Kebun Salak Condet Terpinggirkan Akibat Perubahan Lingkungan

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Di tengah kepadatan perumahan penduduk Jakarta Timur, rimbunnya kebun salak masih bisa dinikmati di wilayah Condet, tepatnya di Jalan Munggang RT 10 RW 04, Balekambang, Kramatjati, Jakarta Timur. Untuk menemukannya harus melalui jalan sempit yang hanya bisa dilewati pejalan kaki atau sepeda motor.

Abdul Khodir, perintis Komunitas Ciliwung yang juga merupakan tokoh masyarakat Condet saat ditemui Cendana News di Warung Kebun di Jalan Munggang RT 10 RW 04, Balekambang, Kramatjati, Jakarta Timur, Senin (16/7/2021). foto: Sri Sugiarti.

Puluhan pohon salak berdiri rindang di bantaran sungai Ciliwung itu. Dedurian penghias batang-batang pohon dengan palem-paleman terlihat berjajar, menjadi pelindung buah yang berkumpul dalam tandan. Kondisi kebun ini terlihat tidak terawat dengan baik, padahal dapat menjadi aset sektor pertanian masyarakat Jakarta yang bernilai ekonomis.

“Sangat miris, riwayat sejarah Condet sebagai daerah cagar budaya, ya karena pohon salak ini,” ujar Abdul Khodir, perintis Komunitas Ciliwung kepada Cendana News, Senin (16/7/2021).

Menurutnya, lahan di bantaran sungai Ciliwung ini menjadi salah satu peninggalan kejayaan salak Condet atau nama varietasnya salacca edulis cognita. Dengan perkembangan zaman, kini salak dengan sensasi rasa yang manis, sepet dan asam itu sulit ditemukan di pasaran. Padahal merupakan maskot DKI Jakarta.

“Panen salak sudah mengalami perubahan, yang disebabkan karena perubahan kualitas lingkungan, kualitas dan kuantitas air. Untuk menyiram, kita masih mengandalkan hujan,” ujar Abdul Khodir yang merupakan tokoh masyarakat Condet.

Memang menurutnya, untuk menyiram pohon salak itu bisa dilakukan dengan mengambil air dari sungai Ciliwung. Namun tentunya dibutuhkan peralatan dan biaya oprasional yang besar.

Dikatakan dia, lahan dipenuhi pohon salak ini merupakan tanah milik masyarakat asli Condet yang tidak digarap maksimal. Karena memang membutuhkan perawatan dengan biaya operasional. Sebaliknya, meskipun digarap maksimal, pasti akan berpikir seberapa nilai ekonomi yang dapat dicapai dari tanaman buah bersisik ini.

Sebagai putra Condet, Abdul Khodir bersama komunitas Ciliwung merasa sangat prihatin dengan kondisi kebun salak Condet yang tersisihkan. Kemudian mereka menggagas mendirikan Warung Kebon (Warbon), yang masih satu area dengan kebun salak di berada di bantaran sungai Ciliwung itu.

Warbon ini menurutnya, sebuah tempat untuk mengenalkan sejarah budaya Betawi, termasuk salak Condet. Di warung ini juga dijual berbagai makanan khas Betawi. Dia berharap warbon ini bisa menjadi penggerak pelestarian kebun salak Condet.

Rojak (30), salah satu warga Condet mengatakan, kebun salak kini tertutup di antara perumahan yang padat. Padahal dulu rimbun pohon kawasan Condet, bahkan tumbuh hingga di pinggiran jalan raya.

“Sekarang  kebunnya tertutup perumahan, tersisa di bantaran sungai Ciliwung ini. Tapi panennya juga tidak maksimal,” ujar Rojak, kepada Cendana News.

Dia mengaku dulu orang tuanya mempunyai kebun salak di belakang rumahnya. Namun kini telah dibangun rumah oleh pembeli kebun.

“Dulu, saya suka jualan salak hasil panen Babah (red-bapak) di pinggir jalan raya Condet bareng warga lainya. Kalau sekarang tinggal cerita, salak Condet rada langka,” ujarnya.

Dari pantauan Cendana News, terlihat anak-anak kecil mengunjungi kebun salak itu. Mereka berkeliling kebun itu, dan sesekali tangannya memegang buah salak yang menumpuk dalam tandan batang pohonnya.

“Ini buah salaknya banyak, tapi masih kecil. Kalau panen saya suka makan salak ini, rasanya manis asem,” ujar Alfarizi, seorang bocah yang merupakan warga Condet ini kepada Cendana News, Senin (16/7/2021).

Lihat juga...