Wisata Rohani Gereja Tua Sikka Sepi Pengunjung
Editor: Koko Triarko
MAUMERE – Gereja tua Sikka yang diresmikan pada 24 Desember 1899, merupakan salah satu destinasi wisata rohani di Desa Sikka, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Namun sejak pandemi Covid-19 melanda, gereja tua ini sepi pengunjung.
“Sejak pandemi Covid-19 melanda,tidak ada kunjungan wisatawan ke gereja tua Sikka,” kata Honorarius Quintus Ebang,warga Desa Sikka, Kecamatan Lela, saat dihubungi, Minggu (27/6/2021).
Intus, sapaannya, menyebutkan, sebelum pandemi Corona, dalam sehari selalu ada wisatawan domestik, bahkan wisatawan asing yang berkunjung ke gereja tua ini. Adanya kunjungan wisatawan menyebabkan para perempuan kelompok tenun memanfaatkannya dengan menjual kain tenun ikat di sebelah selatan gereja.
“Sejak tidak ada kunjugan wisatawan, penjualan kain tenun pun terkena dampak. Tidak ada lagi yang menjual kain tenun, karena paling yang datang hanya warga Kabupaten Sikka saja, sehingga tidak membeli kain tenun,” ucapnya.

Intus mengakui, gereja tua Sikka merupakan magnet bagi wisatawan berkunjung ke desanya, karena destinasi wisata rohani ini sudah terkenal ke berbagai penjuru dunia.
Sementara itu, sejarawan dan budayawan Sikka, Gregorius Tamela, menjelaskan, gereja itu dibangun pada Agustus 1897 dan diresmikan pada 24 Desember 1899.
Goris, sapaannya, mengatakan gereja itu dibangun menggunakan kayu jati yang dibawa kapal dari Pulau Jawa, dan tembok bagian dalam gereja dihiasi lukisan motif kain tenun Sikka.
“Dinding dilukis dengan motif kain tenun Kelang Wenda Kapa Wuang, yang bermakna keindahan bunga kapas yang sedang mekar dan harum semerbak,” ucapnya.
Goris mengatakan, dinding di bagian belakang altar dilukis dengan motif kain tenun Gabar Dama, yang bermakna pertalian yang kuat dan kokoh sebagai satu kesatuan yang utuh.
Ia menambahkan, gereja ini memiliki panjang 47 meter dan lebar 12 meter serta teras depan berukuran 2 x 2 meter. Ada 17 pasang tiang utama penyangga atap, sementara 17 pasang tiang lainnya sebagai penopang tembok semen pada bagian dinding.
“Gereja ini sudah mengalami renovasi sekitar empat kali dengan mengganti atap serta mengecat dan melukis ulang dinding gereja,” ungkapnya.