Manfaatkan Kayu Cengkih, Tebang Pohon yang Sudah Mati

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

YOGYAKARTA -Pohon cengkih selama ini dikenal sebagai salah satu komoditas perkebunan yang bernilai jual tinggi. Biji pohon cengkih yang biasa dimanfaatkan sebagai bahan utama industri rokok memiliki harga jual tinggi sehingga sangat menguntungkan petani.

Tak hanya itu, jika diolah menggunakan sistem pengolahan destilasi, daun pohon cengkih juga memiliki potensi ekonomi menggiurkan, yakni sebagai bahan baku pembuatan minyak atsiri, yang merupakan bahan utama industri parfum/aromaterapi maupun kosmetik.

Bahkan kini, pemanfaatan pohon cengkih tak hanya sebatas pada daun dan bijinya saja. Pasalnya sejak beberapa tahun terakhir, batang kayu pohon cengkeh, semakin banyak dicari karena telah menjadi primadona baru bahan baku industri mebel dan furnitur.

Sebuah rumah tinggal yang dibuat memakai bahan baku kayu cengkih nampak unik dan indah, Rabu (18/8/2021) – Foto: Jatmika H Kusmargana

“Saat ini harga jual kayu cengkih naik signifikan, karena banyak yang mencari. Kayu cengkih ini biasanya dimanfaatkan untuk pembuatan rumah tinggal, restoran atau kafe bergaya jadul dengan konsep kayu sebagai ornamennya,” ungkap salah seorang petani cengkih asal Dusun Palian, Ngargosari, Samigaluh, Kulonprogo, Kelik, Rabu (18/8/2021).

Kayu cengkih banyak dicari karena memiliki sejumlah kelebihan. Selain memiliki tampilan serta bentuk yang indah dan unik, kayu cengkih juga memiliki tingkat kekerasan yang cukup. Sehingga cenderung awet. Apalagi kayu cengkih dikenal memiliki kandungan minyak, yang membuatnya tahan lama serta antirayap.

“Memang kayu cengkih belum setenar kayu jati atau sonokeling. Tapi saat ini harganya mulai melambung. Walaupun tidak ada patokan, namun ada yang bisa menjual sampai Rp3 juta per meter kubik. Lebih mahal dibandingkan sengon,” ungkapnya.

Sayangnya, akibat tengah naik daun, tak sedikit warga maupun petani cengkih di kawasan Pegunungan Menoreh Kulonprogo, yang menebang pohon mereka untuk dijual kayunya. Meski bisa mendapatkan keuntungan cukup besar, namun di lain sisi, hal ini juga mengakibatkan penurunan jumlah produksi cengkih bagi petani dan bisa membahayakan bagi lingkungan.

Carik Desa Pagerharjo, Samigaluh, Kulonprogo, Setiyoko, mengakui, semakin menurunnya jumlah produksi cengkih yang dihasilkan petani hampir setiap tahun.

Carik Desa Pagerharjo Samigaluh Kulonprogo, Setiyoko, saat dijumpai Cendana News, Rabu (18/8/2021) – Foto: Jatmika H Kusmargana

Selain karena pengaruh cuaca, salah satu penyebab penurunan produksi cengkih petani juga terjadi akibat semakin menurunnya jumlah pohon cengkih yang ditanam petani itu sendiri.

“Saat ini pohon cengkih yang ditanam petani sudah jauh menurun. Tak sebanyak dulu. Selain diganti komoditas lain, ada juga petani yang memilih menebang pohon cengkih mereka untuk dijual kayunya. Karana saat ini sedang banyak dicari sehingga harganya cukup mahal,” ungkapnya.

Sebagai upaya mempertahankan keberadaan pohon cengkih di desanya, pihak pemerintah desa Pagerharjo sendiri berupaya mendorong warga khususnya petani cengkih agar hanya menebang pohon yang sudah tidak produktif atau pun mati. Sehingga diharapkan mereka bisa tetap memproduksi biji cengkih dan menjualnya sebagai tambahan penghasilan keluarga.

“Kita selalu mengimbau pada para petani, agar tidak sembarangan menebang pohon cengkih yang mereka miliki untuk dijual batang kayunya. Sayang sekali. Sebaiknya menebang pohon yang memang sudah mati atau tidak bisa produktif. Untuk kemudian menanam bibit pohon cengkih baru lagi sebagai regenerasi,” katanya.

Lihat juga...