Harga Mete dan Cengkih di Sikka Alami Kenaikan
Editor: Makmun Hidayat
MAUMERE — Harga jual mete di tingkat petani di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang biasanya berkisar antara Rp10 ribu hingga Rp15 ribu perlahan mulai mengalami kenaikan, termasuk juga harga cengkih yang sempat anjlok hingga kisaran Rp50 ribu per kilogram di masa pandemi Covid-19.
“Harga jual mete memang awal saat mulai berbuah di bulan Juni lalu harganya Rp10 ribu per kilogram tapi kini sudah naik hingga Rp15 ribu per kilogram,” kata Bernadus Brebo, petani di Desa Wairterang, Kecamatan Waigete, saat dihubungi, Selasa (10/8/2021).
Brebo sapaannya mengakui, harga jual mete yang belum dikupas kulitnya di toko-toko yang membeli hasil komoditi pertanian di Kota Maumere, ibu kota Kabupaten Sikka bisa mencapai Rp18 ribu per kilogramnya.
Dia menyebutkan, di tingkat petani yang biasa menjual ke papalele atau pedagang pengumpul yang biasa datang ke desa-desa, biasanya membeli dengan harga Rp15 ribu hingga Rp16 ribu per kilogramnya.

Lanjutnya, harga jual ini pun tidak pasti sebab terkadang mengalami kenaikan bahkan bisa-bisa menurun tergantung kepada harga jual di toko-toko di Maumere.
“Tapi kita bersyukur minimal harga jualnya mengalami kenaikan dibandingkan dengan sebelumnya yang hanya Rp10 ribu per kilogramnya. Dampak pandemi Corona ini membuat kami petani pun semakin kesulitan bila harga jual komoditi pun ikut turun,” ucapnya.
Brebo mengakui, hampir semua petani yang menggarap lahan Hutan Kemasyarakatan (HKm) di dalam kawasan hutan lindung Egon Ilimedo menanam mete karena buahnya bisa dijual.
Menurutnya, petani dilarang menebang pohon sehingga kecuali mengambil buahnya sehingga hanya menanam komoditi perkebunan seperti kelapa, mete, kakao dan kemiri.
“Kami dilarang tebang pohon karena kami bertani dan tinggal di dalam hutan lindung. Kami terpaksa hanya menanam padi dan jagung serta komoditi perkebunan yang hanya diambil buahnya saja untuk dijual,” ucapnya.
Sementara itu pembeli hasil komoditi perkebunan dari Kecamatan Mego, Lukas Lura mengakui harga jual cengkih di tingkat petani pun mengalami kenaikan dibandingkan dengan harga jual di tahun 2020 lalu.
Lukas mengatakan, harga jual di tingkat petani bisa mencapai Rp80 ribu hingga Rp85 ribu per kilogram dan kemungkinan akan mengalami kenaikan lagi tergantung dengan harga jual di toko-toko pembeli komoditi di Kota Maumere.
“Dulu harga jual cengkih bisa mencapai Rp100 ribu lebih di tingkat petani. Kalau sekarang di toko-toko pembeli komoditi perkebunan di Kota Maumere harga jual cengkeh mencapai Rp90 ribu per kilogramnya,” jelasnya.
Lukas mengaku menampung hasil komoditi dari petani di kecamatannya dan menjualnya kepada toko-toko di Kota Maumere sehingga dirinya bisa mendapatkan sedikit keuntungan.
Lanjutnya, pandemi Covid-19 membuat kehidupan petani di desa-desa pun terkena dampak karena harga jual komoditi perkebunan harganya sering tidak stabil bahkan anjlok karena hanya dijual kepada pembeli di Kota Maumere.
“Tidak ada pembeli dari luar daerah seperti dari Pulau Jawa yang datang langsung ke petani membeli hasil komoditi perkebunan dengan harga yang lumayan bagus.Untuk mete dan kakao memang ada perusahaan di Maumere yang membeli dengan harga bagus sesuai kualitas yang diinginkan,” ungkapnya.