Tukang Mebel Kayu ‘Banjir’ Order Buat Peti Mati
Editor: Makmun Hidayat
YOGYAKARTA — Bencana global pandemi Covid-19 yang berlangsung selama hampir 2 tahun terakhir, telah menimbulkan dampak ekonomi yang luar biasa bagi mayoritas masyarakat saat ini. Namun di balik semua itu, ada sebagian kecil masyarakat yang mendapat keuntungan ekonomi dalam jumlah besar di tengah pandemi Covid-19.
Selain pelaku usaha di bidang kesehatan, seperti rumah sakit, produsen obat, vaksin, vitamin, suplemen, masker, dan lain-lain, tak sedikit pelaku UKM yang turut kecipratan berkah pandemi Covid-19. Salah satunya adalah pada pengrajin mebel, yang kini banyak mendapatkan proyek pembuatan peti mati, seiring meningkatnya jumlah orang meninggal selama pandemi Covid-19.
Deni (30) warga Pandowan, Kedungdang, Temon, Kulon Progo adalah salah satu rakyat kecil di kalangan bawah yang ikut merasakan berkah pandemi Covid-19 tersebut. Di tengah sepinya orderan mebel dan kusen kayu selama ini, bapak tiga anak ini tiba-tiba mendapatkan orderan peti mati kayu dalam jumlah besar sejak 1 bulan terakhir.
“Sejak 1 bulan ini ada orderan peti mati untuk pemakaman jenazah Covid-19. Sehari saya bisa membuat 3-4 peti mati. Ya lumayan, bisa jadi pemasukan di tengah sepinya orderan mebel dan kusen kayu selama hampir 2 tahun ini,” katanya Selasa (27/7/2021).
Deni memang hanya lah seorang karyawan usaha mebel yang sehari-hari biasa membuat kusen pintu dan jendela untuk rumah tinggal. Namun selama beberapa tahun terakhir ini, usaha tempatnya bekerja itu ikut terdampak pandemi Covid-19. Tak banyak pelanggan yang memesan mebel. Usaha mebel tempatnya bekerja pun bisa dibilang mati suri.
“Saya termasuk beruntung karena masih bisa bekerja di sini. Satu teman lain harus di PHK karena selama pandemi ini tak banyak orderan yang masuk,” ungkap tukang kayu ini.
Beruntung di tengah kondisi kesulitan ekonomi itu, usaha mebel tempatnya bekerja belum lama ini mendapatkan orderan peti mati, dari tempat usaha mebel lain. Sehingga ia pun bisa mendapatkan pekerjaan dan penghasilan, dari hasil membuat peti mati kayu tersebut, untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.
“Karena harus memenuhi permintaan peti mati sebanyak 15 unit per hari, maka kita diminta membantu. Kalau dikerjakan sendiri jelas tidak sanggup. Makanya kita dapat lemparan orderan. Saya sendiri membuat peti mati dengan sistem borongan. Kayunya dari sini (usaha mebel tempatnya bekerja). Saya hanya bikin saja. Satu peti mati saya dapat upah Rp80 ribu. Dalam sehari saya sanggup membuat 3-4 unit peti mati,” katanya.
Setelah selesai dibuat, Deni biasanya akan langsung menyetorkan peti mati dari bahan kayu albasia tersebut ke tempat usaha yang memberinya orderan. Satu peti mati berukuran panjang 2 meter dan lebar 60 centimeter tersebut kemudian dijual ke konsumen dengan harga Rp800 ribu – 1 juta.
“Ya Alhamdulillah disyukuri, sekarang sehari bisa dapat pemasukan minimal Rp240 ribu dari membuat 3 unit peti mati. Bisa untuk mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari, serta menutup utang sebelum-sebelumnya selama pandemi,” pungkasnya.