kapan berakhirnya corona ini,” keluh Rasya, siswa kelas VIII SMPN 102, Jakarta Timur, saat ditemui di rumahnya usai belajar daring, Jumat (20/8/2021).
Nurohmah, ibu dari Rasya merasa khawatir dengan dampak belajar daring yang berkepanjangan bagi kesehatan mata anaknya.
Menurutnya, banyak orang tua yang terpaksa mengendurkan aturan penggunaan gadget demi kebutuhan pendidikan anaknya. Ini dilakukan karena kegiatan sekolah daring dengan bantuan internet, tentunya harus memakai gadget setiap harinya.
“Tadinya, saya ketat melarang anak gunakan hp, ada batas waktu. Tapi karena sekolah daring, terpaksa dilonggarkan. Apalagi anak saya sudah SMP, durasi daringnya lebih banyak,” ujar Nurohmah kepada Cendana News ditemui di rumahnya.
Dokter spesialis mata dari Rumah Sakit Mata dan Klinik Mata JEC, dr. Martin Hertanto, SpM menyebutkan, fenomena pemakaian gadget dapat menjadi bahaya tersendiri bagi kesehatan mata. Karena banyak orang mengalami ketidaknyamanan setelah melihat layar handphone atau komputer maupun laptop dalam waktu yang lama.
“Selama pandemi Covid-19 ini, level ketidaknyamanan ini meningkat dengan bertambahnya melihat layar gadget yang berisiko terjadi ketegangan mata (digital eye strain),” ujar dr.Martin, kepada Cendana News saat dihubungi, Jumat (20/8/2021).
Menurutnya, keluhan yang sebelumnya disebut dengan sindrom penglihatan komputer (Computer Vision Syndrome/CVS) yang memiliki beberapa gejala.
Disebutkan, mata akan semakin terasa lelah, begitu juga pandangan menjadi kabur dan terasa ada sensasi terbakar, kering dan tidak nyaman serta mata memerah. Selain itu, ada efek samping yang dirasakan, yakni seperti pegal di bagian pundak, punggung, leher dan bahkan sakit kepala dan merasa mata mudah lelah.
“Keluhan yang dirasakan mata terasa kering dan penglihatan mudah terganggu. Ini karena anak-anak terlalu fokus melihat layar gadget, hingga lupa matanya berkedip,” ujarnya.
Padahal, berkedip itu sangat diperlukan untuk menjaga kesehatan dan kelembaban mata dalam kegiatan keseharian.
Hal lain yang perlu diperhatikan, terkait paparan sinar biru dari gadget yang digunakan selama aktivitas, dapat berdampak negatif.
“Paparan sinar biru gadget itu berisiko menyebabkan kerusakan retina dalam jangka panjang yang bisa berpengaruh pada kesehatan mata anak,” ujarnya.
Dokter Martin mengingatkan, saat belajar daring, huruf juga harus mudah terbaca dari jarak cukup jauh. Adapun jarak yang disarankan adalah minimal tiga puluh sampai lima puluh centimeter dari jarak pandang mata ke gedget tersebut.
Dia pun menyarankan agar istirahatkan mata dari depan layar gadget secara rutin dilakukan setiap 20 menit dengan melihat suasana lain dengan jarak jauh ke luar rumah, misalnya.
“Istirahatkan mata dari gadget, dan bisa gunakan obat tetes jika dibutuhkan. Pengaturan waktu juga lebih baik diaplikasikan untuk menjaga kondisi mata anak,” ujarnya.
Sedangkan untuk melihat kondisi kesehatan mata anak, disarankan pula pemeriksaan ke dokter mata dilakukan setiap enam bulan sekali.
“Terpenting lagi, perlu diingat kalau anak-anak ini berbeda dengan orang dewasa, yakni tidak bisa mengontrol dirinya saat memakai gadget. Jadi masih butuh panduan dan teladan orang tuanya,” pungkasnya.