Mudah Perawatan, 13 Tahun Suwaji Beternak Tikus Putih

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MALANG – Sudah 13 tahun lamanya, Suwaji, warga jalan Sudimoro Gang 6, Kelurahan Mojolangu, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, beternak tikus putih. Selain karena menguntungkan dari segi ekonomi, juga mudah dalam pengembangbiakannya.

Suwaji mengawali budi daya tikus putih dengan tiga ekor tikus putih yang ia beli dari Yogyakarta.

“Awalnya saya hanya beli satu ekor jantan dan dua ekor betina. Kemudian diternak selama satu tahun hingga berkembang jumlahnya menjadi lebih dari 500 ekor tikus putih,” ujarnya kepada Cendana News, Senin (16/8/2021).

Suwaji menunjukkan tikus putih yang ia ternak tidak jauh dari rumahnya, Senin (16/8/2021). Foto: Agus Nurchaliq

Setelah melihat pasar yang cukup menjanjikan, Suwaji kemudian memutuskan untuk terus menekuni usaha beternak tikus putih. Tidak hanya ratusan, jumlah tikus putihnya kini berkembang sampai ribuan ekor yang ia tempatkan di kandang khusus tidak jauh dari rumahnya.

Disampaikan Suwaji, cara beternak tikus putih sebenarnya cukup mudah. Tinggal memasukkan 1 ekor jantan dan 3-5 ekor betina dalam satu wadah. Biarkan sampai terjadi perkawinan.

Menurutnya, cara membedakan tikus jantan dan tikus betina bisa dilihat dari jarak antara kemaluan dan anus. Pada tikus jantan, biasanya jarak antara kemaluan dan anus lebih jauh. Sedangkan pada tikus betina, antara kemaluan dan anus jaraknya lebih dekat.

“Rata-rata tikus yang siap dikawinkan berusia 4 bulan,” ucapnya.

Setelah terjadi proses perkawinan, tidak lama tikus betina akan bunting. Supaya indukan betina bisa beraktivitas dengan nyaman ketika bunting, maka pindahkan tikus betina ke wadah kosong lainnya.

“Tikus betina pada umumnya akan bunting selama 21 hari baru kemudian melahirkan. Pada pertama kali melahirkan, tikus betina biasanya akan melahirkan 5-7 ekor anak tikus. Tapi pada kelahiran kedua dan berikutnya, tikus betina bisa melahirkan lebih banyak anak lagi sekitar 15-17 ekor,” ungkapnya.

Anakan tikus putih yang baru lahir akan dirawat oleh induknya. Karenanya, jangan pisahkan anakan dengan indukan. Namun setelah anak tikus berusia 25-30 hari, barulah bisa dipisahkan dengan indukannya.

“Setelah berusia kurang lebih satu bulan, anak tikus sudah bisa dipisahkan dengan indukannya dan dipindahkan ke wadah khusus pembesaran anakan,” terangnya.

Menurut Suwaji, semua anak tikus nantinya akan mampu bertahan hidup jika bisa terpenuhi kebutuhan pakan dan minumnya. Tapi kalau kebutuhannya tidak tercukupi, maka anak tikus akan banyak yang mati. Apalagi tikus memiliki sifat kanibal.

“Sebenarnya tikus bisa diberikan pakan apa saja. Tapi tikus putih punya saya, biasanya diberikan campuran jagung dan BR pakan ayam,” akunya.

Campuran jagung dan BR tersebut diberikan agar perkembangan tikus lebih bagus dan cepat birahi. Sedangkan untuk minumnya, bisa dikasih air PDAM, air tanah maupun air sungai.

Disebutkan, ada tiga jenis tikus yang dibudidayakan oleh mantan atlet tinju ini yakni jenis tikus putih mencit, rat dan tikus Jepang.

Menurut Suwaji, jenis tikus putih mencit memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil. Sedangkan tikus putih rat, ukuran tubuhnya jauh lebih besar. Sementara, tikus Jepang, selain ukuran tubuhnya yang kecil, juga memiliki corak warna yang lebih bervariasi, tidak hanya putih.

“Harganya mulai Rp 2 ribu sampai Rp 75 ribu per ekor,” sebutnya.

Lebih lanjut disampaikan Suwaji, penyakit yang kerap menyerang tikus adalah penyakit kanker yang merupakan efek dari makanan instan yang terlalu sering diberikan kepada tikus.

Penyakit kanker ini biasanya dicirikan dengan munculnya benjolan yang jika dibiarkan akan meletus dan akan menyebabkan pembengkakan hingga mengakibatkan kematian.

“Kalau tikus yang terkena penyakit ini biasanya kita matikan. Atau kalau ada yang membutuhkan untuk penelitian ya kita kasihkan. Sedangkan kalau penyakit kudis, biasanya langsung kita beri obat semua baru bisa sembuh,” imbuhnya.

Sementara itu agar kotoran tikus yang dihasilkan tidak sampai mencemari lingkungan, Suwaji membuatkan lubang penampungan kotoran.

“Untuk kotorannya alhamdulillah tidak pernah membuangnya ke sungai. Jadi saya buatkan semacam lubang septic tank  yang sangat dalam untuk menampung kotoran tikus. Jadi kita buang kotoran tidak sembarangan agar tidak mencemari lingkungan,” pungkasnya.

Sementara itu Toni, pehobi reptil, mengaku, kerap membeli tikus putih pada Suwaji untuk pakan hewan peliharaannya.

“Seminggu sekali saya biasanya datang ke sini beli tikus putih untuk pakan ular. Di sini harga tikusnya lebih murah dari yang dijual di pasar burung,” akunya.

Lihat juga...